UPH Ingatkan Mahasiswa Baru, AI Tak Boleh Mengikis Nalar dan Panggilan Hidup

Pemanfaatan AI dapat mempercepat proses belajar, tetapi ketergantungan pada teknologi berisiko mengikis kemampuan mahasiswa untuk membaca, memahami, dan berpikir kritis. Peringatan ini disampaikan Universitas Pelita Harapan kepada mahasiswa baru dalam UPH Festival 2026 di Karawaci.

Executive Dean College of Emerging Sciences UPH Rizaldi Sistiabudi menekankan bahwa AI harus digunakan secara bertanggung jawab. Teknologi canggih itu tidak boleh mengambil alih kreativitas, daya nalar, serta relasi spiritual manusia.

Menurut Rizaldi, manusia perlu menyadari kodratnya sebagai Imago Dei ketika menggunakan teknologi. AI dapat menjadi persoalan apabila dipakai sebagai jalan pintas untuk menghindari proses belajar yang mendasar.

“AI adalah teknologi yang sangat canggih, tetapi jangan sampai kreasi dan critical thinking kita hilang,” ujar Rizaldi. Ia mencontohkan naskah doa yang diminta kepada ChatGPT tidak dapat menggantikan doa yang lahir dari hati dan persekutuan pribadi dengan Tuhan.

Ia mengingatkan bahwa teknologi dapat berubah menjadi berhala ketika manusia semakin bergantung dan melupakan cara belajar. Karena itu, penggunaan kecerdasan buatan perlu tetap disertai kemampuan bernalar dan kehidupan rohani yang terjaga.

Pendidikan dan Profesi sebagai Panggilan

Pesan mengenai AI menjadi bagian dari pembekalan yang lebih luas mengenai pendidikan, profesi, dan pelayanan kepada sesama. Mahasiswa diajak memandang masa studi bukan sekadar jalur memperoleh gelar, melainkan ruang menjalankan panggilan hidup melalui talenta masing-masing.

Pendeta Jimmy Pardede, Gembala Sidang Gereja Reformed Injili Indonesia Karawaci, menyampaikan bahwa pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari merupakan bagian integral dari panggilan Tuhan. Panggilan tersebut dijalankan dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan, hukum, sains, dan bisnis.

PembicaraBidangPokok Pesan
Caroline RiadyKesehatanMartabat pasien tetap melekat dalam sakit, disabilitas, dan kelemahan.
Velliana TanayaHukum dan keadilanKuasa harus dipakai untuk melayani dan melindungi, bukan mengeksploitasi.
Yohanes HalimSainsSains membantu memahami alam, tetapi tidak dapat menyelamatkan manusia.
Gracia Shinta S. UgutBisnisBisnis dapat menciptakan nilai, kesejahteraan, dan perbaikan komunitas.

Dalam sesi mengenai kedokteran, penderitaan, dan martabat manusia, CEO Siloam Hospitals Group Caroline Riady membahas kesehatan melalui kerangka ciptaan, kejatuhan, penebusan, dan pemulihan sempurna. Ia menegaskan bahwa sakit, disabilitas, dan kelemahan tidak menghapus nilai seseorang sebagai manusia.

“Setiap manusia memiliki martabat yang berasal dari Allah,” kata Caroline dalam keterangan tertulis pada 18 Agustus 2026. Menurutnya, pasien perlu diperlakukan sebagai pribadi yang layak dikasihi, dihormati, dan dilayani dengan belas kasih serta kebenaran.

Di bidang hukum, Executive Dean College of Arts and Social Sciences sekaligus Dekan Fakultas Hukum UPH Velliana Tanaya menekankan bahwa hak dan martabat manusia tidak ditentukan oleh kekayaan maupun status sosial. Ia mengingatkan bahwa kuasa tanpa tanggung jawab dapat melahirkan ketidakadilan.

Velliana menghubungkan integritas dengan tindakan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, seperti tidak menyontek, menghindari plagiarisme, menepati janji, dan menyatakan kebenaran. Gelar, pengetahuan, serta posisi kelak diharapkan dipakai untuk kebaikan bersama, bukan mengeksploitasi orang lain.

Rendah Hati dalam Memandang Sains dan Bisnis

Senior Pastor Christ Chapel Karawaci Yohanes Halim mengajak mahasiswa untuk rendah hati dalam memandang sains. Ia membedakan sains sebagai sarana memahami alam semesta dengan paham yang membatasi seluruh kebenaran hanya pada hal-hal ilmiah.

“Science bisa melakukan banyak hal, tetapi science tidak bisa menyelamatkan kita,” ujar Yohanes. Pesan tersebut menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana penting, tetapi bukan jawaban tunggal bagi seluruh persoalan manusia.

Executive Dean College of Business and Technology UPH Gracia Shinta S. Ugut juga menilai bisnis dapat menjadi sarana menciptakan nilai tambah serta menyelesaikan persoalan masyarakat. Uang, menurutnya, bukan sesuatu yang jahat, namun dapat menjadi masalah ketika berubah menjadi berhala dan keserakahan menjadi pusat hidup.

UPH Festival 2026 mengusung tema Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform. Hari kedua kegiatan berlangsung di Karawaci pada 14 Agustus 2026.

Detikcom melaporkan rangkaian pembekalan tersebut dirancang untuk membentuk calon pemimpin yang berintegritas, takut akan Tuhan, dan mampu memberi dampak positif bagi masyarakat. Melalui pembahasan lintas bidang, mahasiswa baru didorong menjadikan pengetahuan dan profesi sebagai cara melayani, melindungi, serta membawa kebaikan bagi komunitas.

Baca Juga