Perkiraan Israel menunjukkan persediaan rudal Iran justru meningkat menjadi sekitar 2.500 unit pada Februari 2026. Angka itu naik tajam dari kisaran 1.300 rudal pada Juni 2025, meski fasilitas militer Teheran berulang kali menjadi sasaran serangan.
Perkembangan tersebut mengejutkan kalangan pertahanan Israel karena sebelumnya kerusakan pada industri militer Iran diperkirakan akan menghambat pemulihan selama bertahun-tahun. Kini, kemampuan Teheran membangun kembali fasilitas dan mendahulukan produksi rudal kembali menjadi perhatian utama.
Perbedaan antara skala serangan dan laju pemulihan itu memperlihatkan masih adanya ketidakpastian dalam penilaian kemampuan persenjataan Iran pascaperang. Israel juga belum memiliki satu kesimpulan mengenai jumlah rudal jarak jauh Iran yang masih tersisa.
Sejumlah pejabat pertahanan Israel memperkirakan sisa rudal jarak jauh Iran berada di angka sekitar 500 unit. Penilaian lain menyebut jumlahnya dapat mencapai sekitar 1.000 unit.
Data Serangan dan Perkiraan Persediaan
| Periode | Perkembangan | Data yang disebut Israel |
|---|---|---|
| Oktober 2024 | Serangan terhadap target rudal dan industri militer Iran | 20 target penting diserang |
| Juni 2025 | Serangan lanjutan ke fasilitas rudal dan industri militer | Sekitar 100 target diserang |
| Februari 2026 | Estimasi persediaan rudal Iran | Sekitar 2.500 rudal |
Dalam perang sekitar 40 hari pada 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi yang lebih besar terhadap sasaran di Iran. Lebih dari 2.600 target yang berkaitan dengan rudal dan industri militer Iran dilaporkan diserang.
Secara kolektif, kedua negara disebut melakukan sekitar 30.000 serangan terhadap beragam sasaran di wilayah Iran. Pejabat IDF pada saat itu menyatakan hampir seluruh komponen industri militer Iran, baik fasilitas besar maupun kecil, mengalami kerusakan berat.
Namun, kerusakan luas tersebut tidak sepenuhnya menghentikan kemampuan produksi persenjataan Teheran. Pejabat pertahanan senior Israel kini mengakui Iran menemukan cara baru untuk memprioritaskan pemulihan kemampuan rudalnya.
Pemulihan itu berlangsung ketika sebagian wilayah dan infrastruktur Iran masih menghadapi dampak besar akibat serangan. Fokus terhadap produksi rudal menunjukkan sektor tersebut tetap dipandang Teheran sebagai prioritas pertahanan.
Akses Fasilitas Bawah Tanah Dibuka Kembali
The New York Times melaporkan Iran menggunakan buldoser untuk membuka kembali akses menuju fasilitas rudal bawah tanah yang sebelumnya tertutup akibat serangan Israel. Langkah itu menggambarkan upaya pemulihan fisik pada fasilitas yang sempat terhambat kerusakan.
Pembukaan akses ke lokasi bawah tanah menjadi penting karena memungkinkan kegiatan di fasilitas tersebut kembali dijalankan. Informasi itu juga memperkuat kekhawatiran Israel bahwa serangan terhadap infrastruktur tidak otomatis menghentikan kemampuan produksi dalam jangka panjang.
The Jerusalem Post menyatakan telah mengonfirmasi pernyataan sejumlah pejabat senior Iran mengenai produksi senjata baru yang kembali berjalan lebih cepat daripada perkiraan Israel. Penilaian tersebut menunjukkan fasilitas yang rusak masih dapat dipulihkan atau dioperasikan kembali dalam waktu relatif singkat.
Pasukan Pertahanan Israel atau IDF sebelumnya pernah membuat penilaian serupa setelah serangan terhadap target rudal balistik Iran pada Oktober 2024. Saat itu, Israel memperkirakan produksi rudal Iran akan tertunda setidaknya selama satu tahun.
Penilaian itu berubah pada awal 2025 ketika Israel menyimpulkan laju produksi rudal balistik Iran telah pulih. Kesimpulan tersebut mendorong percepatan rencana serangan lanjutan yang semula diperkirakan berlangsung pada akhir 2025 menjadi Juni pada tahun yang sama.
Pada serangan Juni 2025, IDF menyatakan telah menemukan cara untuk menghambat produksi rudal Iran selama beberapa tahun. Akan tetapi, perkiraan persediaan pada Februari 2026 memperlihatkan jumlah rudal Iran malah meningkat dibandingkan posisi pada Juni 2025.
Kesenjangan antara estimasi awal dan perkembangan terbaru menjadi tantangan bagi Israel dalam mengukur ancaman dari rudal balistik Iran. Pemulihan produksi serta pembukaan kembali akses ke fasilitas yang rusak membuat kemampuan persenjataan Teheran kembali memperoleh perhatian serius.






