Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan anggaran hingga Rp15 miliar untuk menata kawasan depan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu di Kota Bandung. Hasil revitalisasi selama sekitar empat bulan itu kini membuka ruang publik terpadu bernama Pasanggrahan Pancarasa.
Perubahan kawasan tidak hanya mencakup lanskap, tetapi juga pola akses di sekitar pusat pemerintahan Jawa Barat. Jalan Diponegoro kini menyatu dengan area Gedung Sate dan Gasibu, sementara jalan baru dibangun mengelilingi lapangan.
| Bagian Penataan | Keterangan |
|---|---|
| Waktu pengerjaan | Pertengahan April hingga pertengahan Agustus 2026 |
| Anggaran | Hingga Rp15 miliar |
| Perubahan utama | Halaman Gedung Sate disatukan dengan Lapangan Gasibu |
| Akses kawasan | Jalan Diponegoro menyatu dengan kawasan Gedung Sate dan Gasibu |
Penataan tersebut secara resmi dibuka untuk masyarakat pada Senin, 17 Agustus 2026. Kawasan yang sebelumnya dipisahkan oleh pola jalan kini dirancang sebagai ruang bersama yang lebih terhubung.
Pembangunan jalan baru di sekitar Gasibu turut berdampak terhadap sejumlah pohon di kawasan itu. Penataan diarahkan untuk membentuk area publik yang menghubungkan halaman Gedung Sate dengan lapangan di depannya.
Filosofi Tempat Berkumpul dan Lima Indra
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan nama Pasanggrahan Pancarasa mengandung pesan tentang kehidupan bermasyarakat. Pasanggrahan dimaknai sebagai tempat berkumpul, sedangkan pancarasa merujuk pada lima indra manusia.
Menurut Dedi, filosofi itu mengajak masyarakat menggunakan setiap indra secara baik dalam ruang bersama. Pesan tersebut disampaikan bersamaan dengan pembukaan kawasan publik yang baru ditata itu.
“Pasanggrahan itu tempat berkumpul. Pancarasa artinya kita punya lima rasa: punya mata harus melihat, punya telinga mendengar, hidung menghisap, lidah berucap, dan punya hati harus ikhlas,” ujar Dedi di Gedung Sate Bandung.
Nama baru itu menandai penyatuan fungsi halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu sebagai ruang terbuka hijau bagi masyarakat. Kawasan tersebut diharapkan bukan sekadar menjadi perubahan tampilan di pusat Kota Bandung.
Prasasti Dipindahkan ke Belakang Gedung
Revitalisasi juga mengubah letak Prasasti Sapta Taruna yang sebelumnya berada di tengah halaman depan Gedung Sate. Prasasti tersebut merupakan salah satu simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum.
Kini Prasasti Sapta Taruna ditempatkan di bagian belakang Gedung Sate, dekat area parkir dan pintu masuk Museum Gedung Sate. Pemindahan ini menjadi bagian dari penyesuaian tata ruang setelah halaman depan terintegrasi dengan Gasibu.
Dedi menekankan pembenahan kawasan tidak dapat hanya ditopang oleh perubahan sikap pejabat dan birokrasi. Ia meminta masyarakat ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan serta fasilitas yang telah dibangun.
VIVA.co.id melaporkan, Dedi menyoroti endapan sampah di salah satu saluran air di depan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat di Bandung. Sampah di saluran tersebut disebut baru diangkat setelah menumpuk selama 32 tahun.
Ia menilai persoalan itu menunjukkan pengelolaan lingkungan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Perilaku warga, termasuk pedagang di sekitar saluran air, turut memengaruhi kondisi lingkungan perkotaan.
“Yang harus diperbaiki itu bukan hanya mentalitas pejabat, rakyat juga harus diperbaiki,” tutur Dedi. Ia menyebut saluran itu digunakan pedagang, sementara sampah di dalamnya tidak diperhatikan hingga menumpuk.
Pembukaan Pasanggrahan Pancarasa menambah ruang publik di pusat Bandung yang dapat dimanfaatkan warga. Namun, keberlanjutan manfaat kawasan ini bergantung pada kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan dan fasilitasnya.






