Panjang hari di Bumi bertambah rata-rata sekitar 2,4 milidetik setiap abad. Perubahan yang hampir tidak terasa ini berkaitan dengan Bulan yang perlahan menjauh sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun.
Dua perubahan tersebut lahir dari interaksi gravitasi yang terus berlangsung antara Bumi dan Bulan. Dalam rentang waktu sangat panjang, proses itu juga dapat mengubah peluang terjadinya gerhana Matahari total.
Energi Rotasi Berpindah ke Orbit Bulan
Bumi berputar lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan Bulan untuk mengelilinginya. Perbedaan gerak itu memicu interaksi pasang surut yang secara perlahan memindahkan energi dari sistem rotasi Bumi ke orbit Bulan.
Energi tersebut membuat orbit Bulan melebar dan menjadikan jaraknya dari Bumi terus bertambah. Pada saat yang sama, gesekan pasang surut menyebabkan putaran Bumi melambat sedikit demi sedikit.
Perlambatan ini menjelaskan mengapa satu hari di Bumi memanjang secara bertahap. Efeknya kecil dalam satu abad, tetapi menjadi penting untuk memahami perkembangan sistem Bumi-Bulan selama miliaran tahun.
| Aspek | Nilai | Perubahan Jangka Panjang |
|---|---|---|
| Jarak Bulan | Sekitar 384.400 km | Bertambah sekitar 3,8 cm per tahun |
| Panjang hari | Rotasi Bumi melambat | Bertambah 2,4 milidetik per abad |
| Pasang surut | Dipengaruhi gravitasi Bulan | Berperan dalam perpindahan energi |
Pengukuran Laser Memastikan Perubahan Orbit
Jarak rata-rata Bumi dan Bulan saat ini sekitar 384.400 kilometer. Jarak yang sangat lebar itu tetap dapat diukur secara teliti melalui Lunar Laser Ranging atau LLR.
Metode LLR menggunakan reflektor di permukaan Bulan yang dipasang sejak misi Apollo. Sinar laser dari Bumi dipantulkan oleh reflektor tersebut, kemudian waktu perjalanan pulangnya dipakai untuk menghitung jarak Bumi-Bulan.
Pengukuran itu menunjukkan Bulan menjauh sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun. Data LLR memperkuat penjelasan bahwa pelebaran orbit memang sedang berlangsung, bukan sekadar dugaan dari perhitungan gravitasi.
Jarak Bumi-Bulan saat ini sedemikian besar hingga sekitar 30 planet seukuran Bumi dapat ditempatkan di antara keduanya. Walau terpisah jauh, tarikan gravitasi Bulan masih cukup kuat untuk membentuk pasang surut laut di Bumi.
Pasang Surut Tidak Selalu Sama
Tarikan Bulan membentuk tonjolan pasang surut pada air laut. Gesekan yang muncul dalam proses itu menjadi bagian penting dari mekanisme yang memperlambat rotasi Bumi.
NASA menjelaskan bahwa pasang surut akan lebih besar ketika Bulan berada lebih dekat ke Bumi. Karena itu, posisi Bulan pada masa lalu berkaitan dengan kondisi pasang surut yang lebih kuat dibandingkan saat ini.
Sistem Bumi dan Bulan tidak berada dalam keadaan yang sepenuhnya tetap. Jarak orbit, kecepatan putaran Bumi, serta pengaruh pasang surut terus mengalami perubahan secara perlahan.
Dampak bagi Gerhana Matahari Total
Konsekuensi lain dari orbit Bulan yang melebar tampak pada ukuran Bulan di langit. Semakin jauh posisinya dari Bumi, semakin kecil pula ukuran tampak Bulan ketika dilihat dari permukaan planet.
Gerhana Matahari total hanya dapat terjadi jika Bulan tampak cukup besar untuk menutupi seluruh piringan Matahari. NASA menyebut bahwa pada masa yang sangat jauh di masa depan, Bulan tidak lagi cukup besar secara tampak untuk menghasilkan gerhana total.
Perubahan tersebut tidak menjadi ancaman bagi kehidupan manusia saat ini karena berlangsung sangat lambat. Namun, hubungan antara hari yang memanjang, pasang surut, dan gerhana menunjukkan bahwa dinamika Bumi-Bulan masih terus berjalan.






