MoM-BH-1 muncul sebagai titik cahaya merah yang sangat terang di alam semesta awal, tetapi pola spektrumnya tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh debu kosmik. Pengamatan JWST memunculkan kemungkinan bahwa cahaya tersebut berasal dari lubang hitam yang dibungkus gas hidrogen padat.
Objek ini penting karena mungkin terkait dengan misteri little red dots, sumber kecil kemerahan yang kerap terlihat dalam citra JWST. Banyaknya objek serupa di kosmos awal, serta kelangkaannya pada alam semesta saat ini, membuat asal-usulnya masih menjadi perdebatan.
Bukan sekadar galaksi merah
MoM-BH-1 ditemukan dalam survei Mirage or Miracle atau MoM yang mencari galaksi pada periode awal sejarah alam semesta. Cahaya yang ditangkap berasal dari masa ketika alam semesta baru berusia beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang.
Pada masa itu, astronom berusaha memahami bagaimana galaksi dan lubang hitam besar dapat berkembang begitu cepat. Kehadiran objek yang sangat terang namun berwarna merah seperti MoM-BH-1 membuka kemungkinan adanya jenis sumber cahaya yang belum dipahami sepenuhnya.
Salah satu petunjuk utamanya adalah Balmer break, penurunan tajam intensitas cahaya pada panjang gelombang tertentu. Sinyal pada MoM-BH-1 disebut sebagai salah satu Balmer break paling ekstrem yang pernah ditemukan.
Mediaindonesia.com melaporkan bahwa spektrum MoM-BH-1 hampir tidak memperlihatkan unsur berat. Spektrumnya terutama didominasi hidrogen dan helium, yang sejalan dengan kondisi alam semesta muda sebelum unsur berat tersebar meluas.
Energi jauh di atas batas bintang biasa
Keunikan MoM-BH-1 bukan hanya terletak pada warnanya, melainkan juga pada energi yang dipancarkannya. Objek ini diperkirakan menghasilkan energi sekitar 100 miliar kali lebih besar daripada bintang yang diketahui bersinar melalui fusi nuklir.
Besarnya pancaran tersebut membuat penjelasan berupa bintang raksasa biasa menjadi sulit dipertahankan. Para peneliti kemudian mempertimbangkan model objek dengan lubang hitam sebagai sumber energi di bagian pusat.
Model itu menggambarkan lubang hitam yang dikelilingi selubung hidrogen sangat luas dan padat. Dari kejauhan, lapisan gas tersebut dapat tampak seperti fotosfer sebuah bintang berukuran besar.
| Komponen | Perkiraan pada MoM-BH-1 |
|---|---|
| Inti objek | Lubang hitam |
| Massa inti | Sekitar 100.000 kali massa Matahari |
| Selubung | Gas hidrogen padat |
| Jangkauan selubung | Diduga hingga skala tata surya |
Rohan Naidu dari Massachusetts Institute of Technology atau MIT memperkirakan lubang hitam di pusat MoM-BH-1 memiliki massa sekitar 100.000 kali massa Matahari. Selubung hidrogen yang menyelubunginya diduga membentang sampai ukuran sebanding skala tata surya.
Hipotesis bintang lubang hitam
Para peneliti menyebut bentuk hipotetis itu sebagai black hole star atau bintang lubang hitam. Nama tersebut merujuk pada tampilan luarnya yang menyerupai bintang, bukan pada penggolongan MoM-BH-1 sebagai bintang konvensional.
Simulasi yang dibuat tim memperlihatkan bahwa gas padat dapat menghasilkan tampilan seperti permukaan bintang. Sementara itu, energi objek diperkirakan tidak bersumber dari fusi nuklir, melainkan dari proses yang berkaitan dengan inti lubang hitamnya.
Jika sebagian little red dots memiliki susunan serupa, astronom dapat memperoleh penjelasan baru atas sejumlah sumber merah terang di alam semesta awal. Objek-objek itu mungkin tidak seluruhnya berupa galaksi muda ataupun bintang biasa.
Meski demikian, penafsiran terhadap MoM-BH-1 masih didasarkan pada data spektrum dan simulasi. Pengamatan lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah objek ini benar-benar merupakan kandidat bintang lubang hitam.






