Manchester City memulai era Enzo Maresca dengan kekalahan 0-3 dari Arsenal pada Community Shield, Minggu (16/8). Hasil tersebut langsung menempatkan The Citizens di bawah sorotan karena tim datang dengan ambisi merebut trofi, tetapi tampil jauh dari harapan.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk dalam laga pembuka. Pertandingan tersebut memperlihatkan bahwa City masih harus menemukan kembali konsistensi permainan, kekompakan antarpemain, serta keyakinan di bawah pelatih baru.
Arsenal tampil lebih efektif dan membuat Manchester City kesulitan mengembangkan permainan. City tidak mampu memberikan respons yang cukup untuk mengimbangi lawan, meski beberapa pemain sempat memperlihatkan aksi positif.
Jeremy Doku dan Semenyo menunjukkan momen permainan yang menjanjikan. Namun, kontribusi individual itu belum cukup mengubah jalannya laga maupun membuat struktur permainan City bekerja secara utuh.
Elliot Anderson juga disebut telah bekerja keras sepanjang pertandingan. Akan tetapi, ia belum sepenuhnya menyatu dengan permainan tim yang sedang memasuki fase pembentukan ulang.
Perhatian juga tertuju kepada Erling Haaland, yang dinilai belum bermain pada level terbaiknya. Kondisi penyerang tersebut memberi pengaruh besar karena City membutuhkan ketajamannya untuk mengubah dominasi permainan menjadi gol.
Tekanan untuk segera padu
Pat Nevin, pundit BBC dan mantan pemain Everton, menilai pendukung City perlu memahami keadaan yang sedang dihadapi tim. Menurutnya, masa awal bersama Maresca memang layak disebut sebagai periode transisi.
“Para penggemar Man City pasti menyadari, ini adalah masa transisi,” ujar Nevin. Ia menekankan bahwa City tidak datang ke Community Shield hanya untuk menjalani pertandingan tanpa sasaran.
“Menurut saya, Man City tidak datang hari ini sekadar untuk lari-lari santai. Mereka datang dengan ambisi memenangkan Community Shield, namun performa mereka jauh dari harapan untuk mewujudkannya,” sambungnya.
Penilaian tersebut memperlihatkan besarnya tuntutan yang langsung dihadapi Maresca. Ia tidak hanya ditargetkan menghasilkan kemenangan, tetapi juga harus menyatukan para pemain agar pola permainan City kembali stabil.
Warisan besar Pep Guardiola
Tugas itu menjadi berat karena Maresca mengambil alih tim yang sangat identik dengan Pep Guardiola. Selama satu dekade, Guardiola membangun standar tinggi di Manchester City dengan seluruh gelar utama, termasuk enam titel Liga Inggris dan Liga Champions.
Pergantian pelatih pada kondisi seperti ini tidak semata berkaitan dengan perubahan pendekatan taktik. City juga perlu membentuk kembali pola kerja, ikatan antarpemain, dan rasa percaya diri skuad setelah ditinggal sosok yang membangun fondasi kesuksesan klub.
Maresca sendiri bukan figur asing bagi lingkungan Manchester City. Ia pernah menjadi asisten Guardiola pada periode 2022-2023 sebelum melanjutkan karier sebagai manajer Leicester dan Chelsea.
Di Chelsea, Maresca memiliki catatan meraih UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub 2025. Namun, tantangan di City memiliki bobot berbeda karena ia menangani tim dengan ekspektasi tinggi serta sejarah keberhasilan yang panjang.
Persaingan Liga Inggris turut mempersempit ruang adaptasi bagi Manchester City. Arsenal, yang disebut sebagai juara bertahan, terus memperkuat skuadnya, sementara kompetisi juga menghadirkan sejumlah manajer baru.
Setiap perkembangan City pada awal musim akan menjadi ukuran terhadap kemampuan Maresca mengelola masa peralihan ini. “Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh City,” tutup Nevin.






