Penurunan peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada September memberi dorongan baru bagi yen Jepang. Mata uang tersebut menguat 0,2% ke sekitar 159,04 per dolar AS ketika pelaku pasar menyesuaikan posisi menjelang simposium Jackson Hole.
Menurut CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September turun menjadi 30,8% dari 52,2% sebelumnya. Perubahan hitungan itu terjadi setelah data inflasi dan penjualan ritel AS menunjukkan pelemahan.
Penyesuaian ekspektasi suku bunga ikut menekan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks dolar turun ke level terendah sejak awal Juni, sementara euro mencapai level tertinggi dalam dua bulan di sekitar US$1,1614 sebelum terakhir menguat 0,3%.
| Indikator Pasar | Pergerakan | Konteks |
|---|---|---|
| Yen Jepang | Menguat 0,2% ke sekitar 159,04 per dolar AS | Menjelang simposium Jackson Hole |
| Peluang kenaikan suku bunga September | Turun menjadi 30,8% dari 52,2% | Setelah data inflasi dan ritel AS melemah |
Pergerakan ini penting karena selisih imbal hasil antara AS dan Jepang masih memengaruhi arus dana global. Setiap perubahan persepsi terhadap arah kebijakan The Fed dapat memicu pergeseran cepat pada dolar AS, yen, dan mata uang lain.
Jackson Hole Menjadi Titik Pantau Pasar
Investor kini menunggu simposium The Fed di Jackson Hole yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Forum tersebut dipantau untuk memperoleh petunjuk mengenai langkah kebijakan moneter AS berikutnya.
Meski peluang kenaikan suku bunga pada September berkurang, pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan pengetatan hingga akhir tahun. Thomas Simons, Kepala Ekonom AS Jefferies, mengatakan masih ada sejumlah ketidakpastian dalam data ekonomi.
“Masih terdapat cukup banyak kejanggalan dalam data untuk membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun,” kata Simons. Pernyataan pejabat bank sentral AS dan rilis data ekonomi berikutnya karena itu tetap berpotensi mengubah arah pasar valuta asing.
Insentif Carry Trade Belum Hilang
Penguatan yen terjadi setelah intervensi valuta asing mengubah arah pergerakan mata uang Jepang tersebut. Namun, langkah intervensi dinilai belum menghapus dasar yang menopang strategi carry trade.
Carry trade merupakan strategi meminjam dana dalam mata uang dengan bunga rendah, seperti yen, lalu menempatkannya pada aset yang menawarkan hasil lebih tinggi. Selisih suku bunga membuat kebijakan AS tetap menjadi faktor yang sangat menentukan bagi posisi yen.
Matthew Tuttle, CEO Tuttle Capital Management, menilai intervensi hanya memengaruhi jalur pergerakan mata uang. “Intervensi mengubah jalurnya. Namun, intervensi tersebut tidak menghilangkan insentif suku bunga yang mendukung carry trade,” ujarnya.
Yen masih berada tidak jauh dari level terlemahnya dalam empat dekade yang tercatat pada akhir Juli. Pada periode itu, Jepang dan AS melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam pelemahan mata uang Jepang.
Penguatan terbaru juga muncul ketika pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal kedua lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut menegaskan bahwa pengaruh faktor eksternal, terutama perubahan ekspektasi suku bunga AS, masih besar terhadap pergerakan yen.
Dolar AS turut melemah terhadap yuan China hingga menyentuh posisi terendah sejak 2023. Pergerakan yuan terjadi di tengah perlambatan produksi industri serta penjualan ritel China pada Juli yang lebih rendah dari perkiraan.
Selain data ekonomi dan pernyataan The Fed, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Faktor-faktor tersebut dapat menjaga volatilitas pasar valuta asing tetap tinggi dalam periode menjelang Jackson Hole.






