Kontraksi penjualan ritel Amerika Serikat sebesar 0,6 persen pada Juli menjadi pukulan baru bagi dolar AS. Data itu berlawanan dengan perkiraan awal pasar yang mengharapkan pertumbuhan 0,1 persen.
Pada perdagangan Senin, 17 Agustus 2026, indeks dolar AS berjangka turun 0,1 persen ke 99,52, level terendah sejak pertengahan Juni. Pelemahan tersebut berlanjut setelah indeks ini ditutup turun 0,3 persen pada sesi sebelumnya.
Mata Uang Asia Mendapat Ruang Menguat
Tekanan terhadap dolar AS membuka peluang penguatan bagi sejumlah mata uang Asia serta kelompok negara berkembang. Won Korea Selatan naik 0,2 persen, sementara dolar Singapura menguat 0,1 persen.
Dolar Australia dan sejumlah mata uang Antipodean juga mencatat penguatan hingga 0,5 persen. Namun, pergerakan tidak seragam karena rupee India justru melemah setelah kebijakan bank sentral setempat.
| Mata uang | Pergerakan | Faktor utama |
|---|---|---|
| Won Korea Selatan | Menguat 0,2 persen | Terbantu pelemahan dolar AS |
| Dolar Singapura | Menguat 0,1 persen | Terbantu pelemahan dolar AS |
| Dolar Australia dan mata uang Antipodean | Menguat hingga 0,5 persen | Terbantu pelemahan dolar AS |
| Rupee India | Melemah 0,2 persen | Tertekan kebijakan Reserve Bank of India |
Reserve Bank of India memperpendek fasilitas swap valuta asing, yang kemudian membebani rupee sebesar 0,2 persen. Kontras ini menunjukkan bahwa faktor domestik tetap dapat menentukan arah mata uang, meski dolar sedang melemah secara luas.
Pasar Mengubah Perhitungan Suku Bunga
Data penjualan ritel yang mengecewakan menambah sinyal perlambatan dari sejumlah indikator ekonomi AS. Investor sebelumnya juga mencermati pelemahan pada penggajian nonpertanian serta inflasi konsumen dan produsen.
Rangkaian data tersebut menggeser ekspektasi terhadap langkah The Fed pada rapat September. Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas bank sentral AS mempertahankan suku bunga kini mencapai 70 persen.
Analis BNY menilai kondisi ekonomi AS dalam beberapa pekan terakhir telah menurunkan perkiraan pasar mengenai kenaikan suku bunga. Pasar saat ini menghitung kemungkinan kenaikan kurang dari satu kali kenaikan penuh hingga Desember.
Perubahan taruhan kebijakan moneter penting bagi pasar valuta asing karena tingkat suku bunga memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar. Ketika prospek kenaikan suku bunga menyusut, dukungan terhadap dolar AS pun melemah.
Imbal Hasil Obligasi Panjang Tetap Tinggi
Pelemahan dolar tidak serta-merta diikuti penurunan seluruh imbal hasil surat utang pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury bertenor panjang masih bertahan tinggi di tengah kekhawatiran pasar mengenai kredibilitas The Fed.
“Yield pada obligasi US Treasury bertenor panjang tetap tinggi, dengan sejumlah pengamat mengaitkan kenaikan yield tersebut dengan kekhawatiran mengenai kredibilitas (The Fed),” kata Analis BNY. Situasi ini memperlihatkan investor membedakan risiko arah suku bunga dengan risiko di pasar obligasi jangka panjang.
Risiko Energi dan Geopolitik Masih Membayangi
Pasar global juga masih menghadapi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta hambatan arus kapal tanker di Selat Hormuz. Ketidakpastian tersebut menahan reli harga minyak mentah dunia di sekitar 90 dolar AS per barel.
Investor akan menantikan risalah rapat The Fed dan simposium Jackson Hole pada akhir Agustus untuk mencari sinyal kebijakan berikutnya. Respons pasar terhadap agenda tersebut, perkembangan ekonomi AS, dan risiko energi global akan menentukan arah dolar selanjutnya.






