Obat Menipis di Tengah Gempuran, Anak Autisme Gaza Hadapi Risiko Kejang

Penipisan obat psikiatri dan anti-kejang memperbesar ancaman bagi anak-anak autisme di Gaza yang hidup di tengah ledakan berulang. Pengurangan dosis secara paksa dapat memicu kejang, konvulsi akut, hingga dorongan menyakiti diri sendiri ketika dukungan medis juga sangat terbatas.

Situasi ini dialami Muneer al-Haj, 19 tahun, yang tinggal di Kamp Nuseirat. Ayahnya, Abu Muneer, mengatakan dosis obat putranya harus dipangkas menjadi setengah tablet sehari akibat blokade pasokan medis.

Sebelum perang, Muneer dikenal gemar menggambar serta mampu berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya dengan jelas. Kini, suara serangan udara dapat membuatnya berjalan mondar-mandir sambil mengepalkan tangan, berteriak histeris, dan mengalami kejang.

Abu Muneer menggambarkan ketakutan berkepanjangan telah menghilangkan ruang aman bagi putranya. Saat kecemasan Muneer tidak tertangani, pertanyaan-pertanyaan mendesak yang diajukannya dapat berkembang menjadi serangan berat.

Ledakan Mengubah Pemicu Menjadi Ancaman

Bagi anak autistik, lingkungan yang tenang dan dapat diprediksi menjadi bagian penting untuk merasa aman. Pengungsian mendadak, kehidupan di tenda, serta dentuman gempuran udara membuat rangsangan sulit diproses oleh mereka.

Kepala Program Autisme Organisasi Dolphins, Reem Jarour, menyebut rutinitas sebagai “katup pengaman neurologis” bagi anak autis. Menurutnya, perpindahan paksa telah mengubah pemicu lingkungan menjadi ancaman akut dan menyebabkan kemunduran besar pada kemampuan bahasa serta sosial.

Spesialis psikologi Diaa Abu Aoun menjelaskan ketakutan yang terus berlangsung dapat muncul sebagai insomnia, gangguan pencernaan, teriakan hebat, dan hilangnya kendali perilaku. Kondisi itu juga bisa menghambat respons anak terhadap pelatihan perilaku yang telah dijalani sebelumnya.

NamaLokasiDampak yang Dihadapi
Ahmed Hatem al-Mahabeel, 16 tahunKhan YounisSerangan panik, menutup telinga, bergoyang, dan membenturkan kepala saat ketakutan ekstrem.
Muneer al-Haj, 19 tahunKamp NuseiratKejang dan jeritan histeris saat serangan udara di tengah pasokan obat yang menipis.

Kemunduran Keterampilan yang Dibangun Bertahun-tahun

Ahmed Hatem al-Mahabeel di Khan Younis sebelumnya menunjukkan perkembangan dalam menghafal Al-Quran, menguasai bahasa Inggris, dan berolahraga mandiri. Ia juga terbiasa pergi sendiri ke masjid dan klub olahraga sebelum perang menghancurkan kamar tidur, sekolah, serta akademi sepak bolanya.

Ibunya, Umm Ahmed, mengatakan putranya sangat sensitif terhadap suara mendadak. “Ketika ledakan terdengar, dia mengalami serangan panik parah, menutup telinga, dan bergoyang,” ujarnya kepada Suara.com.

Dalam ketakutan yang sangat berat, Ahmed dilaporkan membenturkan kepalanya ke tanah. Kondisi fisiknya turut memburuk setelah kekurangan gizi dan defisiensi protein dikaitkan dengan pecahnya usus buntu serta komplikasi infeksi luka.

Tim medis kemudian melakukan operasi kedua untuk membersihkan infeksi tersebut. Seusai tindakan itu, Ahmed lebih banyak mengurung diri di dalam ruangan karena situasi keamanan di Gaza belum sepenuhnya pulih.

Terapi dan Peralatan Rehabilitasi Hilang

Kebutuhan anak autisme tidak hanya terhambat oleh kekurangan obat, tetapi juga hancurnya layanan pendidikan khusus dan rehabilitasi. Keluarga kini harus menghadapi kepanikan, kejang, serta perilaku menyakiti diri sendiri di tengah pengungsian tanpa pendampingan profesional yang memadai.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat tidak ada peralatan rehabilitasi yang diizinkan masuk ke Gaza sejak Mei 2024 hingga April tahun ini. Pada periode yang sama, Pusat Pendidikan Khusus Palestina dilaporkan hancur total dan mantan direkturnya, Arij Abu Sultan, gugur.

Konfrontasi bersenjata yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.380 orang di Gaza. Kerusakan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan layanan khusus memperpanjang kerentanan anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perawatan berkelanjutan serta lingkungan stabil.

Baca Juga