Menahan slot parkir masih dapat dipandang wajar apabila kendaraan yang akan menempatinya benar-benar sudah dekat dan hanya membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 detik untuk kembali ke lokasi. Namun, tindakan serupa mudah memicu konflik bila tempat kosong ditahan ketika mobil belum berada di area parkir.
Ketua Umum Indonesia Parking Association, Rio Octaviano, menilai persoalan tersebut lebih berkaitan dengan etika daripada larangan tertulis. Tidak ada pasal yang secara khusus mengatur tindakan menandai atau menjaga tempat parkir untuk kendaraan lain.
Waktu Tunggu Menjadi Pembeda
Menurut Rio, kondisi jalur parkir perlu menjadi pertimbangan sebelum seseorang meminta orang lain menunggu di sebuah lot. Kelonggaran dapat muncul ketika pengendara sudah berada di dekat ruang kosong, tetapi harus memberi jalan kepada kendaraan yang keluar.
Situasi itu dapat terjadi pada jalur satu arah yang sempit sehingga kendaraan harus memutar sebelum kembali ke posisi semula. Dalam keadaan seperti ini, waktu yang diperlukan untuk kembali ke lot diperkirakan hanya sekitar 20 hingga 30 detik.
| Situasi | Penilaian Etika | Pertimbangan |
|---|---|---|
| Mobil sudah dekat dan harus memutar di jalur satu arah sempit | Masih memungkinkan | Waktu tunggu sekitar 20-30 detik |
| Seseorang berdiri menjaga lot sambil menunggu mobil atau teman tiba | Kurang baik | Waktu tunggu dapat melebihi 1-2 menit |
Penilaian berubah ketika orang yang menjaga tempat parkir harus menunggu lebih dari satu atau dua menit. Dalam kondisi tersebut, ruang kosong sudah dikuasai sementara kendaraan yang akan memakainya belum masuk ke lot parkir.
Rio menegaskan bahwa kelonggaran hanya relevan untuk keadaan yang singkat dan dipengaruhi keterbatasan akses kendaraan. “Ada beberapa kondisi di mana tagging parkir ini masih memungkinkan,” kata Rio kepada oto.detik.com.
Keributan Berawal dari Tempat Kosong
Perdebatan mengenai kebiasaan menahan slot parkir mencuat setelah unggahan akun Threads @radityarusydi. Dalam peristiwa itu, petugas parkir disebut telah memberi informasi tentang tempat kosong, tetapi seorang perempuan sudah berdiri di lokasi tersebut untuk menandainya.
Mobil yang hendak memakai ruang itu belum tiba ketika tempat parkir dijaga. Pemilik unggahan memilih mengalah, tetapi perselisihan berlanjut ketika pasangan yang melakukan penandaan berada di area parkir.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena disebut berujung pada insiden buka baju. Kejadian itu kembali menyoroti batas antara meminta waktu singkat untuk memutar kendaraan dan menahan tempat bagi mobil yang masih jauh.
Hindari Friksi di Area Bersama
Area parkir merupakan ruang bersama sehingga pengguna perlu memperhatikan dampak tindakannya terhadap kendaraan lain yang juga mencari tempat. Menahan satu ruang tanpa kepastian waktu kedatangan mobil dapat menimbulkan salah paham dan memperpanjang antrean pencarian parkir.
Rio menilai tindakan yang berpotensi memicu ketegangan sebaiknya tidak diteruskan, meskipun tidak ada aturan tertulis yang melarangnya. “Kalau misalnya memang ada kejadian yang memang berpotensi menimbulkan friksi, lebih baik dihindari,” ujarnya.
Karena itu, etika parkir tidak hanya ditentukan oleh siapa yang pertama kali melihat ruang kosong. Posisi kendaraan, kondisi jalur, durasi tunggu, serta cara berkomunikasi menjadi pertimbangan penting agar penggunaan slot parkir tidak berujung pertengkaran.






