Rupiah menutup perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, di level Rp 17.862 per dolar AS. Nilai tukar tersebut melemah 64 poin atau 0,36% dari penutupan sebelumnya.
Tekanan terhadap mata uang domestik terjadi ketika harga minyak mentah bergerak di atas US$ 83 per barel. Kondisi ini menjadi perhatian karena pembayaran impor energi memerlukan dolar AS dan dapat menambah kebutuhan devisa.
Level Penutupan Rupiah dan Posisi Utang
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.798 per dolar AS. Pelemahan terbaru membawa kurs kembali lebih rendah di tengah perhatian pasar terhadap faktor domestik dan perkembangan energi global.
| Indikator | Posisi | Perubahan |
|---|---|---|
| Nilai tukar rupiah | Rp 17.862 per dolar AS | Turun 64 poin atau 0,36% |
| Utang luar negeri Indonesia | US$ 453,4 miliar | Naik 4,4% secara tahunan |
Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 453,4 miliar, atau sekitar Rp 8.089,1 triliun. Posisi itu meningkat 4,4% secara tahunan dibandingkan data Mei 2026 sebesar US$ 444,4 miliar.
Kenaikan posisi utang tersebut menjadi salah satu konteks yang menyertai pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa. Pasar juga mencermati kebutuhan pembayaran dalam denominasi dolar AS, terutama untuk impor energi.
Risiko Energi dari Laut Merah hingga Selat Hormuz
Harga minyak mentah menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Kesepakatan itu sebelumnya berlaku sejak Juni 2026.
Perhatian pasar turut tertuju pada situasi keamanan di Laut Merah setelah kelompok Houthi Yaman menyerang kapal militer Arab Saudi dan kapal pengawal dengan rudal. Perkembangan tersebut membuat jalur pelayaran dan kepastian pasokan energi kembali diperhitungkan.
Iran dan Oman kemudian mengisyaratkan adanya pembicaraan mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz. Isyarat itu sedikit meredakan kekhawatiran pasar, meski belum menghasilkan kesepakatan resmi.
Gejolak di Laut Merah dan Selat Hormuz menjaga energi sebagai variabel penting bagi pelaku pasar. Harga minyak yang lebih tinggi dapat memperbesar beban devisa ketika kebutuhan impor dibayarkan menggunakan dolar AS.
Pasar Menunggu Arah Kebijakan The Fed
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai risiko inflasi energi masih membayangi pasar. Situasi tersebut membuat kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun belum sepenuhnya dikesampingkan.
“Risiko inflasi akibat energi yang terus berlanjut membuat pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga di akhir tahun ini,” ujar Ibrahim. Menurut dia, pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis pada Rabu.
Risalah FOMC dinantikan untuk memberi gambaran lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Kejelasan sikap bank sentral AS dinilai penting saat rupiah menghadapi peningkatan kebutuhan dolar dan kenaikan biaya energi.
Pergerakan rupiah berikutnya akan tetap dipengaruhi oleh respons pasar terhadap harga energi dan sinyal suku bunga AS. Di dalam negeri, posisi utang luar negeri serta kebutuhan pembayaran impor energi juga akan terus menjadi faktor yang diperhatikan.






