Keseruan lomba 17-an dapat berubah menjadi masalah kesehatan ketika peserta melakukan gerakan mendadak tanpa kesiapan fisik. Tarikan kuat, lari cepat, perubahan arah, hingga usaha menahan tubuh saat jatuh dapat memberi tekanan besar pada otot dan sendi.
Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan permainan yang terlihat berat atau ekstrem. Aktivitas sederhana dalam suasana perayaan juga dapat memicu cedera apabila dilakukan secara spontan, tanpa pemanasan, atau di permukaan yang licin.
Gerakan eksplosif meningkatkan risiko
Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Mayapada Hospital, dr Oryza Satria, SpOT(K), menjelaskan bahwa cedera saat lomba 17-an sering berhubungan dengan gerakan eksplosif. Gerakan seperti menarik, berlari, menahan beban tubuh, serta berganti arah secara tiba-tiba membuat tubuh menerima beban yang tidak biasa.
Kondisi menjadi lebih berisiko saat peserta terpeleset atau jatuh. Benturan pada tubuh dan posisi tangan yang keliru ketika mencoba menahan badan dapat menyebabkan keluhan pada pergelangan tangan, lengan, maupun kepala.
Menurut dr Oryza, persoalan utama tidak selalu terletak pada jenis lombanya. Tubuh dapat lebih rentan mengalami masalah ketika aktivitas yang jarang dilakukan sehari-hari dilakukan secara mendadak.
“Menariknya, masalahnya sering bukan karena lombanya ekstrem, tetapi karena pesertanya melakukan aktivitas eksplosif tanpa persiapan fisik dan pemanasan yang memadai,” kata dr Oryza kepada health.detik.com. Pernyataan itu menempatkan kesiapan peserta sebagai faktor penting sebelum mengikuti permainan yang membutuhkan tenaga, kecepatan, dan keseimbangan.
Keluhan ringan paling sering terjadi
Cedera ringan merupakan keluhan yang paling umum dialami peserta setelah mengikuti perlombaan. Kondisi ini dapat muncul dalam bentuk lecet, memar, keseleo, strain otot, atau nyeri yang terasa setelah aktivitas fisik selesai.
Meski sering dianggap tidak berbahaya, rasa sakit dan ketidaknyamanan tetap perlu diperhatikan. Peserta sebaiknya tidak memaksakan diri untuk melanjutkan permainan apabila tubuh mulai memberi sinyal nyeri.
| Kelompok Cedera | Contoh Keluhan atau Cedera |
|---|---|
| Cedera ringan | Lecet, memar, keseleo, strain otot, dan nyeri setelah aktivitas |
| Cedera lebih serius | Dislokasi bahu, patah tulang pergelangan tangan atau lengan, cedera ligamen, dan cedera kepala akibat jatuh |
Jatuh dan tarikan kuat perlu diwaspadai
Risiko cedera yang lebih serius memang tidak selalu terjadi dalam setiap perlombaan. Namun, jatuh dapat meningkatkan kemungkinan cedera kepala, sedangkan benturan keras dapat berhubungan dengan patah tulang pada pergelangan tangan atau lengan.
Tarik-menarik yang kuat juga dapat memberi tekanan pada bahu dan ligamen. Gerakan yang tidak terkendali berpotensi menyebabkan dislokasi bahu atau gangguan pada jaringan penyangga sendi.
Lomba pukul bantal, permainan tarik-menarik, dan kegiatan lain yang memancing gerak spontan perlu diikuti dengan perhatian terhadap area permainan. Permukaan licin dan ruang yang tidak aman dapat memperbesar kemungkinan peserta kehilangan keseimbangan.
Pemanasan menjadi langkah pencegahan
Persiapan fisik dan pemanasan yang memadai menjadi langkah penting sebelum peserta mengikuti perlombaan. Langkah ini relevan terutama bagi kegiatan yang mengandalkan gerakan cepat, tenaga besar, atau kemampuan menjaga keseimbangan tubuh.
Peserta juga perlu menyesuaikan keterlibatan dalam lomba dengan kondisi fisiknya. Semangat memeriahkan perayaan kemerdekaan dapat tetap dijaga tanpa mengabaikan rasa sakit, kelelahan, maupun ketidaknyamanan yang muncul selama permainan.
Dengan perhatian pada pemanasan, kondisi lapangan, dan batas kemampuan tubuh, risiko cedera dapat ditekan. Lomba Agustusan pun dapat tetap menjadi ruang kebersamaan tanpa membuat peserta menganggap remeh keselamatan fisik.






