Dari Bangkrut dan Cerai, Li Shuangyong Lari Maraton 372 Hari Tanpa Henti

Li Shuangyong mencetak rekor dengan menuntaskan jarak maraton selama 372 hari berturut-turut. Pelari asal China berusia 41 tahun itu berlari 42,195 kilometer setiap hari tanpa jeda dan tercatat dalam Guinness World Records.

Catatan tersebut melampaui rekor sebelumnya milik pelari Brasil, Hugo Farias. Farias membukukan 366 hari lari maraton beruntun pada 2023 di Xinjiang.

PelariRekor Maraton BeruntunKeterangan
Li Shuangyong372 hari42,195 km setiap hari
Hugo Farias366 hariRekor sebelumnya pada 2023 di Xinjiang

Pencapaian Li tidak dibangun melalui latihan di satu lintasan atau satu kota yang sama. Ia memulai upaya pemecahan rekornya dari Heze, kota kelahirannya di Shandong, lalu berkomitmen melewati 34 wilayah setingkat provinsi di China.

Perjalanan itu menuntut pola hidup yang sangat teratur karena lokasi larinya terus berubah. Hampir setiap hari, Li mengunjungi tempat baru demi menjaga target satu maraton dalam sehari.

Ritme Perjalanan yang Disiplin

Pada malam hari, Li berkendara menuju kota berikutnya dan bermalam di hotel. Pagi harinya, ia menyelesaikan lari maraton sebelum sarapan, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Jadwal tersebut menjadikan lari sebagai pusat dari aktivitas hariannya, bukan sekadar kegiatan olahraga. Di sela mobilitas antarkota, ia juga menjalankan rutinitas kebugaran yang terinspirasi anime Jepang One-Punch Man.

Jarak 42,195 kilometer per hari turut membawa tantangan fisik, terutama kapalan pada kaki yang menimbulkan rasa sakit. Saat masalah itu muncul, Li mendatangi toko perawatan kaki setempat sebelum meneruskan perjalanannya.

Untuk menghadapi kelelahan, ia mengandalkan dua botol teh es berukuran satu liter serta minuman elektrolit. Langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya mempertahankan kondisi tubuh selama rangkaian lari panjang itu.

Kondisi Tubuh dan Target yang Terkendali

Pemeriksaan medis terbaru sempat menunjukkan kadar kreatin Li sedikit meningkat. Namun, ia menilai tubuhnya tetap seimbang karena menjaga kecepatan lari dalam ritme yang terkendali.

Rekor ini memiliki latar yang jauh lebih pribadi daripada sekadar ambisi olahraga. Sekitar lima tahun sebelumnya, Li menghadapi kebangkrutan bisnis dan perceraian, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post.

Setelah masa sulit itu, ia memilih menjadikan lari sebagai cara mengarahkan hidup ke jalur yang lebih positif. Kebiasaan berlari tersebut telah ia jalani selama lima tahun sebelum berhasil mencatat rekor maraton beruntun.

“Saya sudah berlari selama lima tahun sekarang, dan setiap orang biasa memiliki kesempatan untuk mencapai sesuatu yang hebat,” kata Li. Ia menilai pencapaian besar dapat dimulai dari keputusan menetapkan tujuan dan bertahan pada mimpi.

Bagi Li, ketekunan menjadi syarat utama untuk mengejar target yang tampak besar. “Selama Anda terus berusaha, Anda bisa menjadi versi diri Anda yang luar biasa,” ujarnya.

Baca Juga