8 Sinyal Cedera saat Lomba 17-an, Jangan Korbankan Tubuh demi Menang

Keinginan memenangkan lomba 17-an tidak boleh mengalahkan sinyal bahaya dari tubuh. Nyeri tajam, bunyi “pop”, hingga rasa hampir pingsan merupakan keluhan yang mengharuskan peserta segera berhenti.

Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Mayapada Hospital, dr Oryza Satria, SpOT(K), mengingatkan bahwa suasana perayaan dapat membuat peserta mengabaikan kondisi fisiknya. Padahal, memaksakan aktivitas ketika fungsi tubuh mulai terganggu dapat meningkatkan risiko cedera yang lebih serius.

8 Tanda yang Perlu Diwaspadai

Pegal setelah bergerak aktif tidak selalu menandakan cedera, terutama bila keluhan muncul setelah tubuh bekerja lebih keras dari biasanya. Namun, rasa sakit mendadak atau gangguan pada kekuatan, sendi, dan kemampuan bergerak perlu menjadi alasan untuk keluar dari perlombaan.

TandaGambaran KeluhanTindakan
Nyeri tajam mendadakSakit muncul tiba-tiba saat bergerakSegera berhenti
Rasa robek atau bunyi “pop”Terasa seperti jaringan tertarik atau robekSegera berhenti
Sendi tidak stabilSendi terasa tidak mantap saat digunakanSegera berhenti
Kehilangan kekuatanTenaga berkurang secara tiba-tibaSegera berhenti
Sulit menapak atau bergerak normalAnggota tubuh tidak berfungsi seperti biasaSegera berhenti
Kesemutan atau mati rasaRasa pada bagian tubuh berubah atau hilangSegera berhenti
PusingKepala terasa ringan atau tidak nyamanSegera berhenti
Sesak atau hampir pingsanGangguan napas atau rasa akan kehilangan kesadaranSegera berhenti

1. Nyeri Tajam Mendadak

Nyeri yang muncul tiba-tiba saat melakukan gerakan tidak sama dengan pegal biasa setelah beraktivitas. Peserta sebaiknya tidak melanjutkan lomba apabila rasa sakit tersebut terasa tajam atau tidak wajar.

2. Rasa Robek atau Bunyi “Pop”

Sensasi seperti jaringan tertarik, robek, atau bunyi “pop” dapat muncul ketika tubuh mengalami tarikan kuat secara mendadak. Kondisi ini perlu direspons dengan menghentikan aktivitas, bukan dengan mencoba kembali gerakan yang sama.

3. Sendi Terasa Tidak Stabil

Sendi yang terasa goyah atau tidak mantap ketika menahan beban merupakan tanda yang tidak boleh disepelekan. Melanjutkan permainan dalam keadaan tersebut dapat membuat anggota tubuh semakin sulit digunakan secara normal.

4. Kekuatan Berkurang Tiba-tiba

Penurunan tenaga secara mendadak dapat membuat peserta tidak lagi mampu menarik, menopang, atau menggerakkan anggota tubuh seperti sebelumnya. Kondisi ini menjadi alasan untuk berhenti dan tidak memaksakan diri mengejar kemenangan.

5. Sulit Menapak atau Bergerak Normal

Kesulitan menapak atau menggunakan tangan dan kaki secara normal menunjukkan adanya gangguan fungsi tubuh saat beraktivitas. Peserta perlu segera keluar dari perlombaan apabila gerakan dasar sudah tidak dapat dilakukan seperti biasa.

6. Kesemutan atau Mati Rasa

Perubahan rasa berupa kesemutan atau mati rasa juga termasuk sinyal yang perlu diperhatikan. Keluhan tersebut berbeda dari lelah biasa karena sensasi pada bagian tubuh dapat berkurang atau menghilang.

7. Pusing

Pusing saat lomba menandakan tubuh sedang tidak dalam kondisi yang aman untuk terus bergerak aktif. Peserta dianjurkan berhenti ketika kepala terasa ringan atau muncul rasa tidak nyaman yang mengganggu keseimbangan.

8. Sesak atau Hampir Pingsan

Gangguan napas dan rasa akan kehilangan kesadaran merupakan tanda yang paling tidak boleh dipaksakan. Peserta harus segera menghentikan kegiatan apabila mengalami sesak atau merasa hampir pingsan.

“Peserta sebaiknya langsung berhenti bila muncul nyeri tajam mendadak, rasa seperti robek atau bunyi ‘pop’, sendi terasa tidak stabil, kehilangan kekuatan secara tiba-tiba, tidak mampu menapak atau menggunakan anggota tubuh secara normal, kesemutan atau mati rasa, pusing, sesak, atau merasa hampir pingsan,” kata dr Oryza kepada detik.com. Ia menekankan bahwa keluhan tersebut perlu dibedakan dari pegal normal setelah tubuh beraktivitas.

Gerakan Mendadak Menambah Risiko

Balap karung, tarik tambang, panjat pinang, dan lomba beregu kerap melibatkan gerakan eksplosif serta tarikan yang terjadi mendadak. Permukaan licin dan risiko terjatuh dapat menambah kemungkinan benturan selama peserta bergerak cepat atau berebut posisi.

Lecet, memar, keseleo, strain otot, dan nyeri setelah aktivitas termasuk keluhan ringan yang dapat muncul dalam perlombaan. Namun, situasi tertentu juga dapat menyebabkan dislokasi bahu, patah tulang pada pergelangan tangan atau lengan, cedera ligamen, hingga cedera kepala akibat jatuh.

Tarik tambang menjadi salah satu kegiatan yang perlu diikuti dengan kewaspadaan karena melibatkan tarikan kuat secara tiba-tiba. Peserta juga perlu memantau perubahan kondisi tubuh ketika pertandingan berlangsung, bukan hanya setelah perlombaan selesai.

Perayaan kemerdekaan tetap dapat berlangsung meriah tanpa mengabaikan batas kemampuan fisik. Menghentikan diri saat tubuh memberi sinyal yang tidak wajar merupakan langkah penting untuk mencegah cedera bertambah berat.

Baca Juga