Obesitas dapat ditangani dan masyarakat tidak perlu menunggu sampai kondisi tersebut memicu penyakit lain untuk mencari pertolongan. Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan, penanganan perlu dimulai melalui pemeriksaan dan konsultasi yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang.
Perubahan berat badan serta ukuran perut dapat menjadi sinyal awal yang tidak sebaiknya dikesampingkan. Langkah sederhana seperti menimbang berat badan dan mengukur lingkar perut dapat membantu mengenali perubahan kondisi tubuh lebih dini.
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia Prof. Dr. dr. Em. Yunir, SpPD-KEMD, menyebut pakaian yang mulai terasa sempit dapat menjadi pengingat praktis untuk memeriksa kondisi tubuh. Pemeriksaan tersebut penting dilakukan sebelum muncul penyakit penyerta.
Ukuran Lingkar Perut yang Perlu Diperhatikan
Lingkar perut menjadi salah satu ukuran yang dapat diperhatikan bersama perubahan berat badan. Yunir menyampaikan batas ukuran berikut sebagai tanda yang perlu mendapat perhatian.
| Kelompok | Lingkar Perut yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|
| Laki-laki | 90 sentimeter |
| Perempuan | 80 sentimeter |
“Jadi yang penting adalah jangan menunggu sakit dulu,” ujar Yunir. Ia mendorong masyarakat untuk memeriksakan diri ketika melihat kenaikan berat badan atau perubahan ukuran perut.
Pemeriksaan awal tidak hanya bertujuan melihat angka pada timbangan. Tenaga kesehatan juga dapat menilai kemungkinan kondisi penyerta, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
Terapi Tidak Bisa Disamaratakan
Dante, yang juga Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia atau HISOBI, menekankan bahwa setiap kondisi obesitas membutuhkan pendekatan berbeda. Kondisi tubuh, kebutuhan, dan pilihan terapi pasien perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan penanganan.
“Jangan salah, tidak ada obesitas yang tidak bisa ditangani. Itu penting. Orang pasti bisa turun berat badannya,” kata Dante dalam konferensi pers kampanye “Berani Bicara Berat” di Jakarta.
Pilihan tata laksana obesitas saat ini mencakup pengaturan pola makan, terapi, dan obat. Namun, pemilihan langkah tersebut perlu dilakukan setelah pasien berkonsultasi dengan tenaga medis.
Dokter endokrinologi, dokter gizi klinik, dokter penyakit dalam, serta dokter lain yang terlatih dapat membantu menilai kebutuhan pasien secara menyeluruh. Penilaian itu diperlukan agar terapi yang dipilih tidak hanya berfokus pada satu cara penanganan.
Perubahan kebiasaan pun dapat berbeda pada setiap orang. Sebagian pasien mungkin perlu menyesuaikan menu harian, mengurangi konsumsi camilan, atau mengatur kembali kandungan makanan secara keseluruhan.
Pemeriksaan untuk Menjaga Kondisi Sehat
Dante mengingatkan bahwa masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap layanan kesehatan. Pemeriksaan sebaiknya dimanfaatkan untuk menjaga tubuh tetap sehat, bukan hanya ketika keluhan atau penyakit sudah muncul.
“Dulu kalau datang berobat hanya kalau sakit, sekarang datang berobat untuk tetap sehat,” ujar Dante. Menurut dia, dokter dapat menentukan pilihan obat maupun terapi yang tepat setelah melakukan konsultasi.
Masyarakat dapat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis atau CKG untuk mengetahui kondisi dasar kesehatan. Pemeriksaan dalam program tersebut dapat mencakup tekanan darah, gula darah, dan berat badan.
CKG juga mencakup pemeriksaan komplikasi yang berkaitan dengan kondisi berat badan. Bila ditemukan risiko tertentu, peserta dapat memperoleh penanganan sesuai alur program yang tersedia.
Pengenalan perubahan tubuh dan konsultasi profesional menjadi langkah awal dalam pengelolaan obesitas. Dengan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi individu, risiko komplikasi dapat diperhatikan tanpa menunggu penyakit datang lebih dahulu.






