Pabrik Motor Listrik Berkapasitas 2,511 Juta Unit, Penjualan 2025 Menurun

Industri kendaraan listrik roda dua dan tiga di Indonesia kini memiliki kapasitas produksi hingga 2,511 juta unit per tahun. Namun, penjualan motor listrik pada 2025 justru tercatat turun menjadi 55.059 unit, dibandingkan 77.078 unit pada tahun sebelumnya.

Kesenjangan antara kapasitas manufaktur dan penyerapan pasar menjadi tantangan utama pengembangan kendaraan listrik nasional. Pemerintah menilai pertumbuhan permintaan, utilisasi pabrik, serta penggunaan komponen lokal perlu diperkuat secara bersamaan.

Kapasitas Industri Sudah Besar

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyatakan Indonesia memiliki fondasi industri untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi. Pada segmen roda dua dan tiga, terdapat 69 perusahaan dengan nilai investasi sekitar Rp1,2 triliun.

Segmen IndustriJumlah PerusahaanKapasitas Produksi per Tahun
Kendaraan listrik roda dua dan tiga69 perusahaan2,511 juta unit
Kendaraan listrik roda empat14 perusahaan409.860 unit
Kendaraan komersial listrik10 perusahaan7.500 unit

Total investasi industri perakitan kendaraan listrik nasional tercatat sekitar Rp30,468 triliun. Agus menilai angka tersebut menunjukkan kesiapan basis manufaktur, meski pemakaian kapasitas produksi masih harus terus didorong.

Pengembangan pasar menjadi penting karena industri tidak hanya membutuhkan fasilitas produksi yang besar, tetapi juga permintaan yang konsisten. Pemerintah juga menempatkan pendalaman struktur industri dan penguasaan teknologi sebagai bagian dari arah pengembangan jangka panjang.

ALVA dan Gesits Disebut Masuk Insentif

Di tengah kebutuhan memperluas pasar, pemerintah masih mematangkan skema insentif kendaraan listrik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut anggaran kebijakan tersebut pada dasarnya telah tersedia dan mendapat persetujuan Presiden.

“Skemanya sedang dimatangkan, tapi kan tadi Pak Presiden sudah menyetujui. Anggarannya sebetulnya sudah ada,” ujar Airlangga setelah Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.

Airlangga secara spesifik menyebut ALVA dan Gesits sebagai produk yang mendapat insentif. “Untuk produknya, salah satunya Alva, salah duanya Gesits,” katanya, sementara rincian teknis skema belum dijelaskan lebih lanjut.

Penyebutan dua merek tersebut menempatkan produk dalam negeri dalam agenda perluasan pasar kendaraan listrik. Insentif pembelian sebelumnya juga telah menjadi salah satu pendorong pertumbuhan penjualan motor listrik di Indonesia.

Penjualan Sempat Melonjak, Lalu Turun pada 2025

Penjualan motor listrik meningkat dari 17.198 unit pada 2022 menjadi 62.409 unit pada 2023. Angka tersebut kembali naik menjadi 77.078 unit pada 2024 sebelum turun menjadi 55.059 unit pada 2025.

Program bantuan pembelian kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda dua pada 2023 dan 2024 melibatkan 22 industri serta 70 tipe atau model. Penyalurannya mencapai 11.532 unit pada 2023, lalu meningkat menjadi 62.541 unit pada 2024.

Kenaikan penyaluran bantuan dalam satu tahun mencapai sekitar 442 persen. Secara kumulatif, program tersebut telah menyalurkan bantuan pembelian kepada 74.073 unit kendaraan roda dua.

MoLiNas dan Dorongan Komponen Lokal

Agus mengaitkan penguatan ekosistem motor listrik nasional dengan peluncuran Motor Listrik Nasional atau MoLiNas di fasilitas produksi ALVA di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Presiden Prabowo Subianto meninjau proses produksi serta stan ekosistem kendaraan listrik dalam kegiatan tersebut.

Presiden kemudian menandatangani plakat produksi ALVA sebanyak 20 ribu unit. Pemerintah berharap MoLiNas menjadi momentum untuk membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu hingga hilir melalui peningkatan teknologi dan penggunaan komponen buatan dalam negeri.

Baca Juga