Iran disebut memperkuat kendali Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC atas militer reguler di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Teluk. Langkah itu dilaporkan berjalan bersamaan dengan persiapan kemungkinan konfrontasi yang lebih luas di kawasan.
Persiapan tersebut tidak hanya menyasar struktur komando di dalam negeri, tetapi juga jaringan mitra Iran di sejumlah titik strategis. Irak, Yaman, Lebanon, Laut Merah, hingga jalur pelayaran Teluk disebut masuk dalam perhitungan eskalasi berikutnya.
Jaringan Regional dan Risiko Jalur Energi
IRGC dilaporkan mengirim penasihat militer ke Irak, Yaman, dan Lebanon untuk menyusun rencana serangan lanjutan. Pengiriman rudal, senjata laut, serta peluncur drone ke kawasan Laut Merah juga disebut menjadi bagian dari koordinasi tersebut.
Ketegangan di laut menjadi perhatian karena menyangkut dua jalur pelayaran penting bagi perdagangan dan energi regional. Milisi Houthi di Yaman dilaporkan kembali menyerang kapal Arab Saudi serta menutup akses Selat Bab al-Mandeb.
Milisi di Irak juga disebut menyerang fasilitas minyak Saudi menggunakan drone. Rangkaian insiden itu memperbesar risiko gangguan terhadap infrastruktur energi dan lalu lintas kapal di kawasan.
Di Selat Hormuz, laporan penembakan kapal muncul setelah kesepakatan antara Washington dan Teheran ditandatangani. Padahal, pembukaan kembali jalur tersebut untuk lalu lintas kapal menjadi salah satu kewajiban Iran dalam kesepakatan itu.
| Langkah yang Dilaporkan | Area | Dampak yang Disebut |
|---|---|---|
| Penguatan kendali IRGC | Militer reguler Iran | Memperketat rantai komando |
| Peningkatan produksi rudal dan drone | Kapabilitas militer | Menambah kesiapan ofensif |
| Pengiriman penasihat dan persenjataan | Irak, Yaman, Lebanon, Laut Merah | Memperluas koordinasi konflik |
| Operasi kontra-intelijen | Dalam negeri Iran | Memperkuat pengawasan keamanan |
Kesepakatan Ekonomi Tidak Mengubah Kalkulasi
CNBC Indonesia melaporkan, kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Iran pada 17 Juni semula memuat sejumlah insentif ekonomi bagi Teheran. Insentif itu mencakup keringanan sanksi, peluang menjual minyak kembali, akses dana beku, serta potensi dana rekonstruksi hingga US$300 miliar.
Sebagai imbalannya, Iran diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz dan berunding secara serius mengenai program nuklirnya. Namun, kalangan garis keras di Teheran dilaporkan tidak memandang perundingan tersebut sebagai jaminan perdamaian yang pasti.
Sejumlah elite Iran disebut menilai kesepakatan itu dapat menjadi taktik AS dan Israel untuk meredakan tekanan terhadap ekonomi global sambil menyiapkan langkah lanjutan. Pandangan tersebut disebut memengaruhi penilaian bahwa konflik yang lebih besar masih mungkin terjadi.
Mohammad Hassan Sangtarash, analis pertahanan asal Teheran yang dekat dengan pemerintah Iran, menyebut terdapat pandangan luas bahwa perang sebenarnya belum benar-benar dimulai. Ia menggambarkan pendekatan Iran sebagai strategi “salami-slicing”, yaitu eskalasi bertahap dan terukur untuk melemahkan lawan sebelum konflik yang lebih besar.
Perombakan Komando dan Kekhawatiran Negara Teluk
Di dalam negeri, Iran disebut meningkatkan operasi kontra-intelijen sekaligus menaikkan produksi rudal dan drone dalam dua bulan terakhir. Veteran perang Iran-Irak juga dikabarkan ditempatkan pada posisi penting di struktur militer dan keamanan.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei disebut melakukan perombakan besar pada tubuh militer serta aparat keamanan. Sejumlah loyalis ditunjuk untuk memperketat komando dan mendorong pendekatan yang lebih ofensif terhadap negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Kekhawatiran negara kawasan meningkat setelah enam personel IRGC disebut menyusup ke sebuah pulau di Kuwait pada awal Mei. Opsi yang dilaporkan dipertimbangkan mencakup sabotase kabel internet bawah laut di Teluk Persia, upaya memicu kerusuhan politik di Kuwait dan Bahrain, hingga operasi darat ke wilayah Kuwait.
Tekanan terhadap pasukan AS juga disebut meningkat, termasuk laporan penembakan lima rudal balistik ke Yordania yang menewaskan sejumlah tentara Amerika. Di sisi lain, Trump dilaporkan memilih menahan diri sambil menunggu tekanan ekonomi dan blokade Angkatan Laut AS melemahkan posisi Teheran.
Mehdi Mohammadi, penasihat strategis perunding utama Iran, memperingatkan bahwa jalur damai saat ini dapat menjadi jeda sementara. “Bangsa Iran masih punya banyak urusan yang belum selesai dengan Trump. Iran siap menghadapi konfrontasi besar,” kata Mohammadi.






