Impor Timur Tengah Tersendat, India Kejar Produksi LPG 63.810 Ton per Hari

India menetapkan target maksimum produksi gas elpiji sebesar 63.810 ton per hari untuk memperkuat pasokan domestik. Kebijakan ini muncul ketika distribusi energi dari Timur Tengah terganggu akibat hambatan di Selat Hormuz.

Target tersebut mencakup perusahaan pengolahan minyak milik negara maupun swasta. Pemerintah India ingin memastikan kebutuhan rumah tangga dan pasar dalam negeri tetap terpenuhi saat risiko gangguan impor meningkat.

Reliance Industries mendapat porsi target besar, yakni 18.000 ton LPG per hari untuk pasar domestik. Kontribusi perusahaan ini menjadi salah satu penopang utama pencapaian sasaran produksi nasional.

Perusahaan atau kelompokTarget atau kontribusiPeran
Seluruh perusahaan terkait63.810 ton LPG per hariTarget maksimum produksi nasional
Reliance Industries18.000 ton LPG per hariPasokan untuk pasar domestik
ONGC, Oil India Ltd, dan Gail India LtdSekitar 10% dari target nasionalKontribusi gabungan yang diharapkan

Selain Reliance Industries, pemerintah mengharapkan ONGC, Oil India Ltd, dan Gail India Ltd menyumbang sekitar 10% dari target nasional. Ketiga perusahaan tersebut mencakup entitas eksplorasi migas milik negara serta perusahaan utilitas gas.

Ketentuan target produksi itu diterbitkan pemerintah federal India melalui perintah bertanggal 13 Agustus 2026. Beritasatu.com yang mengutip Reuters melaporkan aturan tersebut menetapkan sasaran nasional sekaligus kewajiban bagi sejumlah perusahaan energi.

Bukan Hanya Menambah Produksi

Kebijakan India tidak berhenti pada peningkatan volume produksi. Setiap perusahaan juga diwajibkan menyiapkan infrastruktur penyimpanan dan pengangkutan yang memadai bagi pasokan LPG.

Fasilitas tersebut dapat digunakan langsung oleh perusahaan maupun melalui jaringan kereta api dan truk tangki. Persyaratan itu diperlukan agar tambahan produksi dapat segera disalurkan ke wilayah yang membutuhkan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan LPG India bergantung pada dua hal yang berjalan bersamaan, yakni kapasitas produksi dan kelancaran distribusi. Produksi yang meningkat tanpa dukungan penyimpanan dan angkutan berisiko tidak sepenuhnya memperkuat pasokan di tingkat domestik.

Ketergantungan pada Timur Tengah

Gangguan di Selat Hormuz menjadi alasan penting di balik percepatan target produksi dalam negeri. Jalur itu sebelumnya sangat menentukan pasokan LPG India karena Timur Tengah menjadi sumber utama impor negara tersebut.

Sebelum perang AS-Israel dengan Iran mengganggu distribusi bahan bakar, sekitar 90% kebutuhan impor LPG India berasal dari Timur Tengah. Tingginya ketergantungan itu membuat hambatan pengiriman dari kawasan tersebut langsung meningkatkan risiko bagi pasokan domestik.

Blokade di Selat Hormuz telah menghambat distribusi energi sejak Maret. Kondisi itu mendorong India memperbesar kemampuan produksi lokal sekaligus membangun cadangan pasokan untuk menghadapi kemungkinan gangguan yang berlanjut.

Target Dievaluasi Setiap Enam Bulan

Pemerintah India berencana memperbarui sasaran produksi setiap Januari dan Juli. Penyesuaian akan mempertimbangkan tambahan produksi baru, termasuk kapasitas dari kilang yang telah beroperasi.

Mekanisme tersebut memberi ruang untuk menyesuaikan kebijakan dengan perkembangan kemampuan pengolahan nasional. Kenaikan target akan dikaitkan dengan pasokan yang benar-benar dapat dihasilkan oleh fasilitas yang tersedia.

Melalui target baru ini, India berupaya mengurangi risiko kekurangan LPG ketika jalur energi internasional terganggu. Penguatan produksi domestik juga ditujukan untuk menjaga cadangan pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi distribusi energi.

Baca Juga