Hamas meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak hanya menyerukan penghentian serangan Israel ke Jalur Gaza, tetapi juga menggunakan pengaruh Washington untuk mendorong pelaksanaan tahap kedua rencana perdamaian. Desakan itu muncul ketika pembicaraan untuk melanjutkan kesepakatan masih tertahan oleh perbedaan syarat antara Hamas dan Israel.
Menurut Hamas, tekanan AS terhadap Israel dapat menentukan keberlanjutan komitmen yang telah dicapai sebelumnya. Kelompok Palestina tersebut menempatkan penghentian serangan sebagai langkah awal sebelum pembahasan lain, termasuk penarikan pasukan dan bantuan kemanusiaan, dapat dijalankan.
Desakan untuk Pelaksanaan Tahap Kedua
Juru Bicara Hamas Hazem Qassem menyambut pernyataan Trump yang menyerukan Israel menghentikan serangan terhadap Gaza. Dalam pernyataannya pada Senin, 17 Agustus 2026, Qassem menilai seruan itu menunjukkan komitmen Trump terhadap Gencatan Senjata Gaza.
“Hamas menyambut baik pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang menyerukan Israel untuk menghentikan serangan terhadap Gaza. Hal ini menegaskan komitmen Presiden Trump terhadap gencatan senjata,” kata Qassem.
Hamas kemudian meminta Donald Trump mengambil tindakan yang lebih konkret terhadap Israel. Qassem menyatakan Israel perlu didorong dan diwajibkan menjalankan kesepakatan terkait tahap kedua rencana penyelesaian konflik.
“Hamas juga menyerukan Trump untuk menekan Israel dan mewajibkan melaksanakan kesepakatan yang telah dicapai terkait tahap kedua dari rencana tersebut,” ujar Qassem. Bagi Hamas, tahap lanjutan itu diperlukan untuk membuka jalan menuju penghentian konflik yang lebih menyeluruh.
Urutan Langkah Menjadi Titik Perselisihan
Hambatan utama berada pada perbedaan urutan langkah yang diinginkan kedua pihak. Israel menuntut pelucutan senjata Hamas dilakukan terlebih dahulu sebelum menarik pasukan lebih jauh dari wilayah Gaza.
Posisi tersebut berseberangan dengan tuntutan Hamas, yang meminta serangan dihentikan lebih dahulu. Hamas juga menginginkan penarikan pasukan Israel serta pemenuhan bantuan kemanusiaan dilakukan setelah penghentian serangan berjalan.
Perbedaan itu membuat pelaksanaan kesepakatan secara penuh belum tercapai. Negosiasi tahap lanjutan masih bergantung pada persetujuan kedua pihak mengenai tindakan pertama yang harus ditempuh.
Kerangka Kesepakatan yang Belum Rampung
Israel dan Hamas sebelumnya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza pada 9 Oktober 2025. Kesepakatan itu dimediasi oleh Mesir, Qatar, AS, dan Turki, sebelum difinalisasi dalam KTT Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober 2025.
Menurut laporan VIVA, kerangka kesepakatan tersebut mencakup penghentian konflik dan penanganan kebutuhan kemanusiaan di Gaza. Namun, seluruh unsur dalam kesepakatan itu belum terlaksana hingga kini.
| Unsur Kesepakatan | Pokok Pengaturan | Status Proses |
|---|---|---|
| Gencatan senjata | Penghentian pertempuran antara Israel dan Hamas | Menjadi fokus seruan Trump |
| Sandera dan tahanan | Pembebasan sandera di Gaza ditukar tahanan Palestina | Termasuk dalam poin kesepakatan |
| Bantuan kemanusiaan | Peningkatan bantuan untuk Jalur Gaza | Masih menjadi tuntutan Hamas |
| Penarikan pasukan | Penarikan pasukan Israel secara bertahap | Urutannya masih diperdebatkan |
Empat unsur tersebut dirancang sebagai dasar untuk mengakhiri konflik sekaligus melanjutkan penyelesaian politik. Akan tetapi, perbedaan mengenai pelucutan senjata, penghentian serangan, bantuan kemanusiaan, dan penarikan pasukan masih membatasi kemajuan tahap berikutnya.
Seruan Trump kembali menjadi perhatian karena disampaikan ketika pembicaraan lanjutan belum menemukan titik temu. Hamas memandang tekanan AS kepada Israel sebagai faktor penting agar kesepakatan tahap kedua tidak berhenti pada komitmen yang belum terlaksana.






