Kantor PM Kurdistan Dihantam Dua Drone, Iran Membantah Asal Serangan

Dua drone menghantam kantor Perdana Menteri Pemerintah Daerah Kurdistan, Masrour Barzani, pada Senin (17/8). Serangan itu terjadi ketika perang Iran melawan Amerika Serikat meluas dan kembali menekan situasi keamanan di Kurdistan Irak.

Belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut, sementara informasi mengenai korban jiwa juga belum dilaporkan. Ketidakjelasan asal drone membuat insiden ini berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan yang berkali-kali menjadi target serangan roket dan drone.

Badan Keamanan Pemerintah Daerah Kurdistan menyatakan drone itu diluncurkan dari wilayah Iran. Teheran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak memiliki informasi bahwa serangan berasal dari teritori Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan posisi itu kepada Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein melalui pembicaraan telepon. Pemerintah Irak juga bergerak menelusuri kasus ini setelah Perdana Menteri Ali Al Zaidi memerintahkan pembentukan komite investigasi.

Infrastruktur Energi Ikut Rentan

Serangan terhadap kantor pemerintah menambah daftar ancaman yang sebelumnya menyasar kepentingan strategis di Kurdistan Irak. Sektor energi menjadi salah satu bidang yang paling terdampak dalam rangkaian insiden drone di wilayah tersebut.

PeriodeSasaranDampak yang Dilaporkan
Senin (17/8)Kantor PM KurdistanDua drone menghantam kantor, belum ada laporan korban jiwa
Juli 2025Wilayah Kurdistan IrakHampir setengah produksi minyak mentah berhenti selama serangan empat hari
April 2024Ladang gas Khor MorEmpat pekerja asal Yaman tewas dan pasokan gas regional terhenti

Pada Juli 2025, serangkaian serangan drone selama empat hari menghentikan hampir setengah produksi minyak mentah di wilayah Kurdistan Irak. Para pejabat pada saat itu menduga serangan mungkin dilakukan oleh milisi yang didukung Iran.

Kerentanan fasilitas energi juga terlihat dalam serangan di ladang gas Khor Mor pada April 2024. Empat pekerja asal Yaman tewas, sementara pasokan gas menuju pembangkit listrik regional terpaksa dihentikan.

Peringatan tentang Operasi Bendera Palsu

Masrour Barzani mengecam penyerangan terhadap kantornya dengan keras. “Saya mengecam sekeras-kerasnya serangan sembrono dan yang tak bisa diterima ini,” kata Barzani, dikutip Reuters.

Araghchi juga mengutuk serangan tersebut melalui unggahan di X. “Tak ada pembenaran apapun atas serangan nekat terhadap kantor PM Barzani,” tulisnya.

Di saat bersamaan, Araghchi meminta kelompok Kurdi mewaspadai kemungkinan penggunaan operasi bendera palsu. Istilah itu merujuk pada operasi yang dirancang agar pelaku sebenarnya tampak berasal dari pihak lain.

Menteri luar negeri Iran itu turut menyinggung riwayat hubungan Teheran dengan komunitas Kurdi dalam konflik sebelumnya. “Kami melindungi teman-teman Kurdi kami dari Saddam dan DAESH, dan kami berterima kasih atas keamanan yang telah mereka berikan di perbatasan kami,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mengacu pada perang Iran-Irak pada 1980-1988, ketika Iran membuka perbatasannya bagi ratusan ribu pengungsi Kurdi. Teheran juga mempersenjatai kelompok Kurdi Irak untuk menghadapi rezim Saddam Hussein.

Saat DAESH menyerbu Irak utara pada 2014, Iran kembali mengirim bantuan militer dan amunisi kepada pasukan Peshmerga Kurdi. Bantuan itu disebut tiba sebelum dukungan asing datang ke wilayah tersebut.

Komite investigasi Irak kini menjadi penentu penting untuk mengungkap jalur peluncuran drone dan pihak yang bertanggung jawab. Selama belum ada klaim tanggung jawab maupun hasil penyelidikan, bantahan Iran dan tuduhan dari otoritas Kurdistan akan terus menjaga ketegangan tetap tinggi.

Baca Juga