Danantara menyiapkan 13 proyek hilirisasi dengan nilai sekitar Rp116 triliun sebagai langkah awal mempercepat transformasi ekonomi berbasis nilai tambah di dalam negeri. Skala investasi itu menempatkan pengelolaan aset negara sebagai taruhan penting untuk mengubah kekayaan alam menjadi kegiatan industri yang lebih produktif.
Proyek tersebut tidak hanya dinilai dari potensi imbal hasil keuangan, tetapi juga dari kemampuannya membangun fasilitas produksi, memperluas kebutuhan logistik, dan melibatkan pemasok lokal. Jika berjalan konsisten, investasi produktif dapat membuka lapangan kerja serta memperkuat pendapatan dan daya beli masyarakat.
Investasi jangka panjang untuk industrialisasi
CEO Danantara Rosan Roeslani menyampaikan rencana 13 proyek hilirisasi itu pada April 2026, sebagaimana dilaporkan Medcom.id. Ia menempatkan pengelolaan aset negara sebagai katalis untuk memperkuat industrialisasi nasional yang bertumpu pada sumber daya alam.
Pendekatan investasi yang digunakan mencakup investasi langsung dan tidak langsung dengan perhatian pada fundamental serta potensi pertumbuhan ke depan. Pola ini membedakan investasi pembangunan industri dari orientasi yang hanya mengejar pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Industri membutuhkan waktu untuk tumbuh karena prosesnya meliputi penyediaan infrastruktur, teknologi, tenaga kerja, fasilitas produksi, hingga pasar. Karena itu, hasil pengelolaan Danantara tidak cukup dipandang dari keuntungan sesaat, melainkan dari nilai ekonomi jangka panjang yang dapat dibentuk.
| Inisiatif | Informasi Utama | Arah Pengembangan |
|---|---|---|
| Proyek hilirisasi Danantara | 13 proyek senilai sekitar Rp116 triliun | Mempercepat industrialisasi bernilai tambah |
| Bursa komoditas strategis | Ditargetkan beroperasi pada 2027 | Memperbesar peran Indonesia dalam pembentukan harga |
Dari bahan mentah ke nilai tambah
Indonesia memiliki nikel, tembaga, bauksit, batu bara, minyak, gas, sawit, serta berbagai komoditas pertanian. Tantangan utama terletak pada kemampuan agar kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai bahan mentah yang diekspor ke luar negeri.
Hilirisasi Nasional dipandang sebagai jalur untuk menahan nilai tambah agar tercipta di dalam negeri. Pengolahan komoditas lebih lanjut dapat mendorong berdirinya pabrik, pertumbuhan rantai pasok, transfer teknologi, dan kebutuhan jasa pendukung.
Penguatan industri domestik juga tidak berarti Indonesia harus menutup diri dari perdagangan atau modal asing. Rantai pasok global tetap menghubungkan negara-negara melalui teknologi, bahan baku, tenaga kerja, investasi, dan akses pasar.
Namun, negara yang mempunyai industri dalam negeri lebih kuat memiliki pilihan lebih besar dalam kerja sama ekonomi. Posisi itu dapat memperluas daya tawar Indonesia ketika berdagang maupun menerima investasi dari luar negeri.
Transparansi perdagangan dan peran dalam harga komoditas
Pemerintah turut membentuk Danantara Sumber Daya Indonesia atau DSI untuk memperkuat transparansi transaksi ekspor komoditas sumber daya alam. Rosan menyebut langkah tersebut ditujukan agar perdagangan sumber daya alam berlangsung lebih terbuka dan akuntabel.
Agenda berikutnya ialah pembangunan Bursa Komoditas Strategis yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Bursa ini diharapkan memberi Indonesia peran yang lebih besar dalam pembentukan harga atas komoditas strategis yang dimilikinya.
Presiden Prabowo Subianto menyebut Danantara sebagai sovereign wealth fund yang dapat disejajarkan dengan lembaga sejenis di dunia. Saat menghadiri satu tahun Danantara, ia mengatakan, “Kita bersyukur, kita sekarang sudah punya suatu badan yang bisa disetarakan dengan sovereign wealth fund di dunia.”
Dalam kerangka tersebut, aset negara tidak hanya mencakup dana atau perusahaan, tetapi juga infrastruktur, jaringan bisnis, kapasitas produksi, dan sumber daya yang dapat menggerakkan ekonomi. Pengelolaan yang efektif diharapkan mengubah seluruh kekuatan itu menjadi manfaat yang lebih luas bagi rakyat.






