Undangan tampil di luar negeri belum menjamin band Indonesia dapat naik ke panggung internasional. The Panturas menilai proses visa yang sulit serta lemahnya akses perjalanan melalui paspor menjadi penghambat terbesar bagi musisi yang ingin tur atau tampil di festival mancanegara.
Gogon, pemain bass The Panturas, menyatakan persoalan tersebut dapat menggagalkan keberangkatan band meski kesempatan tampil sudah tersedia. Ia menegaskan bahwa kendala administrasi perjalanan lebih mendesak dibanding persoalan bahasa atau penerimaan penonton asing.
“Tantangannya cuma satu: karena tidak didukung oleh pemerintah! Visa sulit, paspornya lemah! Tantangan terbesar band Indonesia manggung di luar negeri adalah paspornya lemah,” ujar Gogon dalam wawancara dengan Medcom.id. Ia mengatakan kegagalan berangkat karena visa tidak terbit telah dialami oleh lebih dari satu band Indonesia.
Isu Visa Musisi Indonesia juga berkaitan dengan biaya perjalanan yang kerap membatasi peluang grup musik untuk memenuhi undangan. Menurut Gogon, visa yang tidak keluar dan keterbatasan pendanaan menjadi dua persoalan yang sering menghentikan langkah band menuju pasar luar negeri.
Respons Penonton Bukan Hambatan Utama
Bagi The Panturas, pengalaman tampil di sejumlah negara Asia menunjukkan bahwa bahasa bukan penghalang utama dalam pertunjukan musik. Gogon menyebut tantangan personal yang lebih terasa justru adalah mengatasi ketegangan sebelum naik panggung.
“Tantangannya ya kita kayak melawan diri sendiri aja, gimana caranya untuk nggak tegang. Karena kalau orang-orang bilang (tantangannya) itu bahasa, kalau buat gua pribadi sih musik udah jadi bahasa universal ya,” kata Gogon.
Pengalaman di Taiwan dan Jepang memperkuat pandangan tersebut. Mayoritas penonton di dua negara itu disebut tidak memahami bahasa Indonesia atau Melayu, namun tetap memberikan respons positif melalui tarian dan keterlibatan selama pertunjukan.
The Panturas juga membawakan karya dengan bahasa Sunda, termasuk dalam EP Galura Tropikalia yang dirilis pada 2024. Seluruh trek dalam EP itu menggunakan bahasa Sunda, tetapi pilihan bahasa tersebut tidak menghalangi band membangun hubungan dengan pendengar lintas negara.
Rangkaian Tur Asia The Panturas
Pada Juli 2025, The Panturas menjalani tur Asia dengan mengunjungi lima negara sebelum menutup perjalanan di Jepang. Penampilan penutup mereka berlangsung di Fuji Rock Festival, salah satu festival musik berpengaruh di Asia.
| Lokasi | Keterangan |
|---|---|
| Singapura | Bagian dari tur Asia Juli 2025 |
| Malaysia | Bagian dari tur Asia Juli 2025 |
| Thailand | Bagian dari tur Asia Juli 2025 |
| Filipina | Bagian dari tur Asia Juli 2025 |
| Taiwan | Bagian dari tur Asia Juli 2025 |
| Jepang | Penampilan penutup di Fuji Rock Festival |
Rangkaian tersebut menjadi bukti bahwa karya Indonesia dapat diterima penonton di negara lain ketika musisinya memperoleh kesempatan berangkat. Karena itu, kritik terhadap Paspor Indonesia dan proses visa dipandang The Panturas sebagai persoalan akses yang perlu mendapat dukungan lebih nyata.
Pernyataan itu disampaikan Gogon bersama Ijal, Acin, dan Kuya dalam perbincangan menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Mereka menilai Indonesia memiliki banyak band potensial, terutama ketika musik Asia sedang memperoleh perhatian di tingkat global.






