Amerika Serikat menargetkan kapasitas produksi rudal jelajah Tomahawk melampaui 1.000 unit per tahun, dari kemampuan saat ini yang hanya sekitar 60 rudal. Lompatan tajam itu didukung kontrak senilai US$22,9 miliar kepada Raytheon, unit usaha RTX.
Target tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan Washington untuk memperkuat kembali persediaan amunisi presisi jarak jauh. Stok persenjataan strategis AS disebut tertekan setelah pengiriman senjata kepada negara sekutu serta penggunaan intensif dalam konflik Iran.
Kesepakatan ini dirancang berlaku selama tujuh tahun agar produsen memiliki kepastian permintaan dalam jangka panjang. Kontrak diberikan pemerintah AS kepada Raytheon pada Senin, 17 Agustus 2026.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Nilai kontrak | US$22,9 miliar |
| Durasi kesepakatan | Tujuh tahun |
| Kapasitas saat ini | Sekitar 60 rudal per tahun |
| Target kapasitas | Melampaui 1.000 rudal per tahun |
Kenaikan kapasitas tersebut bukan berarti produksi langsung melonjak ke angka lebih dari 1.000 unit dalam waktu singkat. Target itu merupakan bagian dari rencana bertahap selama masa kontrak multiyears.
Tomahawk merupakan rudal jelajah berbasis laut yang dapat diluncurkan dari kapal perang maupun kapal selam AS. Senjata ini digunakan untuk melancarkan serangan presisi jarak jauh terhadap sasaran di darat.
Persediaan Strategis Menjadi Perhatian
Pengadaan besar ini berkaitan langsung dengan kesiapan tempur militer AS saat persediaan amunisi menghadapi tekanan. Ketersediaan rudal jelajah dipandang penting untuk mendukung personel militer yang beroperasi di lapangan.
Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao menyatakan industri pertahanan diminta segera menaikkan kapasitas produksi amunisi. Dalam unggahannya di platform X, Cao mengatakan, “Kami meminta industri untuk dengan cepat meningkatkan produksi amunisi, dan RTX meresponsnya.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa peningkatan output Tomahawk tidak hanya diposisikan sebagai proyek industri. Pemerintah AS melihatnya sebagai kebutuhan untuk menjaga ketersediaan persenjataan dalam kebutuhan operasional militer.
Kontrak Jangka Panjang untuk Industri
Menurut Investor Daily, pengadaan ini merupakan kelanjutan dari kerangka kerja awal antara militer AS dan Raytheon yang disepakati pada Februari 2026. Kerangka tersebut kemudian berkembang menjadi kontrak bernilai besar untuk mempercepat penambahan kapasitas produksi.
Skema kontrak jangka panjang sejalan dengan kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang mendorong kepastian pesanan bagi produsen senjata utama. Kepastian permintaan diharapkan membuat perusahaan pertahanan lebih siap mengalokasikan dana bagi pembangunan fasilitas produksi baru.
Upaya memperkuat basis manufaktur senjata AS juga tidak hanya diarahkan pada Tomahawk. Pemerintah sebelumnya membuat kesepakatan untuk mendongkrak produksi komponen rudal pencegat Patriot dan THAAD.
Bagi RTX, kontrak ini menjadikan perluasan produksi sebagai fokus utama sepanjang masa kesepakatan. Bagi militer AS, tambahan pasokan tersebut ditujukan untuk memulihkan persediaan sambil mempertahankan ketersediaan rudal jelajah bagi operasi mendatang.
Realisasi target produksi akan bergantung pada kemampuan industri memenuhi kenaikan output yang sangat besar dibanding kapasitas saat ini. Nilai kontrak dan sasaran kapasitasnya menunjukkan kebutuhan AS yang besar terhadap amunisi presisi jarak jauh.






