Bukan Hanya Bising Mesin, Paduan Suara Jangkrik Bisa Merusak Pendengaran

Paduan suara jangkrik yang terdengar keras dan berulang dapat meninggalkan kerusakan pendengaran menetap. Risiko itu terlihat pada seorang tukang kebun berusia 60 tahun bernama Liu yang mengalami telinga berdenging kronis serta gangguan pendengaran permanen.

Liu bekerja memangkas pohon setiap hari dari Juni hingga Agustus selama 12 tahun berturut-turut. Aktivitasnya membuat ia terus terpapar suara jangkrik dalam jumlah besar, hingga akhirnya kesulitan mendengar suara bernada rendah dan suara wanita.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa bunyi dari alam tidak selalu aman bagi telinga, terutama bila intensitasnya tinggi dan paparannya terjadi berulang kali. Dampaknya dapat berbeda dengan suara jangkrik tunggal yang umumnya tidak menimbulkan ancaman bagi pendengaran manusia.

KasusPaparan SuaraDampak
Yang, 18 tahunSuara jangkrik keras di hutan selama sekitar 4 jamGangguan pendengaran sementara
Liu, 60 tahunPaduan suara jangkrik saat memangkas pohon selama 12 tahunTelinga berdenging kronis dan gangguan pendengaran permanen

Ribuan Jangkrik Dapat Melampaui Ambang Aman

Dokter senior departemen otolaringologi Rumah Sakit Afiliasi No. 1 Universitas Ningbo, Li Ji, menyebut satu jangkrik menghasilkan suara sekitar 70 desibel. Tingkat tersebut masih tergolong aman, tetapi kondisi berubah ketika ribuan jangkrik berbunyi serempak dalam satu area.

Dalam situasi itu, intensitas suara jangkrik dapat melampaui 85 desibel. Angka tersebut menjadi ambang yang perlu diwaspadai karena risiko kerusakan pendengaran mulai meningkat.

Menurut Li Ji, kasus yang berkaitan dengan kebisingan jangkrik kerap muncul setiap musim panas. Namun, banyak orang masih menganggap suara alam tidak mungkin membahayakan telinga.

Gangguan Sementara Bisa Pulih jika Telinga Diistirahatkan

Pengalaman Yang, mahasiswa 18 tahun di Ningbo, Provinsi Zhejiang, memperlihatkan bahwa paparan singkat pun dapat memicu keluhan pendengaran. Ia berada di hutan lebat dengan suara jangkrik yang sangat keras selama sekitar empat jam tanpa memakai pelindung telinga.

Pada malam hari, telinganya terasa penuh dan membengkak, lalu ia kesulitan menangkap suara bernada tinggi. Keluhan itu membuatnya tidak dapat mendengar kicauan burung dan bunyi notifikasi dari ponsel dengan baik.

Pemeriksaan medis menyatakan Yang mengalami gangguan pendengaran sementara akibat paparan kebisingan berlebih. SCMP, seperti dikutip Kompas.com, melaporkan pendengarannya pulih sepenuhnya setelah menjalani perawatan dan menghindari lingkungan bising selama dua minggu.

Sel Rambut di Koklea Tidak Selalu Dapat Dipulihkan

Li Ji menjelaskan bahwa kebisingan dalam durasi singkat dapat memicu edema atau pembengkakan pada sel rambut di dalam koklea. Sel-sel tersebut memiliki peran penting dalam proses pendengaran, sehingga gangguan pada bagian ini dapat mengubah kemampuan telinga menangkap suara.

Pada kasus Yang, sel rambut koklea masih dapat pulih karena ia beristirahat dan menjauhi sumber kebisingan selama satu hingga dua minggu. Kondisi berbeda dapat terjadi apabila paparan suara terus berlanjut hingga menyebabkan kematian jaringan atau nekrosis pada sel tersebut.

Sel rambut koklea yang telah rusak hingga mati tidak dapat beregenerasi kembali. Kerusakan itu dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan membuat penderitanya memerlukan alat bantu dengar seumur hidup.

Karena itu, durasi dan frekuensi paparan perlu menjadi perhatian ketika berada di lingkungan dengan suara jangkrik yang sangat padat. Menghindari paparan berkepanjangan serta memakai pelindung telinga saat diperlukan dapat membantu membatasi risiko gangguan pendengaran.

Baca Juga