Pemulihan layanan seluler setelah gempa magnitudo 7,7 di Flores sangat dipengaruhi kestabilan pasokan listrik di lokasi terdampak. Sebanyak 200 site atau BTS di 10 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur tercatat mengalami gangguan.
Operator mengerahkan tim teknis untuk memulihkan jaringan secara bertahap, tetapi akses lapangan dan kondisi infrastruktur menjadi pertimbangan penting. Gangguan jaringan transmisi serta kerusakan perangkat akibat gempa turut memengaruhi kualitas layanan.
TelkomGroup Tambah Genset di Lokasi Terdampak
TelkomGroup mengaktifkan genset tambahan berkapasitas terbatas untuk memperkuat suplai listrik di area yang membutuhkan. Langkah ini dilakukan setelah gangguan listrik menjadi salah satu penyebab utama penurunan kualitas layanan.
EVP Telkom Regional III Rachmad Dwi Hartanto mengatakan tim teknis dan sumber daya telah dikerahkan untuk mempercepat penanganan. “TelkomGroup terus melakukan langkah percepatan perbaikan dengan mengerahkan tim teknis dan sumber daya yang diperlukan agar layanan telekomunikasi dan digital dapat segera kembali normal,” kata Rachmad.
Indosat Ooredoo Hutchison juga mengonfirmasi dampak gempa terhadap layanan telekomunikasi di sejumlah wilayah. Operator tersebut menyampaikan simpati kepada masyarakat terdampak dan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memulihkan layanan.
Di jaringan XL Smart, pemantauan sementara perusahaan mencatat sekitar 91 BTS terdampak. BTS itu tersebar di Kabupaten Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata.
Group Head Corpcomm & Sustainability XL Smart Reza Mirza menyatakan tim perusahaan melakukan pengecekan, penanganan, serta pemulihan jaringan secara bertahap. Keselamatan masyarakat dan petugas menjadi prioritas selama proses perbaikan berlangsung.
Data Gangguan Menyebar di 10 Wilayah
Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 16,35 persen BTS di wilayah yang teridentifikasi terdampak mengalami gangguan hingga pukul 07.00 WIB. Kabupaten Sikka mencatat jumlah site bermasalah tertinggi, diikuti Ende dan Flores Timur.
| Wilayah | BTS Terdampak | Total BTS | Persentase |
|---|---|---|---|
| Sikka | 51 | 192 | 26,56% |
| Ende | 31 | 118 | 26,27% |
| Flores Timur | 26 | 161 | 16,15% |
| Manggarai | 22 | 150 | 14,67% |
| Manggarai Barat | 17 | 141 | 12,06% |
| Manggarai Timur | 16 | 80 | 20,00% |
| Ngada | 13 | 101 | 12,87% |
| Nagekeo | 11 | 73 | 15,07% |
| Lembata | 10 | 73 | 13,70% |
| Timor Tengah Utara | 3 | 134 | 2,24% |
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto menyebut situasi jaringan setelah bencana bersifat dinamis. Pembaruan kondisi dilakukan melalui dashboard pemantauan operator dan hasil pemantauan di lapangan.
“Kondisi jaringan sangat dinamis setelah terjadi bencana. Karena itu, data terus kami perbarui berdasarkan laporan operator dan hasil pemantauan di lapangan,” ujar Wayan dalam keterangan resmi.
Gempa Dirasakan hingga Sejumlah Daerah
Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 04.58.23 WITA. Guncangan dirasakan di Dompu, Sikka, Labuan Bajo, Ende, hingga Bau Bau dan diikuti sedikitnya 54 gempa susulan.
Selain mengganggu layanan komunikasi, gempa menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan. Komdigi melibatkan Tim Pemantauan Telekomunikasi, Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio, pemerintah daerah, dan operator untuk memperbarui kondisi jaringan.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengutamakan keselamatan selama penanganan bencana berlangsung. Arahan resmi dari BMKG, pemerintah daerah, dan lembaga penanganan bencana perlu menjadi rujukan utama.






