Perjalanan menuju layanan kesehatan yang dapat memakan waktu tujuh hingga sembilan jam menjadi alasan pemerintah menyiapkan ambulans udara untuk daerah dengan akses berat. Dalam skema tersebut, pesawat N219A dipersiapkan sebagai pilihan evakuasi medis yang dapat beroperasi di darat dan perairan.
Kemampuan amfibi N219A memberi arti penting bagi wilayah kepulauan yang masih menghadapi keterbatasan akses fasilitas kesehatan. Pesawat ini dirancang untuk mendarat di perairan selain di daratan, sehingga memperluas pilihan lokasi operasi evakuasi.
Ambulans udara untuk lokasi terpencil
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan rencana penyediaan ambulans udara dalam bentuk helikopter dan pesawat kecil. Armada itu ditujukan untuk mempercepat pertolongan bagi warga yang membutuhkan layanan medis.
Kelompok yang menjadi perhatian mencakup warga sakit di kawasan sulit dijangkau serta ibu yang memerlukan bantuan saat persalinan. Jarak dan waktu tempuh yang panjang dapat menjadi hambatan ketika pasien memerlukan penanganan kesehatan.
Dalam pengantar pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan, Prabowo menyebut ambulans udara diharapkan dapat mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan pinggir sungai. Kemampuan tersebut ditujukan agar evakuasi tetap bisa dilakukan dari lokasi yang jauh dari fasilitas kesehatan.
N219 dan N219A disiapkan dalam satu ekosistem
Badan Riset dan Inovasi Nasional mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya, N219A, untuk menjawab kebutuhan ambulans terbang. Pengembangan ini memanfaatkan teknologi kedirgantaraan nasional yang dikembangkan bersama PT Dirgantara Indonesia.
N219 memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek atau STOL. Karakter tersebut mendukung pemanfaatan pesawat di daerah yang memiliki infrastruktur penerbangan terbatas.
Sementara itu, N219A menambahkan kemampuan operasi di perairan ke dalam ekosistem tersebut. Perbedaan fungsi ini membuat pesawat amfibi lebih sesuai untuk kebutuhan evakuasi medis di kawasan kepulauan.
| Platform | Kemampuan | Pemanfaatan yang Disebutkan |
|---|---|---|
| N219 | STOL untuk landasan pendek | Mendukung ambulans terbang |
| N219A | Mendarat di darat dan perairan | Evakuasi medis kepulauan |
| PUNA MALE | Terbang 24 jam, kendali sekitar 2.000 km | Pemantauan dan logistik darurat |
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan N219 dan N219A diarahkan untuk mendukung visi ambulans terbang serta logistik medis masa depan. Ia menyebut pengembangan itu bersandar pada keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional.
“Kami mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya (N219A),” kata Arif kepada Antara, seperti dikutip CNN Indonesia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pesawat darat dan varian amfibi disiapkan sebagai bagian dari satu ekosistem.
PUNA MALE tidak mengangkut pasien
BRIN juga mengembangkan Pesawat Udara Nirawak atau PUNA MALE sebagai tulang punggung sistem nirawak. Platform Medium Altitude Long Endurance itu disebut mampu terbang hingga 24 jam tanpa henti.
PUNA MALE memiliki jangkauan kendali Beyond Line of Sight sekitar 2.000 kilometer. Jangkauan tersebut diarahkan untuk misi kritis yang memerlukan daya jelajah luas.
Fungsi yang disebutkan untuk PUNA MALE meliputi pemantauan taktis dan proyeksi logistik darurat pada masa depan. Pesawat nirawak ini tidak ditujukan untuk mengangkut pasien, sehingga peran evakuasi medis tetap berada pada pesawat berawak seperti N219 dan N219A.






