Presiden Kamerun Paul Biya telah berada di luar negeri sekitar dua bulan setelah berangkat ke Eropa pada 7 Juni untuk kunjungan pribadi yang semula disebut singkat. Ketidakhadiran pemimpin berusia 93 tahun itu memperuncing pertanyaan mengenai siapa yang mengelola urusan negara ketika kepala negara jarang terlihat di ruang publik.
Pemerintah Kamerun menolak anggapan bahwa terjadi kekosongan kekuasaan selama Biya berada di luar negeri. Juru bicara pemerintah Rene Emmanuel Sadi menyatakan, “Presiden Paul Biya masih hidup” dan “akan segera kembali.”
Menurut laporan Kompas.com, pemerintah menyebut Biya berada di Jenewa, Swiss. Sadi juga menegaskan bahwa presiden tidak sedang menjalani perawatan di rumah sakit, meski tidak menjelaskan agenda maupun lokasi Biya secara lebih terperinci.
Keputusan Negara Tetap Diumumkan
Di tengah ketidakhadirannya, Biya dilaporkan masih mengambil sejumlah keputusan penting. Salah satunya adalah perombakan besar di tubuh militer yang diumumkan pada awal bulan.
Fakta tersebut menjadi dasar pemerintah untuk menepis kekhawatiran bahwa roda pemerintahan tidak berjalan. Namun, absennya Biya dalam waktu panjang tetap memicu perdebatan mengenai akuntabilitas kepemimpinan di Kamerun.
| Peristiwa | Waktu | Keterangan |
|---|---|---|
| Mulai memimpin Kamerun | 1982 | Biya menjabat sebagai presiden sejak tahun tersebut. |
| Kemenangan pilpres pertama | 1984 | Terjadi ketika sistem satu partai masih berlaku. |
| Keberangkatan ke Eropa | 7 Juni | Disebut sebagai kunjungan pribadi singkat. |
| Larangan membahas kesehatan presiden | 2024 | Pemerintah mengaitkannya dengan keamanan nasional. |
Isu Kesehatan yang Sensitif
Spekulasi mengenai kondisi kesehatan Biya telah lama muncul karena ia jarang tampil di hadapan publik. Kantor kepresidenan berulang kali harus membantah kabar bahwa ia sakit parah atau telah meninggal.
Pada 2024, pemerintah melarang media membahas kesehatan presiden dengan alasan keamanan nasional. Kebijakan itu membuat isu kesehatan kepala negara semakin sensitif ketika keberadaannya di luar Kamerun berlangsung berlarut-larut.
Paul Biya telah memimpin Kamerun sejak 1982 dan merupakan presiden kedua negara itu sejak merdeka pada 1960. Masa jabatannya menempatkan Biya di antara pemimpin dengan periode kekuasaan terpanjang di dunia.
Ia pertama kali memenangkan pemilihan presiden pada 1984 saat sistem satu partai masih berlaku. Setelah politik multipartai diperkenalkan, Biya kembali memenangi enam pemilihan berikutnya.
Generasi yang Hanya Mengenal Satu Presiden
Bagi banyak warga, lamanya kekuasaan Biya membentuk pengalaman politik lintas generasi. Nformi Bime, yang berusia 23 tahun dan masih mahasiswa ketika Biya menang pada 1984, kini telah berusia 65 tahun dan pensiun dari pekerjaan mengajar.
Anak tertua Bime berusia 32 tahun, sedangkan anak bungsunya berusia 18 tahun. Keduanya tumbuh pada masa ketika Biya tetap menjadi kepala negara.
Pengalaman serupa disampaikan Abit Riassai Acha, mahasiswi doktoral berusia 26 tahun dan pemimpin pemuda komunitas di Universitas Yaounde II. Ia mengatakan, “Saat tumbuh dewasa, Presiden Biya adalah satu-satunya presiden yang saya kenal, jadi masa kepresidenannya telah menjadi bagian dari seluruh pengalaman saya di Kamerun.”
Acha menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya dalam pemilihan presiden tahun lalu dan memilih kandidat oposisi muda Samuel Hiram Iyodi yang berusia 38 tahun. Menurutnya, masyarakat memang terbiasa dengan absennya Biya dari ruang publik, tetapi keadaan itu tidak seharusnya menghentikan warga untuk mempertanyakan cara negara dijalankan.
Perdebatan Mengenai Suksesi
Tahun lalu, Biya memenangkan masa jabatan kedelapan yang kontroversial dan berpeluang membuatnya tetap menjabat hingga mendekati usia 100 tahun. Menjelang pemilihan itu, ia mengatakan, “Yang terbaik masih akan datang,” sementara lawan politiknya menilai pemilu tersebut curang dan diwarnai bentrokan mematikan antara demonstran serta polisi.
Iyodi, yang berada di posisi kedelapan dalam pemilihan presiden tahun lalu, meminta parlemen mendorong Dewan Konstitusi Kamerun mempertimbangkan apakah absennya Biya dapat dipandang sebagai kekosongan jabatan presiden. Upaya itu dinilai sulit berhasil karena dominasi partai Gerakan Demokrasi Rakyat Kamerun yang berkuasa di bawah kepemimpinan Biya.
Ketidakhadiran Biya selama dua bulan akhirnya melampaui persoalan perjalanan pribadi seorang presiden. Situasi tersebut kembali membuka perbincangan mengenai suksesi, keterbukaan pemerintahan, dan arah Kamerun setelah lebih dari empat dekade dipimpin orang yang sama.






