NTT Masuki Tanggap Darurat 14 Hari, Korban Gempa Meninggal Capai 53 Orang

Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi di NTT mencapai 53 orang hingga Minggu (16/8) sore. Pemerintah Provinsi NTT menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk mempercepat penanganan dampak bencana.

Selain korban meninggal, 135 orang dilaporkan mengalami luka dan masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan. Pendataan korban serta kerusakan bangunan masih berlangsung karena angka dampak gempa dapat berubah setelah proses verifikasi lapangan.

Status Darurat Berlaku hingga 28 Agustus

Status tanggap darurat ditetapkan mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Kebijakan ini berlaku di wilayah Provinsi NTT setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang daerah tersebut pada Sabtu (15/8).

Gubernur NTT Melki Laka Lena menyatakan status darurat diperlukan agar respons terhadap bencana dapat dilakukan lebih cepat. Penetapan tersebut juga ditujukan untuk memudahkan pengerahan sumber daya yang tersedia.

“Penetapan status tanggap darurat dilakukan untuk mempercepat penanganan dampak bencana, sekaligus mempermudah akses, koordinasi, dan komunikasi antarpihak dalam mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia,” kata Melki dalam pernyataannya di Kupang pada Minggu. Pernyataan itu menegaskan pentingnya koordinasi antarpihak selama masa penanganan gempa.

Dengan status tanggap darurat, pemerintah dapat memusatkan langkah penanganan pada kebutuhan warga terdampak dan kondisi wilayah yang mengalami kerusakan. Akses, komunikasi, serta koordinasi menjadi bagian dari upaya mempercepat respons di lapangan.

Ratusan Rumah Mengalami Kerusakan

Data sementara menunjukkan gempa juga merusak ratusan rumah dalam tiga tingkat kategori kerusakan. Kerusakan berat tercatat paling banyak dibandingkan kategori sedang dan ringan.

Kategori DampakJumlah
Korban meninggal dunia53 orang
Korban luka dirawat135 orang
Rumah rusak berat154 unit
Rumah rusak sedang49 unit
Rumah rusak ringan38 unit

Sebanyak 154 unit rumah masuk kategori rusak berat. Sementara itu, 49 rumah mengalami kerusakan sedang dan 38 rumah lainnya tercatat rusak ringan.

Data kerusakan rumah memperlihatkan dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh warga yang menjadi korban jiwa atau luka. Kondisi bangunan menjadi salah satu unsur yang terus dicatat dalam penanganan bencana di NTT.

Jumlah korban luka yang dirawat mencapai 135 orang berdasarkan pembaruan yang tersedia pada Minggu sore. Perawatan di fasilitas kesehatan menjadi bagian dari penanganan bagi warga yang terdampak gempa.

BNPB Percepat Validasi Data Lapangan

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan pembaruan jumlah korban jiwa dalam konferensi pers pada Minggu. “Korban jiwa meninggal dunia per sore ini total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia,” katanya.

BNPB menegaskan data bencana masih bersifat dinamis. Karena itu, angka korban maupun kerusakan dapat berubah seiring masuknya hasil pendataan dari wilayah terdampak.

“Tentu saja data berkembang dinamis, dan akan melakukan percepatan dalam validasi data,” ujar Abdul Muhari. Validasi diperlukan untuk memastikan data korban dan kerusakan yang digunakan dalam penanganan bencana tetap akurat.

Proses pendataan mencakup korban meninggal, warga yang mengalami luka, serta rumah yang terdampak. Pembaruan data menjadi penting mengingat skala kerusakan rumah tersebar dalam kategori berat, sedang, dan ringan.

Pusat Gempa Berada di Nagakeo

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berpusat di Kabupaten Nagakeo. Guncangan pada Sabtu (15/8) kemudian diikuti laporan mengenai korban jiwa, warga terluka, dan kerusakan bangunan rumah.

Penanganan gempa bumi di NTT kini berjalan dalam kerangka status darurat yang telah ditetapkan pemerintah provinsi. Pengerahan seluruh sumber daya yang tersedia diharapkan dapat mendukung respons terhadap dampak bencana selama masa tanggap darurat.

Baca Juga