Kelelahan Menetap pada Pria Bisa Terkait Metabolisme, Bukan Sekadar Usia

Mudah lelah yang berlangsung terus-menerus pada pria tidak selalu merupakan dampak biasa dari pertambahan usia. Keluhan ini dapat berkaitan dengan perubahan hormonal, obesitas, maupun gangguan metabolisme yang memerlukan evaluasi medis.

Data European Male Ageing Study atau EMAS menunjukkan kekurangan testosteron lebih banyak ditemukan pada pria yang mengalami obesitas dan sindrom metabolik. Temuan tersebut menegaskan bahwa penurunan stamina perlu dilihat lebih luas daripada sekadar persoalan usia.

Angka Kekurangan Testosteron Meningkat Seiring Usia

EMAS membahas kaitan antara kelelahan menetap pada pria berusia di atas 50 tahun dengan kondisi kekurangan testosteron. Dalam istilah medis, kekurangan testosteron yang muncul seiring pertambahan usia disebut late-onset hypogonadism atau LOH.

Prevalensi kondisi tersebut meningkat pada kelompok usia yang lebih tua. Namun, angka ini tidak berarti setiap pria yang mudah lelah pasti mengalami kekurangan testosteron.

Kelompok Usia PriaPrevalensi Kekurangan Testosteron
40–49 tahun0,1%
70–79 tahun5,1%

Perbedaan angka tersebut menunjukkan perubahan hormonal menjadi isu yang semakin relevan pada usia lanjut. Meski begitu, diagnosis tetap tidak dapat dibuat hanya berdasarkan usia atau keluhan lelah.

Keluhan yang Perlu Disampaikan kepada Dokter

Penurunan stamina yang disertai gangguan fungsi seksual atau rasa lelah berkepanjangan patut menjadi perhatian. Kombinasi gejala itu dapat memengaruhi aktivitas harian dan kualitas hidup pria.

Spesialis penyakit dalam subspesialis endokrinologi, metabolik, dan diabetes dr Marshell Tendean menyatakan bahwa perubahan tubuh memang dapat terjadi sejalan dengan usia. Namun, keluhan yang menetap perlu diperiksa agar penyebabnya tidak langsung dianggap sebagai proses penuaan normal.

“Kekurangan testosteron tak sekadar persoalan usia atau fungsi seksual, namun dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan,” ujar dr Marshell seperti dikutip Beritasatu.com. Ia menekankan pentingnya evaluasi medis untuk menentukan penanganan yang sesuai dengan penyebab keluhan.

Kaitan Hormonal dan Kondisi Metabolik

Obesitas dan sindrom metabolik menjadi kondisi yang banyak ditemukan pada pria dengan kekurangan testosteron dalam data EMAS. Karena itu, pemeriksaan tidak sebaiknya hanya berfokus pada satu gejala, seperti kelelahan atau penurunan gairah seksual.

Gangguan metabolisme dapat muncul bersamaan dengan perubahan hormonal. Dokter dapat menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh untuk mengetahui faktor yang mendasari keluhan pada setiap individu.

Usia memang dapat memicu perubahan hormonal, tetapi bukan satu-satunya penjelasan atas stamina yang terus menurun. Penilaian medis diperlukan untuk membedakan perubahan alami dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pria yang mengalami mudah lelah berkepanjangan, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual hingga mengganggu kehidupan sehari-hari dapat mempertimbangkan konsultasi medis. Langkah ini membantu menilai kemungkinan kaitan keluhan dengan kekurangan testosteron, obesitas, sindrom metabolik, maupun aspek kesehatan lain yang relevan.

Baca Juga