Bukan Sekadar Latar, Rimba Raya Pakai AI untuk Mendekatkan Anak pada Alam

Serial sinematik Rimba Raya direncanakan tayang pada 17 Agustus 2026 di Vidio dengan membawa pendekatan kecerdasan buatan atau AI. Proyek yang digagas Rano Karno ini menempatkan alam Indonesia sebagai bagian penting dalam konflik dan perjalanan emosional para tokohnya.

Gagasan tersebut berangkat dari kekhawatiran mengenai hubungan anak-anak dengan pengalaman langsung di ruang terbuka yang dinilai semakin renggang. Melalui hiburan, serial ini diarahkan untuk membantu penonton muda mengenal alam tanpa menyampaikan pesan lingkungan secara menggurui.

Jadwal dan Kolaborasi Proyek

Rimba Raya dikembangkan lewat kerja sama antara Karnos Visual Magic, Vidio, dan Artha Graha Peduli. Karnos Visual Magic menangani produksi, sedangkan Vidio menjadi platform yang disiapkan untuk penayangan perdana.

DetailInformasi
Judul serialRimba Raya
Teknologi utamaKecerdasan Buatan (AI)
Rumah produksiKarnos Visual Magic
Mitra kolaborasiVidio dan Artha Graha Peduli
Platform penayanganVidio
Target tayang perdana17 Agustus 2026

Pemilihan tanggal penayangan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan. Momentum tersebut dimaksudkan sebagai persembahan bagi generasi muda agar lebih dekat dengan kekayaan alam Nusantara.

Penggunaan AI menjadi salah satu unsur pembeda dalam pengembangan serial ini. Namun, fokus proyek tetap diarahkan pada cerita yang relevan secara emosional dan mampu mempertemukan penonton dengan gambaran alam Indonesia.

Alam Menjadi Bagian dari Cerita

Cerita berpusat pada dua karakter utama bernama Rimba dan Raya. Keduanya akan mengajak penonton menjelajahi kekayaan alam Indonesia melalui perjalanan yang menjadi inti serial.

Hutan dan ekosistem tidak diposisikan hanya sebagai pelengkap visual dalam adegan. Kehadiran alam dirancang memengaruhi pengalaman, konflik, serta perkembangan karakter sepanjang cerita.

Direktur Utama Karnos Visual Magic, Anton Soeharyo, menyatakan kekuatan serial terletak pada cara penonton menikmati kisah terlebih dahulu. Lapisan edukasi lingkungan kemudian dihadirkan setelah penonton terhubung dengan perjalanan para karakter.

Pendekatan itu menempatkan pengalaman menonton sebagai pintu masuk bagi pesan kepedulian terhadap lingkungan. Arah utamanya adalah mengenalkan alam tanpa mendorong tindakan yang dapat merusak ekosistem.

Kegelisahan Rano Karno terhadap Pengalaman Anak

Rano Karno mengungkapkan gagasan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Sabtu (15/8). Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menilai generasi saat ini sangat mudah memperoleh informasi tentang satwa, tetapi belum tentu memahami bentuk dan kehidupan satwa secara nyata.

Ia mencontohkan pengamatan terhadap cucunya untuk menjelaskan jarak tersebut. “Lihatlah anak-anak, ya mungkin tidak usah melihat terlalu jauh, cucu saya. Dia tahu harimau tapi tidak tahu bentuknya, segala macam,” ujar Rano.

Menurutnya, kesadaran mengenai alam perlu dibangun sejak usia dini. Perhatian itu tidak hanya ditujukan kepada hutan, melainkan juga terhadap seluruh kehidupan dan ekosistem di dalamnya.

“Sebetulnya ini penyadaran kepada kita semua bahwa betapa pentingnya alam, bukan hanya hutan dengan segala isinya. Ini buat anak-anak, buat cucu supaya mereka mengenal bagaimana bisa mencintai lingkungan,” tambahnya.

Mediaindonesia.com melaporkan, proyek ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk membangun kembali hubungan yang sehat dengan alam. Serial tersebut mengandalkan kekuatan cerita untuk memperluas kepedulian lingkungan di kalangan penonton muda.

Baca Juga