Mateo Kovacic menghadapi perubahan besar dalam perannya di Manchester City setelah lini tengah klub kehilangan sejumlah pemain berpengalaman. Gelandang asal Kroasia itu kini menjadi salah satu figur senior yang diharapkan menjaga stabilitas tim di tengah masa pembaruan skuad.
Kepergian Kevin De Bruyne, Bernardo Silva, dan Rodri mengubah komposisi lini tengah City secara drastis. Situasi tersebut membuat Kovacic tidak hanya dituntut mempertahankan kualitas permainan, tetapi juga memberi arahan kepada pemain yang lebih muda.
Perubahan itu terjadi ketika Manchester City memasuki periode baru setelah berakhirnya era Pep Guardiola. Kovacic pun berpotensi memiliki suara yang lebih besar, baik di lapangan maupun di ruang ganti.
Perubahan Besar di Sektor Tengah
Rodri hampir resmi bergabung dengan Barcelona dalam kesepakatan bernilai sekitar 73,5 juta euro. Kepergiannya akan menjadi kehilangan penting karena ia merupakan salah satu nama berpengalaman dalam susunan lini tengah City.
Bernardo Silva juga dikabarkan menuju Real Madrid, sehingga daftar pemain senior yang meninggalkan sektor tengah semakin panjang. Sementara itu, Kevin De Bruyne tidak lagi menjadi bagian dari skuad Manchester City.
Kondisi tersebut menempatkan Kovacic sebagai gelandang senior yang telah berada di klub sejak 2023. Pengalamannya dibutuhkan untuk membantu tim beradaptasi dengan perubahan susunan pemain yang cukup besar.
Tugas baru itu juga berkaitan dengan pembinaan pemain muda di bawah pelatih Enzo Maresca. Kovacic diharapkan dapat memberi contoh melalui ketenangan, kedisiplinan, dan cara bermainnya saat menghadapi tuntutan kompetisi.
Kepemimpinan Tidak Hanya Bertumpu pada Satu Nama
Kovacic menilai tanggung jawab kepemimpinan di City tidak berada di tangan satu pemain saja. Ruben Dias dan Erling Haaland disebutnya sebagai figur lain yang dapat membantu mengarahkan tim.
Menurut Kovacic, status sebagai salah satu pemain tertua di skuad membawa tanggung jawab yang berbeda. Ia menyatakan siap menjalankan peran tersebut dengan memberi teladan di atas lapangan.
“Saya adalah salah satu pemain tertua di skuad saat ini dan itu tentu sedikit berbeda. Tapi, tentu saja menyenangkan jadi salah satu pemimpin,” ujar Kovacic seperti dilansir Detik Sport.
Ia juga menegaskan keinginannya untuk menjadi pemimpin dan panutan bagi rekan-rekannya. Kovacic menilai City masih mempunyai beberapa pemimpin hebat, termasuk Ruben Dias dan Erling Haaland.
Dalam menghadapi transisi ini, Kovacic menekankan pentingnya kesiapan kolektif. “Kami adalah tim yang siap bertarung bersama-sama dan kami merasa harus lebih baik,” katanya.
Pengalaman Kovacic di sejumlah klub besar Eropa menjadi salah satu modal utama untuk menjalankan tugas tersebut. Sebelum memperkuat Manchester City, ia pernah membela Inter Milan, Real Madrid, dan Chelsea.
Riwayat bermain di lingkungan kompetitif memberi Kovacic pemahaman mengenai tekanan dalam perebutan trofi serta dinamika ruang ganti klub besar. Pengalaman itu dapat menjadi nilai penting ketika City membutuhkan pemain yang mampu menjaga ketenangan pada masa perubahan.
Kontribusi Kovacic juga tidak hanya dinilai dari statusnya sebagai pemain senior. Sejak bergabung dengan Manchester City, ia telah mencatatkan 98 penampilan dan menyumbang 10 gol dalam periode empat tahun berseragam klub tersebut.
Catatan itu memperlihatkan bahwa Kovacic tetap memiliki peran di dalam permainan City. Tantangan berikutnya adalah memadukan kontribusi sebagai gelandang dengan tanggung jawab baru sebagai salah satu pemimpin skuad.






