Amerika Serikat memperluas tekanan terhadap Iran dengan membidik jalur dana minyak yang bergerak di luar perbankan resmi. Sasaran ini mencakup penukar valuta, perusahaan cangkang, hingga fasilitator lintas negara yang membantu perpindahan uang dalam jumlah besar.
Langkah tersebut menempatkan akses Iran terhadap mata uang asing sebagai titik tekanan utama. Gangguan pada jalur ini berpotensi menyulitkan pengelolaan pendapatan minyak serta perpindahan dana yang selama ini dilakukan melalui sistem paralel.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa Kantor Pengawasan Aset Asing atau OFAC mengambil tindakan terhadap sejumlah jaringan di beberapa negara pada Jumat (7/8). Jaringan itu disebut memungkinkan sistem keuangan paralel Iran memindahkan ratusan juta dolar.
Penindakan OFAC diarahkan untuk memutus akses para fasilitator tersebut dari sistem keuangan AS. Bessent menyatakan Departemen Keuangan akan terus mengungkap jaringan yang menopang aliran dana Iran dan memisahkannya dari sistem tersebut.
Jalur Paralel untuk Dana Valuta Asing
Bank Bayangan Iran merujuk pada sistem keuangan paralel yang beroperasi di luar jalur perbankan formal. Dalam kondisi embargo dan sanksi internasional, sistem ini digunakan untuk memindahkan dana besar serta memperoleh valuta asing.
Jaringan itu bukan satu institusi tunggal yang mudah dikenali. Operasinya dapat melibatkan beberapa jenis pelaku keuangan dan perusahaan yang bekerja lintas negara.
| Komponen | Peran dalam jaringan |
|---|---|
| Perusahaan cangkang | Mendukung perpindahan dana dan transaksi lintas negara. |
| Bursa kripto | Menjadi salah satu jalur untuk mengakses dan memindahkan nilai. |
| Penukaran mata uang | Mengonversi valuta asing dari pendapatan minyak menjadi mata uang yang lebih mudah digunakan. |
Departemen Keuangan AS menyebut perusahaan penukaran mata uang Iran secara kolektif memfasilitasi transaksi valuta asing bernilai miliaran dolar setiap tahun. Peran mereka menjadi penting karena Iran membutuhkan mata uang asing untuk membiayai berbagai kebutuhan.
Menurut Departemen Keuangan AS, Iran terutama menyelesaikan penjualan minyaknya menggunakan yuan China. Penukar valuta kemudian berperan mengubah dana itu menjadi mata uang yang lebih mudah dipakai oleh militer Iran, mitra, dan proksinya.
Tekanan terhadap Pendapatan Minyak Iran
Pemburuan terhadap fasilitator keuangan menunjukkan perhatian Washington tidak lagi hanya tertuju pada bank Iran yang terlihat secara resmi. Jalur yang menopang Pendapatan Minyak Iran kini ikut menjadi sasaran karena dianggap vital bagi pergerakan dana negara tersebut.
Tindakan terbaru ini diambil berdasarkan Perintah Eksekutif 13902 yang menargetkan individu di sektor keuangan dan perminyakan Iran. Kebijakan itu juga berkaitan dengan Memorandum Kepresidenan Keamanan Nasional Presiden 2 atau NSPM-2 yang mendorong tekanan maksimum terhadap Iran.
Menurut Bessent, penindakan ini merupakan langkah kedelapan OFAC pada 2026 terhadap aparat perbankan bayangan Iran. Target sebelumnya mencakup bank-bank Iran dan perusahaan fiktif yang terkait dengan jaringan serupa.
Bessent memasukkan operasi tersebut dalam Operasi Economic Fury, upaya berkelanjutan untuk mengganggu jalur keuangan vital Iran. Jalur itu dinilai mendukung kemampuan rezim Iran dalam membiayai upaya perangnya.
Peringatan bagi Fasilitator
Bessent mengatakan Iran sangat membutuhkan mata uang asing, tetapi sistem paralelnya juga menghadapi persoalan internal. Ia menyebut rezim Iran kehilangan uang dalam jumlah besar akibat korupsi dan salah urus di dalam sistem perbankan bayangan.
“Iran sangat membutuhkan mata uang asing, dan yang lebih buruk lagi bagi rezim tersebut, mereka kehilangan sejumlah besar uang akibat korupsi dan salah urus dalam sistem perbankan bayangan,” kata Bessent dalam rilisnya. Ia menilai tekanan ekonomi membuat ruang gerak Iran untuk memindahkan dana semakin menyempit.
Menurut Bessent, sistem perbankan bayangan Iran sedang runtuh di tengah gejolak ekonomi dan rezim itu kehabisan cara untuk mengalihkan uang. Ia memperingatkan pihak yang membantu mempertahankan jalur tersebut dapat menempatkan diri dalam bahaya.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan Washington memilih pendekatan yang lebih tenang terhadap Iran sambil memantau tekanan ekonomi di negara itu. Dalam wawancara telepon dengan Barak Ravid dari Channel 12 dan Axios, Trump menyatakan AS hanya “bernegosiasi sebagian” dengan Republik Islam tersebut.
“Kami akan melakukannya secara diam-diam,” kata Trump. Ia juga menyinggung inflasi tinggi serta kondisi keuangan Iran yang menurutnya semakin tertekan.
Melalui Sanksi OFAC, AS berupaya menekan para penghubung transaksi yang membuat arus dana Iran tetap berjalan di luar sistem resmi. Fokus pada penukar valuta dan perusahaan cangkang memperlihatkan bahwa jalur dana minyak kini menjadi bagian penting dari tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran.






