200 hingga 300 Ikan Dibiarkan di Suhu Ruangan, BGN Tegaskan Kelalaian MBG di Karo

Sekitar 200 hingga 300 ekor ikan untuk program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Karo dilaporkan tidak disimpan di freezer. Dalam temuan sementara, bahan baku tersebut berada pada suhu ruangan selama 12 jam, bahkan lebih dari 12 jam.

Temuan ini menjadi perhatian karena ikan tersebut berkaitan dengan dugaan insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Badan Gizi Nasional menilai persoalan pada penanganan bahan baku itu sebagai kelalaian serius di tahap pengolahan makanan.

Korban Masih Memerlukan Perawatan Intensif

Di tengah evaluasi dapur, salah satu korban masih menjalani perawatan di PICU Rumah Sakit Haji Medan. Pasien tersebut telah dirawat selama tiga hari dan kondisinya dilaporkan mulai membaik, meski belum dipindahkan ke ruang perawatan biasa.

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono atau Mas Dar, menyebut keadaan korban pada hari ketiga lebih baik dibandingkan saat pertama kali masuk rumah sakit. Namun, pasien tetap membutuhkan penanganan intensif di ruang ICU sambil menunggu kondisi yang cukup stabil.

Mas Dar berharap proses pemulihan dapat berlangsung secepat mungkin dalam satu hingga dua hari berikutnya. Penanganan terhadap korban berjalan bersamaan dengan pemeriksaan atas proses pengolahan makanan yang diduga menjadi titik masalah.

Temuan Sementara pada Penyimpanan Ikan

Mas Dar menjelaskan sebagian besar ikan sebenarnya telah ditempatkan di freezer sebelum diolah. Akan tetapi, ratusan ikan lainnya tidak mendapat perlakuan penyimpanan yang sama dan dibiarkan dalam suhu ruangan dalam waktu lama.

Menurut hasil pemeriksaan sementara BGN, durasi penyimpanan di luar freezer mencapai 12 jam hingga lebih dari 12 jam. Kondisi itu menjadi salah satu pokok penjelasan yang disampaikan Mas Dar saat mengunjungi korban di Rumah Sakit Haji Medan pada Minggu (16/8).

“Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan,” kata Mas Dar.

Ia menekankan bahwa penyimpanan bahan pangan perlu menjadi perhatian utama sebelum bahan diolah dan dibagikan kepada penerima manfaat. Penanganan bahan baku tidak dapat dipandang sebagai tahapan administratif karena berkaitan langsung dengan keamanan makanan.

BGN Menyatakan Sikap Tanpa Toleransi

BGN menyatakan tidak akan memberi toleransi terhadap kelalaian dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Mas Dar menilai kesalahan dalam pengolahan pangan dapat membahayakan keselamatan para penerima manfaat.

“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai!” ujar Mas Dar. Ia meminta pihak yang tidak sanggup menjalankan tanggung jawab di dapur untuk mundur daripada membahayakan orang lain.

Sikap tersebut menempatkan pengawasan keamanan pangan sebagai bagian penting dalam evaluasi insiden di Karo. BGN tidak hanya menyoroti penanganan kasus yang telah terjadi, tetapi juga berupaya mencegah persoalan serupa muncul di dapur program lainnya.

Perhatian untuk 27.000 Kepala Dapur

Sekitar 27.000 kepala dapur di seluruh Indonesia diminta memberikan perhatian khusus terhadap seluruh proses pengolahan makanan. Setiap tahapan, mulai dari penanganan bahan baku hingga penyajian, dinilai menentukan keamanan makanan bagi penerima manfaat.

Menurut laporan Medcom.id, BGN akan memperketat penerapan prosedur keamanan pangan di seluruh dapur MBG. Pengawasan akan diarahkan pada setiap tahapan agar bahan makanan ditangani sesuai prosedur sebelum menjadi makanan siap saji.

Kasus di Kabupaten Karo menjadi pengingat bahwa kelalaian pada penyimpanan bahan baku dapat menimbulkan risiko serius. BGN masih mendasarkan keterangannya pada investigasi sementara, sementara evaluasi terhadap proses dapur terus berjalan.

Standar keamanan pangan menjadi perhatian utama karena program ini menyangkut keselamatan banyak penerima manfaat. Penanganan pasien dan pembenahan prosedur pengolahan makanan kini menjadi dua fokus yang berjalan beriringan.

Baca Juga