Hingga Juni, Ekspor Lada Putih Bangka Tembus Rp148,9 Miliar dan Bidik 1.200 Restoran

Nilai ekspor lada dari Bangka Belitung telah mencapai sekitar Rp148,9 miliar hingga Juni 2026. Di tengah tren permintaan luar negeri tersebut, lada putih Bangka kini dibidik untuk memasok kebutuhan bumbu di jaringan 1.200 restoran yang tersebar di 63 negara.

Peluang ini membuka jalur pemasaran baru bagi komoditas yang dikenal di pasar internasional sebagai muntok white pepper. Jaringan restoran tersebut disebut memiliki kebutuhan besar terhadap bumbu dan rempah-rempah.

Ekspor Tetap Menguat

Data Badan Karantina Indonesia atau Barantin menunjukkan perdagangan lada Bangka Belitung terus berjalan pada 2026. Plt Deputi Karantina Tumbuhan Barantin Dian SR Kusumastuti menyatakan permintaan pasar internasional menjadi pendorong tren positif ekspor komoditas tersebut.

Pada 2025, nilai ekspor lada Bangka Belitung tercatat sekitar Rp180 miliar. Pengiriman dilakukan antara lain ke Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.

PeriodeNilai Ekspor Lada Bangka BelitungKeterangan
Sepanjang 2025Sekitar Rp180 miliarRealisasi ekspor tahunan
Hingga Juni 2026Sekitar Rp148,9 miliarRealisasi semester pertama

Angka hingga Juni itu menunjukkan aktivitas ekspor lada Bangka Belitung masih berlanjut pada tahun berikutnya. Pasar restoran internasional kemudian dipandang sebagai salah satu jalur potensial untuk memperluas penjualan komoditas tersebut.

Pasar Restoran di 63 Negara

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman mengatakan kementerian telah membangun kerja sama dengan 1.200 restoran di 63 negara. Kerja sama itu menjadi dasar untuk memperkenalkan produk unggulan daerah, termasuk lada putih dari Bangka Belitung.

“Kita sudah bekerja sama dengan 1.200 resto di 63 negara dan saat ini mereka kekurangan bumbu dan rempah-rempah,” kata Bagus di Pangkalpinang, Minggu (16/8/2026). Menurut dia, kondisi tersebut memberi ruang bagi muntok white pepper untuk masuk ke jaringan restoran tersebut.

Lada putih Bangka memiliki sertifikat resmi Indikasi Geografis atau IG. Sertifikat itu menegaskan identitas asal komoditas dan menjadi salah satu penopang penguatan posisinya di pasar internasional.

Petani Masuk Klaster Perkebunan

Persiapan pasar tidak hanya diarahkan pada produk yang akan dijual, tetapi juga pada kesiapan rantai pasok dari tingkat petani. Kementerian UMKM telah memasukkan 1.300 petani lada putih Bangka Belitung ke dalam holding UMKM klaster perkebunan.

Pelibatan petani tersebut ditujukan untuk mendukung penguatan usaha komoditas lada di daerah. Kesiapan produksi dan tata kelola pelaku usaha menjadi bagian penting untuk menjawab kebutuhan pasar luar negeri yang besar.

Pelaku UMKM dan petani lada juga didorong mendaftarkan produknya melalui SAPA UMKM. Layanan digital terpadu itu digunakan untuk proses verifikasi data hingga pemasaran produk ke pasar global.

SAPA UMKM turut menyediakan layanan perizinan, pembiayaan, pembukuan digital, dan pelatihan bagi pelaku usaha. Dukungan itu disiapkan agar pelaku usaha serta petani memiliki akses layanan yang relevan saat memperluas pemasaran lada putih Bangka.

Penggabungan sertifikat Indikasi Geografis, klaster petani, dan layanan digital menjadi bagian dari upaya memperkuat daya siaga rantai pasok. Dengan ekspor yang terus bergerak, akses ke jaringan restoran di puluhan negara dapat menjadi peluang tambahan bagi komoditas rempah asal Bangka Belitung.

Baca Juga