Defisit neraca perdagangan Indonesia menyusut tajam dalam satu bulan, dari US$1,6 miliar pada Mei 2026 menjadi US$450 juta pada Juni. Pemerintah menargetkan defisit tersebut hilang pada Juli, dengan stabilitas harga minyak dunia sebagai salah satu penentunya.
Perbaikan pada Juni memberi ruang optimisme, tetapi tekanan impor migas masih menjadi risiko utama. Kenaikan harga minyak dapat kembali memperbesar nilai impor energi dan menggerus surplus yang dibentuk sektor nonmigas.
Perbaikan Defisit dalam Sebulan
Selisih antara defisit Mei dan Juni menunjukkan tekanan pada perdagangan Indonesia mulai berkurang. Meski demikian, nilai impor migas tetap perlu dikendalikan agar perbaikan itu tidak berhenti pada satu periode.
| Periode | Nilai Neraca Perdagangan | Kondisi Utama |
|---|---|---|
| Mei 2026 | Defisit US$1,6 miliar | Tekanan impor migas menguat |
| Juni 2026 | Defisit US$450 juta | Defisit menyusut dibanding Mei |
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai angka Juni memperlihatkan adanya perbaikan yang cukup jelas dalam perdagangan bulanan. Ia menyebut penurunan defisit itu sebagai sinyal berkurangnya tekanan terhadap posisi perdagangan nasional.
“Bulan Juli ini harapan kami defisitnya menjadi tidak ada,” kata Budi saat ditemui di Jakarta pada Senin, 17 Agustus 2026. Menurut dia, peluang tersebut terbuka apabila kondisi global membaik dan harga minyak tidak kembali melonjak.
Impor Migas Menjadi Beban Utama
Lonjakan harga minyak yang terjadi pada Maret dan April berdampak pada nilai impor migas pada bulan-bulan berikutnya. Kebutuhan impor migas menjadi lebih mahal, sehingga defisit perdagangan pada Mei dan Juni ikut tertekan.
Ketika defisit migas membesar, nilainya dapat melampaui surplus dari perdagangan nonmigas. Kondisi tersebut dapat terjadi walaupun ekspor nonmigas Indonesia tetap mencatat pertumbuhan positif.
Stabilisasi harga minyak dunia karena itu menjadi faktor penting bagi arah neraca perdagangan. Harga minyak yang lebih rendah berpotensi menahan kenaikan nilai impor migas dan memberi ruang lebih besar bagi surplus nonmigas.
Ekspor Nonmigas Tetap Menopang
Neraca perdagangan Indonesia masih ditopang oleh surplus dari sektor nonmigas. Budi menyatakan sektor tersebut secara konsisten menghasilkan surplus di tengah tekanan yang datang dari perdagangan migas.
Pada Januari hingga Juni 2026, pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia berada di kisaran 3,9 persen. Angka itu menjadi modal untuk mengimbangi dampak kenaikan impor migas terhadap total neraca perdagangan.
Menurut data dan pernyataan Budi yang dikutip Suara.com, surplus nonmigas sebenarnya terus meningkat. Namun, tambahan surplus itu belum mampu menutup kenaikan defisit migas yang dipicu harga minyak tinggi.
Diversifikasi Pasar Dilanjutkan
Pemerintah juga melanjutkan diversifikasi pasar ekspor dan impor di tengah ketidakpastian geopolitik. Langkah ini dinilai penting karena konflik dan gangguan ekonomi global dapat mengubah peta perdagangan dengan cepat.
Diversifikasi pasar diarahkan agar perdagangan Indonesia tidak terlalu bergantung pada kondisi di pasar tertentu. Strategi tersebut berjalan bersama upaya menjaga pertumbuhan ekspor nonmigas secara berkelanjutan.
Budi berharap tekanan konflik dapat berkurang sehingga harga minyak ikut lebih stabil. Hasil perdagangan Juli akan ditentukan oleh kemampuan menahan defisit migas dan mempertahankan surplus nonmigas.






