Merasa sudah makan sedikit tetapi berat badan terus bertambah tidak otomatis berarti tubuh mengalami gangguan hormon atau metabolisme. Pola konsumsi harian perlu diperiksa lebih menyeluruh, termasuk camilan yang kerap tidak masuk dalam hitungan.
Ketua Perhimpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengingatkan bahwa makanan yang disantap di luar waktu makan utama dapat membuat total asupan energi lebih besar daripada perkiraan. Kebiasaan mengambil makanan ringan berulang kali sering kali tidak disadari oleh orang yang merasa porsi makannya kecil.
Bukan Hanya Porsi Makan Utama
Penilaian terhadap obesitas tidak cukup dilakukan dengan mengingat menu sarapan, makan siang, dan makan malam. Camilan, pola aktivitas, serta cara tubuh merespons energi yang masuk juga menjadi bagian penting dalam gambaran kondisi seseorang.
Dante menyebut anggapan bahwa seseorang bisa bertambah gemuk hanya karena minum air atau udara tidak dapat menjelaskan penyebab kenaikan berat badan secara utuh. Dalam diskusi edukasi obesitas di Jakarta Pusat, ia menekankan perlunya menghitung konsumsi makanan kecil yang disantap secara serabutan.
“Sebenarnya ada aspek lain tapi biasanya yang mengeluh kayaknya saya makannya sedikit deh. Tapi di luar itu yang tadi serabutan camilan-camilannya mungkin perlu diperhitungkan,” ujar Dante.
Camilan dapat menambah asupan harian tanpa terasa, terutama bila dikonsumsi di sela pekerjaan, saat beristirahat, atau di luar jadwal makan besar. Karena itu, pencatatan pola makan perlu melihat seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi sepanjang hari.
Metabolisme Tiap Orang Tidak Sama
Selain kebiasaan makan, tingkat metabolisme setiap orang juga berbeda. Perbedaan tersebut memengaruhi cara tubuh menggunakan maupun menyimpan kalori dari makanan.
Menurut Dante, tubuh dengan tingkat metabolisme lebih tinggi dapat membakar lebih banyak makanan yang masuk untuk proses pencernaan. Sementara itu, pada metabolisme yang lebih rendah, sebagian energi berpotensi lebih banyak disimpan oleh tubuh.
“Level metabolisme yang tinggi itu berarti makanan yang masuk banyak dibakar untuk pencernaan. Nah, kalau yang rendah itu sebenarnya disimpan,” kata Dante, seperti dikutip health.kompas.com.
Perbedaan respons tubuh ini membuat penanganan berat badan tidak dapat disamaratakan. Pemeriksaan yang menyeluruh diperlukan agar seseorang tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kenaikan berat badannya hanya dari satu faktor.
Penurunan Berat Badan Tidak Perlu Dipaksakan Cepat
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia, Dr. Erwin Kristianto, M.Gizi, SpGK, menilai penurunan berat badan bukan perlombaan yang harus segera mencapai hasil. Pengaturan makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan kondisi masing-masing individu.
“Diet itu jangan diasamakan dengan lomba lari ya. Semakin cepat mencapai finish semakin bagus,” ujar Erwin. Ia menjelaskan bahwa diet sehat mencakup pengaturan waktu makan dan jumlah makanan, bukan sekadar melarang jenis pangan tertentu.
Pengurangan berat badan yang terlalu cepat dapat memunculkan keluhan karena tubuh tetap memerlukan energi untuk beraktivitas. Asupan yang dipangkas terlalu jauh dapat membuat seseorang merasa lemas dan pegal.
Erwin mengingatkan bahwa orang yang merasa tidak banyak makan belum tentu memiliki pola makan yang sama. Ada yang sering mengonsumsi makanan ringan, sedangkan sebagian lainnya makan lebih jarang tetapi mengambil porsi besar.
Pantau Berat Badan dan Lingkar Perut
Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD., mengingatkan agar perhatian terhadap berat badan tidak baru dimulai setelah penyakit muncul. Pemantauan dapat dilakukan dengan mengukur berat badan dan lingkar perut secara berkala.
Pemeriksaan kesehatan yang tersedia juga dapat dimanfaatkan untuk memahami kondisi tubuh dengan lebih baik. Dengan demikian, perhatian terhadap berat badan tidak berhenti pada angka timbangan, melainkan mencakup kebiasaan makan, aktivitas, dan faktor kesehatan lain yang berkaitan.






