AI Menggeser Pasar Kerja, Peran Rentan Otomasi Turun tetapi Kebutuhan Baru Naik

Pasar kerja Amerika Serikat mulai memperlihatkan pergeseran setelah kemunculan AI generatif. Lowongan untuk peran dengan tugas terstruktur dan berulang menurun 13 persen, sedangkan permintaan bagi pekerjaan yang berpotensi diperkuat teknologi meningkat 20 persen.

Perbedaan arah tersebut menjadi sinyal bahwa perusahaan tidak hanya mengurangi kebutuhan pada tugas tertentu. Mereka juga mencari kemampuan baru untuk mendampingi penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari.

Sektor Keuangan dan Teknologi Paling Terdampak

Penurunan lowongan terbesar terjadi di sektor keuangan dan teknologi. Kedua sektor itu banyak memuat pekerjaan berbasis data dan proses yang terstruktur sehingga lebih rentan terhadap otomatisasi.

Meski demikian, tidak semua profesi mengalami dampak yang sama. AI dapat berfungsi sebagai alat bantu bagi pekerjaan yang masih memerlukan analisis, pemahaman konteks, dan pertimbangan manusia.

Mikrobiolog, analis keuangan, serta neuropsikolog klinis termasuk contoh profesi yang berpotensi diperkuat AI. Pada profesi tersebut, sebagian tugas dapat dibantu teknologi, sementara keputusan penting tidak sepenuhnya dapat dialihkan kepada mesin.

Kelompok pekerjaanPerubahan lowonganArah kebutuhan keterampilan
Rentan diotomasiTurun 13 persenMenyusut hingga 7 persen
Dapat diperkuat AINaik 20 persenMemerlukan keterampilan baru

Perusahaan Mencari Kemampuan yang Berbeda

Pada pekerjaan yang rentan diotomasi, perusahaan cenderung memasang lebih sedikit persyaratan keterampilan dalam iklan lowongan. Sebaliknya, peran yang dapat memanfaatkan AI memunculkan tuntutan keahlian yang sebelumnya tidak banyak dicantumkan.

Kemampuan pertama adalah penulisan prompt, yakni menyusun instruksi agar alat AI menghasilkan keluaran yang lebih optimal untuk kebutuhan kerja. Literasi AI juga menjadi penting agar pekerja memahami fungsi teknologi itu dan menggunakannya secara efektif.

Kebutuhan berikutnya adalah kolaborasi manusia dan AI, terutama ketika teknologi hanya mengambil sebagian tugas. Pekerja juga dinilai lebih bernilai apabila menguasai aplikasi AI yang sesuai dengan bidang atau profesinya.

Dua kemampuan yang tetap menonjol adalah penilaian situasional dan komunikasi interpersonal. Membaca konteks, membuat keputusan rumit, berinteraksi langsung, serta membangun hubungan masih menjadi ranah yang sulit direplikasi oleh AI.

Riset Memetakan 19.000 Lebih Tugas

Gambaran tersebut berasal dari riset Harvard Business School berjudul Displacement or Complementarity? The Labor Market Impact of Generative AI. Penelitian ini ditulis Profesor Suraj Srinivasan bersama Wilbur Xinyuan Chen dari Hong Kong University of Science and Technology dan Saleh Zakerinia dari Ohio State University.

Para peneliti menelaah data lowongan kerja di Amerika Serikat dari 2019 hingga Maret 2025. Cakupan kajian meliputi hampir seluruh lowongan di pasar, dengan lebih dari 19.000 tugas yang dipetakan pada lebih dari 900 profesi.

Menurut rangkuman tekno.kompas.com, perubahan tampak pada profesi yang menggabungkan pekerjaan otomatis dengan aktivitas yang tetap bergantung pada pertimbangan manusia. Pola itu menjelaskan mengapa penggunaan AI dapat menekan permintaan satu jenis peran sekaligus meningkatkan kebutuhan pada peran lain.

Pelatihan Ulang Menjadi Perhatian

Di bidang keuangan, AI dapat membantu manajer investasi dan analis memproses serta mengevaluasi data pasar. Akan tetapi, penilaian akhir dan keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Profesor Srinivasan merekomendasikan perusahaan berinvestasi pada pelatihan ulang bagi karyawan di posisi yang rentan tergantikan. Fokusnya ialah memperkuat kemampuan yang sulit diotomasi, termasuk penilaian situasional dan komunikasi interpersonal.

Bagi pekerja di posisi yang dapat diperkuat teknologi, perusahaan didorong terus meningkatkan kemampuan penggunaan AI. Penelitian ini menilai dampak jangka pendek di Amerika Serikat, sehingga pengaruh jangka panjang dan kondisi di wilayah lain masih belum dapat dipastikan.

Baca Juga