Struktur utang luar negeri Indonesia pada triwulan II 2026 masih didominasi pembiayaan berjangka panjang. Porsinya mencapai 82,1% dari total utang luar negeri, sementara rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto berada di level 30,6%.
Total utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar US$453,4 miliar pada triwulan II 2026. Nilai tersebut meningkat 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komposisi tenor panjang menjadi perhatian karena berkaitan dengan pengelolaan kewajiban pembayaran dalam jangka lebih panjang. Bank Indonesia mencatat struktur ini mencakup pembiayaan eksternal dari sektor publik maupun swasta.
Kenaikan posisi utang luar negeri terutama didorong oleh pembiayaan sektor publik, yang meliputi pemerintah dan bank sentral. Di sisi lain, utang luar negeri swasta masih mengalami kontraksi, meski tekanannya tidak sebesar triwulan sebelumnya.
Pembiayaan Publik Menjadi Penopang
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan pertumbuhan tersebut berkaitan dengan peningkatan utang luar negeri publik. “Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,” ujar Ramdan.
Pemerintah dan Bank Indonesia melanjutkan koordinasi untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan pembangunan nasional. Langkah itu juga ditujukan untuk meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.
“Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” kata Ramdan Denny Prakoso. Pernyataan itu menempatkan pengendalian risiko sebagai unsur penting di tengah pertumbuhan pembiayaan dari luar negeri.
| Kelompok | Posisi Triwulan II 2026 | Pertumbuhan Tahunan | Perkembangan Sebelumnya |
|---|---|---|---|
| Pemerintah | US$216,3 miliar | Tumbuh 2,9% | Melambat dari 3,8% |
| Swasta | US$194,6 miliar | Terkontraksi 0,6% | Membaik dari kontraksi 1,3% |
Utang Pemerintah Melambat, Minat Investor Tetap Ada
Utang pemerintah dalam komponen utang luar negeri tercatat US$216,3 miliar pada triwulan II 2026. Pertumbuhannya mencapai 2,9% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan 3,8% pada triwulan sebelumnya.
Meski pertumbuhannya melambat, peningkatan aliran modal asing ke Surat Berharga Negara menunjukkan kepercayaan investor terhadap instrumen pembiayaan publik. Dana yang diperoleh diarahkan untuk mendukung sektor produktif dan layanan dasar.
Pemanfaatan pembiayaan pemerintah paling besar berada pada jasa kesehatan dengan porsi 22,0%. Administrasi pemerintah dan pertahanan menyusul sebesar 20,6%, sedangkan pendidikan memperoleh alokasi 16,2%.
Sektor konstruksi menyerap 11,5% dari pemanfaatan utang luar negeri pemerintah. Transportasi dan pergudangan melengkapi lima sektor utama dengan porsi 8,5%.
Kontraksi Swasta Mulai Berkurang
Utang luar negeri Indonesia dari sektor swasta berada pada posisi US$194,6 miliar dan masih terkontraksi 0,6% secara tahunan. Namun, kontraksi tersebut membaik dibandingkan penurunan 1,3% yang terjadi pada triwulan I 2026.
Penurunan utang luar negeri lembaga keuangan sebesar 3,4% secara tahunan menjadi faktor utama yang menekan kinerja sektor swasta. Kondisi itu menahan pertumbuhan pembiayaan eksternal dari korporasi dan lembaga keuangan swasta.
Empat sektor menguasai 79,4% dari total utang luar negeri swasta, yaitu industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Sebanyak 75,7% utang luar negeri swasta juga berjangka panjang.
Dominasi tenor panjang pada utang publik dan swasta menunjukkan struktur pembiayaan eksternal Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya nilai kewajiban. Dengan rasio terhadap PDB sebesar 30,6%, pengawasan terhadap kesinambungan pembiayaan dan risiko ekonomi tetap menjadi fokus pemerintah serta Bank Indonesia.






