Gempa Flores berkekuatan M7,7 pada 15 Agustus 2026 tidak memicu kenaikan air laut cepat yang menghantam daratan, meski lokasi dan mekanismenya dinilai mirip dengan peristiwa besar 1992. Kontras ini menjadi perhatian karena tsunami Flores pada 1992 dilaporkan mencapai ketinggian hingga 25 meter.
Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Irwan Meilano, menilai tidak adanya longsoran bawah laut kemungkinan menjadi pembeda utama. Longsoran semacam itu dapat memperbesar perpindahan massa air setelah gempa terjadi.
Longsoran Bawah Laut Memperbesar Ancaman
Menurut Prof. Irwan, besarnya tsunami tidak hanya ditentukan oleh magnitudo gempa. Kondisi dasar laut dan kemungkinan terjadinya longsoran harus diperhitungkan dalam penilaian bahaya.
“Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi,” tutur Prof. Irwan mengenai peristiwa 1992 dalam penjelasan yang dimuat situs ITB. Ia berharap gempa kali ini tidak diikuti proses serupa sehingga tsunami tidak setinggi kejadian sebelumnya.
Selisih magnitudo antara gempa 1992 yang mencapai M7,9 dan gempa terbaru M7,7 tidak otomatis menghilangkan risiko tsunami. Kedua lokasi gempa disebut berjarak kurang dari 40 kilometer, sehingga ancaman awal tetap perlu direspons secara serius.
| Peristiwa | Magnitudo | Lokasi dan Kedalaman | Dampak Tsunami |
|---|---|---|---|
| Gempa Flores 1992 | M7,9 | Berdekatan dengan lokasi gempa 2026 | Dilaporkan hingga 25 meter |
| Gempa Flores 2026 | M7,7 | 30 km timur laut Mbay, sekitar 15 km | Tidak ada kenaikan air laut cepat ke daratan |
Peringatan Dini Sempat Diberlakukan
Gempa terjadi pada pukul 05.58 WITA dengan pusat di laut, sekitar 30 kilometer di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kedalamannya sekitar 15 kilometer, yang menempatkan kejadian ini sebagai gempa relatif dangkal.
Guncangan tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami dan mendorong warga menuju lokasi yang lebih tinggi. BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini pada pukul 07.31 WIB tanpa adanya laporan kenaikan air laut cepat ke daratan.
Respons awal itu penting karena posisi sumber gempa berada di laut dan memiliki kemiripan dengan kejadian 1992. Namun, tidak munculnya longsoran bawah laut diduga membatasi potensi gelombang yang lebih besar.
Guncangan Dangkal Tetap Mengancam Permukiman
Tidak adanya tsunami besar bukan berarti dampak gempa dapat diabaikan. Prof. Irwan menilai kombinasi magnitudo M7,7, kedalaman sekitar 10 hingga 15 kilometer, serta kedekatan dengan kawasan hunian tetap berisiko menimbulkan kerusakan.
“Gempa ini magnitudonya pun signifikan, M7,7, kemudian kedalamannya dari beberapa sumber sekitar 10 sampai 15 kilometer,” kata Prof. Irwan. Kedekatan sumber gempa dengan permukiman menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan.
Dampak guncangan dapat berbeda di setiap wilayah meski berada dalam area yang sama. Kondisi tanah dapat memperkuat getaran, sedangkan mutu infrastruktur menentukan kemampuan bangunan menghadapi tekanan gempa.
Prof. Irwan menyebut amplifikasi tanah dan kualitas infrastruktur sebagai dua faktor yang membentuk tingkat kerusakan. Karena itu, wilayah dengan karakter tanah dan bangunan yang berbeda dapat mengalami dampak yang tidak sama.
Aktivitas Flores Back Arc Thrust Dipantau
BMKG menyatakan gempa ini dipicu aktivitas Flores Back Arc Thrust, kawasan busur belakang Flores yang memiliki aktivitas kegempaan signifikan. Wilayah tersebut juga memiliki catatan gempa M6,6 pada 2009 serta rangkaian gempa di utara Lombok pada 2018 dengan magnitudo di atas 6.
Dalam kajian akademik untuk penyusunan peta gempa nasional, masih terdapat bagian kawasan ini yang dinilai menyimpan potensi kegempaan. Potensi tersebut tidak diharapkan terjadi, tetapi tetap menjadi perhatian dalam riset kebencanaan.
Masyarakat di wilayah terdampak juga perlu mewaspadai gempa susulan. Prof. Irwan mengingatkan bahwa gempa susulan dengan magnitudo di atas 6 dapat menimbulkan dampak signifikan dan perlu direspons dengan langkah keselamatan yang sesuai.






