Upaya Korea Selatan untuk mengakhiri perang yang secara teknis belum selesai muncul ketika Korea Utara justru memperdalam kerja sama militer dengan Rusia. Kontras ini membuat tawaran dialog dari Seoul menghadapi lingkungan keamanan yang jauh lebih rumit dibanding beberapa tahun lalu.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengusulkan pembicaraan resmi dengan Pyongyang untuk mengakhiri Perang Korea. Usulan itu juga dimaksudkan membuka ruang pembahasan langkah untuk menghentikan perkembangan kemampuan nuklir Korea Utara.
Kerja Sama Moskwa dan Pyongyang Menjadi Tekanan Baru
Para analis menilai Pyongyang memperoleh dukungan finansial, pangan, energi, serta teknologi militer dari Moskwa. Dukungan tersebut disebut sebagai imbalan atas pasokan pasukan dan amunisi Korea Utara untuk perang di Ukraina.
Kim Jong Un diperkirakan akan mengunjungi Rusia pada akhir tahun untuk membahas penyaluran senjata lebih lanjut. Keterlibatan Korea Utara dalam konflik di Eropa pun menjadi perhatian Amerika Serikat, sekutu keamanan utama Seoul.
Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 personel militer di Korea Selatan. Komando gabungan Korea Selatan dan AS juga menjadwalkan latihan militer selama 11 hari mulai 17 Agustus 2026.
Juru Bicara Komando Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan, Kolonel Ryan Donald, mengatakan pengalaman pasukan Korea Utara di Eropa dapat memengaruhi situasi di Semenanjung Korea. “Mereka telah mengambil pelajaran yang mereka dapatkan di sana dan membawanya kembali ke Korea Utara,” kata Ryan.
| Aspek | Perkembangan |
|---|---|
| Status konflik | Perang 1950–1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai resmi. |
| Langkah Seoul | Lee menawarkan pembicaraan tanpa prasyarat sejak menjabat pada Juni 2025. |
| Sikap Pyongyang | Korea Utara menyatakan status nuklirnya tidak dapat diubah lagi. |
| Latihan gabungan | Latihan Korea Selatan-AS berlangsung 11 hari mulai 17 Agustus 2026. |
Perang yang Berakhir Tanpa Perdamaian
Perang Korea berlangsung pada 1950 hingga 1953 setelah serangan Korea Utara. Konflik itu dihentikan melalui kesepakatan gencatan senjata, tetapi kedua Korea tidak pernah menandatangani perjanjian damai resmi.
Status tersebut membuat perang secara teknis masih bertahan sampai sekarang. Karena itu, pembicaraan yang ditawarkan Seoul bukan hanya menyangkut pemulihan hubungan antar-Korea, melainkan juga penutupan formal atas konflik lama di kawasan.
Lee menyampaikan ajakan tersebut dalam pidato peringatan pembebasan Korea dari penjajahan Jepang pada 1910–1945. Ia meminta kedua pihak meninggalkan pola saling mengancam dan membahas pengakhiran perang sebagai pihak yang terlibat langsung.
Menurut South China Morning Post, Lee mengatakan, “Mari kita kesampingkan niat untuk saling mengancam dan mulailah diskusi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lama ini sebagai pihak-pihak yang terlibat langsung.” Pernyataan itu menegaskan perubahan pendekatan Seoul terhadap Pyongyang.
Seoul Mengubah Pendekatan terhadap Nuklir
Sejak menjabat pada Juni 2025, Lee Jae-myung meninggalkan pendekatan keras pemerintahan sebelumnya dan menawarkan komunikasi tanpa prasyarat. Namun, Korea Utara belum memberikan tanggapan atas tawaran berulang dari Seoul.
Menteri Unifikasi Korea Selatan pada Juli 2026 juga menyatakan Seoul tidak lagi memprioritaskan tekanan untuk pelucutan senjata nuklir. Pemerintah Korea Selatan kini berupaya menghentikan perluasan aktivitas nuklir Pyongyang.
Pergeseran ini mencerminkan sulitnya menemukan titik temu mengenai denuklirisasi. KTT Hanoi pada 2019 antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump berakhir tanpa kesepakatan karena perbedaan mengenai cakupan denuklirisasi dan pelonggaran sanksi.
Pyongyang tetap menegaskan statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir yang tidak dapat diubah lagi sejak kegagalan pertemuan tersebut. Sikap itu menjadi hambatan utama bagi agenda diplomasi yang ingin dibuka Seoul.
Korea Utara juga mengecam rencana latihan tahunan Korea Selatan dan AS sambil memperingatkan langkah pencegahan yang lebih kuat. Di tengah peningkatan kemampuan pertahanan Jepang di Pasifik, Pyongyang meluncurkan dua rudal dalam kurun dua minggu.
Respons Korea Utara terhadap ajakan Lee akan menentukan apakah jalur diplomasi masih tersedia. Tanpa perubahan sikap dari Pyongyang, tawaran mengakhiri perang akan terus berhadapan dengan ketegangan militer dan penguatan hubungan Rusia-Korea Utara.






