Saham ISAT Naik 15 Persen, AI Factory Zankore Masih Hadapi Risiko Biaya

Harga saham ISAT naik 15 persen dalam sepekan setelah peluncuran proyek Zankore. Respons pasar itu muncul di tengah harapan bahwa AI Factory tersebut dapat menghasilkan laba bersih hingga Rp1,4 triliun per tahun mulai 2028.

Potensi besar itu belum otomatis menjamin hasil akhir bagi perseroan. Zankore harus membuktikan kemampuan menyelesaikan fasilitas, menarik pelanggan, dan mengisi kapasitas komputasi dengan biaya yang tetap terkendali.

Pasar Menaruh Harapan pada Zankore

Mirae Aset dan Indopremier menetapkan target harga saham ISAT pada kisaran Rp2.700 hingga Rp3.600 per saham. Perhitungan nilai wajar berada di sekitar Rp3.000-an per saham apabila proyeksi laba Zankore dapat dicapai.

Kontribusi bisnis Zankore terhadap ekuitas ISAT disebut mencapai Rp8,8 triliun. Porsi kepemilikan ISAT sendiri diperkirakan berada pada kisaran 15 persen hingga 30 persen.

Bagi pemegang saham jangka panjang, perkembangan operasional proyek akan lebih menentukan dibandingkan sentimen awal. Realisasi pendapatan, tingkat pemakaian kapasitas, dan disiplin biaya akan menjadi indikator utama keberhasilan investasi ini.

Proyek Berkapasitas Besar

Zankore dirancang sebagai AI Factory yang mengolah data mentah menjadi produk kecerdasan buatan dalam sistem terintegrasi berbasis teknologi NVIDIA. Kapasitas awal fasilitas itu ditargetkan mencapai 200 MW.

Dalam jangka pengembangan, kapasitasnya berpotensi diperluas hingga 1 Gigawatt. Skala tersebut menempatkan Zankore sebagai proyek AI Factory terbesar di Asia Tenggara.

Fasilitas ini dijadwalkan selesai pada semester I 2027. Kontribusi laba bagi ISAT diproyeksikan mulai terlihat pada 2028.

IndikatorTarget atau ProyeksiPeriode
Kapasitas awal200 MWTahap awal
Potensi ekspansiHingga 1 GigawattJangka pengembangan
Pendapatan ZankoreUS$13 miliarLima tahun
EBITDA kumulatifSekitar US$9 miliarLima tahun
Laba bersih untuk ISATRp1,4 triliun per tahunMulai 2028

Kolaborasi Empat Pihak

Zankore dikerjakan bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia. Ooredoo Group memegang 49 persen kepemilikan, sedangkan ISAT bersama NVIDIA dan Nokia secara kolektif memiliki 51 persen.

NVIDIA menyediakan GPU generasi terbaru dan perangkat lunak AI yang menjadi inti kapasitas komputasi. Teknologi MaxLPS dari NVIDIA dirancang untuk mengoptimalkan kapasitas komputasi hingga lebih dari 40 persen dengan daya yang tersedia.

Nokia mendukung jaringan berbasis AI yang aman dan berkinerja tinggi untuk kebutuhan infrastruktur proyek. Ooredoo berperan melalui dukungan modal serta jaringan regional dalam kerja sama tersebut.

Belanja Modal Menjadi Titik Risiko

Riset Mirae Aset Sekuritas memperkirakan Zankore dapat mencetak pendapatan US$13 miliar dan EBITDA kumulatif sekitar US$9 miliar selama lima tahun. Untuk mengejar proyeksi itu, proyek tersebut membutuhkan belanja modal sekitar US$5,9 miliar.

Belanja untuk GPU, server, dan pusat data dapat menghasilkan beban depresiasi yang besar. Jika kapasitas belum digunakan secara optimal, biaya tersebut bersama beban bunga dapat mengurangi laba yang diharapkan.

CoreWeave atau CRWV menjadi contoh perusahaan sejenis yang mencatat pertumbuhan pendapatan agresif tetapi masih membukukan kerugian. Perusahaan itu menghadapi tekanan dari biaya depresiasi dan bunga setelah investasi besar dalam infrastruktur komputasi AI.

ISAT mendapat suntikan modal US$800 juta dari Ooredoo sebagai penyangga pendanaan. Dana tersebut dinilai membantu mengurangi kebutuhan penambahan leverage yang dapat memperbesar beban bunga perseroan.

Meski demikian, dukungan modal tidak sepenuhnya menghapus risiko proyek. Penurunan permintaan akibat kondisi ekonomi atau kenaikan suku bunga bank sentral masih dapat menekan biaya dan memperlambat pengembalian investasi.

Keberhasilan Zankore pada akhirnya bergantung pada pelaksanaan pembangunan dan kemampuan mengubah kapasitas komputasi menjadi pendapatan. Optimisme pasar terhadap ISAT akan diuji oleh pembuktian kinerja fasilitas setelah memasuki masa operasi.

Baca Juga