Google menargetkan ponsel dapat menghemat lima hingga 30 menit waktu pengguna setiap hari melalui bantuan agen AI. Teknologi ini dirancang untuk mengambil alih pekerjaan digital kecil yang selama ini dilakukan dengan berpindah-pindah aplikasi.
Visi tersebut tidak semata tentang membuat asisten virtual lebih canggih, tetapi juga mengurangi kebiasaan menatap layar untuk menyelesaikan berbagai urusan. Pengguna diharapkan cukup menyampaikan tujuan akhir, sementara sistem menangani langkah-langkah yang diperlukan.
Presiden Ekosistem Android Google, Sameer Samat, menyatakan perusahaan mempertimbangkan cara konsumen menggunakan ponsel sekitar tiga tahun ke depan saat merancang tiap versi Android. Menurut dia, nilai utama AI terletak pada kemampuannya membantu kebutuhan praktis pengguna.
“Daripada terus membicarakan teknologinya, fokus utama kami adalah, ‘Bagaimana teknologi ini benar-benar bisa membantu Anda?’” ujar Sameer. Pernyataan itu menggambarkan ambisi Google mengubah ponsel dari perangkat yang membutuhkan banyak instruksi menjadi sistem yang memahami hasil yang diinginkan.
Dari Perintah ke Tujuan
Dalam skenario yang dijelaskan Google, pengguna tidak perlu lagi memberi arahan kecil satu per satu. Sistem AI akan diminta memahami tujuan, lalu mengerjakan beberapa tahapan secara mandiri.
Contohnya, AI dapat membaca catatan dokter, memeriksa cakupan klaim ke perusahaan asuransi, dan menjadwalkan pemeriksaan MRI. Fungsi tersebut belum tersedia dalam Android saat ini, tetapi menunjukkan bentuk layanan yang ingin diwujudkan perusahaan.
Pengurangan perpindahan aplikasi menjadi sasaran penting dari rancangan ini. Google berharap pengguna tidak harus terus membuka email, mengetik saat bepergian, atau mencari informasi di berbagai layanan untuk menyelesaikan satu kebutuhan.
Perubahan itu juga dapat membuat pengguna tidak perlu terus memeriksa apakah tugas digital sudah berjalan sesuai perintah. Namun, belum jelas apakah agen AI nantinya benar-benar mampu mengurangi total waktu yang dihabiskan konsumen di ponsel.
Pixel 11 dan Halo Menjadi Petunjuk Awal
Google mulai memperlihatkan arah tersebut lewat Pixel 11 yang diluncurkan pekan lalu. Pada Pixel 11 Pro, lampu indikator baru di bagian belakang perangkat akan menyala saat Gemini memproses perintah atau memberikan respons.
Indikator itu memungkinkan pengguna berbicara dengan asisten virtual tanpa harus memegang ponsel sekadar untuk memastikan sistem sedang mendengarkan. Kehadirannya menunjukkan upaya Google membawa interaksi AI melampaui tampilan layar utama.
Fitur Android bernama Halo juga dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini. Halo akan memperlihatkan progres tugas yang sedang dikerjakan agen AI, sehingga pengguna dapat mengetahui prosesnya tanpa mengawasi setiap tahapan.
| Perusahaan | Pengembangan AI | Rencana atau Fitur |
|---|---|---|
| Agen AI Android | Gemini dan Halo untuk memproses serta menampilkan progres tugas | |
| Samsung | Integrasi Gemini | Memasukkan Gemini lebih dalam ke perangkat lunak melalui kemitraan dengan Google |
| Apple | Siri baru | Direncanakan bekerja lintas aplikasi dan menggunakan informasi pribadi dalam jawaban |
Persaingan dan Keraguan Publik
Google bukan satu-satunya perusahaan yang mengejar peran AI lebih besar di perangkat pribadi. Samsung telah bekerja sama dengan Google untuk integrasi Gemini, sementara Apple berencana menghadirkan Siri baru yang bekerja lintas aplikasi pada akhir tahun ini.
OpenAI juga disebut telah merilis pembaruan besar untuk ChatGPT pada bulan lalu agar percakapan terasa lebih alami. Persaingan ini membuat AI menjadi bagian penting dari upaya perusahaan teknologi mempertahankan hubungan pengguna dengan perangkat mereka.
Di sisi lain, penerimaan publik terhadap AI masih dibayangi persoalan kepercayaan. Pew Research mencatat sebagian besar warga Amerika memperkirakan chatbot AI akan membawa dampak negatif bagi masyarakat.
Studi Gallup dan Bentley University menunjukkan 79 persen warga Amerika tidak percaya perusahaan akan menggunakan AI secara bertanggung jawab. Karena itu, keberhasilan Agen AI Android tidak hanya akan ditentukan oleh kemampuannya menjalankan tugas, tetapi juga oleh kepercayaan pengguna terhadap pengelolaan data dan teknologi tersebut.






