Pigmen Huashan Terkunci di Tebing Selama 2.000 Tahun, Jejak Darah Ditemukan

Lapisan pengikat pada lukisan cadas Huashan di China diduga mengandung darah manusia dan hewan. Bahan organik itu diperkirakan membantu pigmen merah melekat sangat kuat pada tebing batu kapur selama lebih dari 2.000 tahun.

Temuan protein pada sejumlah sampel bahkan menunjukkan dominasi darah manusia dalam komposisi mortar lukisan. Pada satu lokasi, proporsi darah manusia yang terdeteksi disebut mencapai sekitar 97 hingga 99 persen.

Protein Darah Membantu Pigmen Menyatu dengan Tebing

Warna merah pada gambar Huashan bukan berasal dari darah, melainkan tanah liat lokal yang kaya oksida besi. Darah diduga dipakai sebagai pengikat pada lapisan dasar sebelum pigmen merah diterapkan.

Para pembuat lukisan diperkirakan lebih dahulu membuat mortar cair dari tulang hewan, kotoran burung, batu kapur, dan cangkang yang dipanaskan. Proses itu menghasilkan campuran yang mengandung kalsium fosfat serta kapur tohor.

Air dan darah kemudian dicampurkan ke dalam bahan dasar tersebut sebelum dioleskan ke permukaan batu. Setelah lapisan mulai mengering, pigmen merah ditambahkan sebagai lapisan gambar.

Protein dalam darah diduga mendorong biomineralisasi kalsium karbonat pada mortar. Proses tersebut membuat lapisan pengikat secara kimia menyerupai batu kapur yang menjadi media lukisan.

Partikel pigmen akhirnya seperti terkunci di dalam kalsium karbonat yang terbentuk dan menyatu dengan tebing. Sistem ini disebut sebagai ikatan komposit organik-anorganik yang stabil.

KomponenPeranKeterangan
Tanah liat kaya oksida besiPigmen merahMembentuk warna utama gambar
Darah manusia dan hewanBahan pengikatMembantu pigmen melekat pada mortar
Kalsium fosfat dan kapur tohorLapisan dasarBerasal dari bahan yang dipanaskan

Komposisi Darah pada Sampel Mortar

Pemeriksaan protein memperlihatkan komposisi darah yang tidak sama pada tiap sampel. Sampel lain mengandung sekitar 61 persen darah manusia dan 39 persen darah sapi.

SampelDarah ManusiaDarah Hewan
Lokasi pertama97–99%1–3% dari sejumlah herbivora
Sampel lain61%39% darah sapi

Data tersebut memperkuat dugaan bahwa darah memang digunakan dalam material pembuat lukisan, bukan sekadar kemungkinan teoretis. Namun, asal pasti dan cara pengumpulan darah itu belum dapat dipastikan.

Peneliti turut menemukan prolactin-inducible protein dan lactotransferrin dalam bahan pengikat. Kedua protein itu umumnya sangat rendah pada kebanyakan orang, tetapi dapat meningkat tajam pada perempuan yang hamil tua atau menyusui.

Dugaan Kaitan dengan Ritual Kesuburan

Petunjuk biologis tersebut membuka hipotesis bahwa sebagian darah mungkin berasal dari perempuan yang tengah mengalami kehamilan atau persalinan. Hipotesis ini juga dikaitkan dengan sejumlah figur pada tebing yang menggambarkan perempuan hamil, hubungan seksual, dan alat kelamin laki-laki.

Gambar-gambar itu dinilai berkaitan dengan kemungkinan kultus kesuburan dalam masyarakat pembuatnya. Meski demikian, temuan protein dan tema visual belum menjadi bukti pasti bahwa darah dikumpulkan saat proses kelahiran.

Lukisan ini berada di kawasan Zuojiang Huashan Rock Art Cultural Landscape, di Lembah Sungai Zuojiang, China. Karya di tebing batu kapur tersebut dikaitkan dengan Kebudayaan Luoyue yang hidup sekitar 2.600 hingga 1.900 tahun lalu.

Menurut studi yang dimuat dalam Journal of Archaeological Science, teknologi material itu membantu menjelaskan ketahanan lukisan di iklim subtropis yang lembap, bercurah hujan tinggi, dan dipengaruhi musim monsun. Pigmen pada beberapa bagian bahkan menempel sangat kuat sehingga peneliti memerlukan bor listrik untuk mengambil sampel dari permukaan tebing.

Perpaduan mineral dan bahan organik menjadi bagian penting dalam memahami daya tahan Lukisan Cadas Huashan. Temuan ini menunjukkan masyarakat Luoyue tampaknya telah menguasai pengolahan material yang rumit untuk menghasilkan gambar tebing yang bertahan sangat lama.

Baca Juga