Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz merosot tajam hingga hanya tiga kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Kondisi ini menandai lonjakan risiko bagi salah satu jalur terpenting perdagangan energi dunia di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran.
Data Kpler menunjukkan rata-rata pelintasan dalam lima hari terakhir hanya mencapai 12 kapal per hari. Angka itu jauh di bawah kondisi normal sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika sekitar 130 kapal melintasi selat tersebut setiap hari.
| Periode | Jumlah Kapal Melintasi Selat Hormuz |
|---|---|
| Kondisi normal sebelum 28 Februari 2026 | Sekitar 130 kapal per hari |
| Rata-rata lima hari terakhir | 12 kapal per hari |
| Minggu | 3 kapal |
Penurunan lalu lintas tersebut terjadi saat masa depan Selat Hormuz semakin tidak pasti menjelang berakhirnya gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran. Ketidakpastian bertambah setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Oman.
Trump menyatakan Oman dapat menjadi target apabila negara Teluk itu dianggap menghambat langkah Washington. “Jika Oman menghalangi, kami akan membombardir mereka habis-habisan,” tegas Trump.
Oman Terlibat Pembicaraan soal Selat Hormuz
Oman disebut sedang terlibat pembicaraan dengan Teheran mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz. Peran tersebut menjadi penting karena pelayaran di jalur strategis itu kini berada pada titik yang sangat rendah.
Di saat yang sama, AS masih melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menurut laporan Beritasatu yang mengutip CNBC. Kombinasi blokade, ancaman militer, dan minimnya kapal yang melintas memperbesar tekanan terhadap industri pelayaran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan posisi Teheran mengenai selat tersebut melalui unggahan di X pada Jumat. Ia menyatakan Selat Hormuz tetap menjadi milik Iran dan pembukaan maupun penutupannya hanya dilakukan atas perintah Iran.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa akses terhadap jalur laut tersebut tetap menjadi bagian penting dari posisi Iran dalam ketegangan saat ini. Selat Hormuz merupakan rute utama bagi perdagangan dan energi global, sehingga gangguan pelayaran langsung menjadi perhatian pasar.
Perbedaan Klaim soal Perundingan
Trump mengatakan pembicaraan informal sedang berlangsung dengan Garda Revolusi Iran. Namun, pemerintah Iran membantah bahwa perundingan langsung dengan Washington telah dimulai.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyebut Qatar dan Pakistan memang saling bertukar pesan serta berhubungan dengan Teheran. Meski demikian, ia menegaskan hubungan tersebut tidak dapat diartikan sebagai dimulainya proses negosiasi.
“Belum ada negosiasi yang dilakukan antara Amerika Serikat dan kami saat ini,” kata Araghchi seperti dikutip Shahrara News. Pernyataan itu berlawanan dengan klaim Trump mengenai adanya komunikasi informal dengan pihak Iran.
Trump juga menyatakan Washington tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan. “Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat. Saya tidak punya jadwal waktu. Saya tidak terburu-buru,” kata Trump.
Isu Nuklir Tetap Menjadi Tuntutan Utama AS
Di tengah perhatian terhadap gangguan pelayaran, Trump kembali menekankan tuntutan utama AS terhadap Iran. Melalui Truth Social, ia menyatakan tujuan nomor satu Washington adalah memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.
Penegasan tersebut memperlihatkan bahwa isu nuklir tetap menjadi pusat ketegangan, meskipun persoalan akses Selat Hormuz kini memunculkan dampak langsung terhadap pelayaran. Belum adanya kesepakatan resmi setelah gencatan senjata AS-Iran membuat risiko di kawasan itu tetap tinggi.
Pakar perkapalan HSBC, Parash Jain, menilai investor perlu memasukkan ketidakpastian penuh sebagai asumsi dasar mereka. Menurutnya, kekacauan bukan hal asing bagi industri pelayaran, tetapi anjloknya aktivitas di Selat Hormuz menjadi perhatian khusus karena peran strategis jalur tersebut.
Ancaman terhadap Oman, blokade pelabuhan Iran, serta perbedaan klaim mengenai perundingan membuat pemulihan lalu lintas kapal sulit dipastikan. Selama ketegangan diplomatik dan militer belum mereda, pelayaran di Selat Hormuz berpotensi terus menghadapi gangguan.






