Mourinho Ungkap Campur Tangan Chelsea, Konfliknya dengan Casillas Ikut Terbuka

Dokumenter Mourinho di Netflix membuka kembali sisi keras perjalanan Jose Mourinho di klub-klub besar Eropa. Bukan hanya deretan gelar, film tersebut menampilkan konflik sang pelatih dengan petinggi Chelsea hingga ketegangan internal bersama Iker Casillas di Real Madrid.

Salah satu pengakuan paling tajam datang dari periode pertama Mourinho di Chelsea. Ia menyebut perbedaan pandangan soal perekrutan pemain menjadi pemicu memburuknya relasi dengan pemilik klub, Roman Abramovich.

Mourinho mengatakan dirinya menginginkan Samuel Eto’o, tetapi Chelsea justru merekrut Andriy Shevchenko. “Saya maunya klub beli Samuel Eto’o tapi malah beli Shevchenko. Ya dia memang dekat dengan petinggi-petinggi Chelsea,” kata Mourinho dalam dokumenter tersebut.

Menurut Mourinho, periode itu juga diwarnai terlalu banyak campur tangan dari klub. Ketegangan tersebut kontras dengan awal kiprahnya yang sangat sukses karena Chelsea menjuarai Liga Inggris pada musim pertama dan kedua di bawah arahannya.

Kesuksesan yang Berujung Perpecahan

Rangkaian keberhasilan itu tidak cukup menjaga hubungan Mourinho dengan jajaran pemilik klub. Ia akhirnya dipecat pada musim ketiganya, setelah hubungan dengan Abramovich memburuk.

Dokumenter tersebut turut menyinggung julukan The Special One yang lama melekat pada Mourinho. Pelatih asal Portugal itu menilai sebutan tersebut berasal dari media Inggris dan dianggapnya berlebihan.

Kisah konflik juga muncul ketika Mourinho menangani Real Madrid. Pada periode pertamanya di klub itu, ia terlibat masalah internal dengan Iker Casillas, kapten tim yang kemudian dicadangkan.

Mourinho pada akhirnya meninggalkan Real Madrid setelah periode yang juga diwarnai persaingan sengit melawan Pep Guardiola. Dokumenter menempatkan bab tersebut sebagai bagian dari perjalanan yang penuh benturan, baik di lapangan maupun di ruang ganti.

Standar Tinggi untuk Para Pemain

Di balik reputasinya sebagai figur yang kerap berkonflik, Mourinho juga digambarkan sebagai pelatih dengan tuntutan tinggi terhadap pemain. Sejumlah mantan anak asuhnya menilai pendekatan itu dapat membangun ikatan kuat di dalam tim.

Zlatan Ibrahimovic mengenang pengalaman saat bekerja bersama Mourinho di Inter Milan. Ia pernah menerima penghargaan pemain terbaik Serie A pada jeda pertandingan, tetapi tetap mendapat kritik karena penampilannya pada babak pertama.

“Itu karena di babak pertama saya main buruk,” ujar Ibrahimovic mengenai respons Mourinho. Bagi sang pelatih, penghargaan individu tidak menghapus penilaian terhadap performa pemain dalam pertandingan.

TokohKlub terkaitPenilaian terhadap Mourinho
Zlatan IbrahimovicInter MilanMenuntut pemain mencapai titik terbaiknya.
Eden HazardChelseaKedatangannya dipandang sebagai hadirnya pelatih terbaik.
Javier ZanettiInter MilanMenyatukan pemain layaknya keluarga.

Eden Hazard juga mengingat suasana di Chelsea ketika Mourinho datang sebagai pelatih. Ia mengutip Frank Lampard yang menyambut kedatangan Mourinho dengan kalimat, “lihatlah pelatih terbaik datang”.

Di Inter Milan, Javier Zanetti melihat sisi berbeda dari Mourinho. Mantan kapten tim itu menilai Mourinho mampu menyatukan para pemain seperti keluarga sehingga skuad bersedia melakukan segala hal untuk pelatihnya.

Karier yang Dimulai dari Barcelona

Sebelum dikenal sebagai pelatih klub elite, Mourinho bekerja sebagai asisten Sir Bobby Robson di Barcelona selama empat tahun. Ia menegaskan bahwa perannya tidak terbatas sebagai penerjemah, melainkan juga mengamati pertandingan, membantu pelatih, mencari pemain, dan mempelajari lawan.

Karier kepelatihannya dimulai pada 2000 dan kemudian melesat bersama Porto. Kesuksesan membawa Porto menjuarai Liga Champions pada periode 2002-2004 membawanya menuju Chelsea serta panggung sepak bola Eropa yang lebih besar.

Selain Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid, Mourinho pernah menangani Manchester United, Tottenham Hotspur, AS Roma, Fenerbahce, serta Benfica. Dokumenter Netflix itu menggambarkan perjalanan tersebut sebagai perpaduan antara prestasi, tuntutan tinggi, dan benturan kepentingan.

Mourinho juga menanggapi anggapan bahwa performanya selalu menurun pada musim ketiga di sebuah klub. Jawabannya singkat, “Saya nggak percaya.”

Baca Juga