Mateo Kovacic menghadapi perubahan besar di Manchester City setelah sejumlah gelandang berpengalaman tak lagi menjadi bagian utama lini tengah. Pemain Kroasia itu kini termasuk sosok paling senior dalam skuad dan diminta mengambil peran lebih luas.
Tugas Kovacic tidak semata mengatur permainan di area tengah, tetapi juga menjaga arah kelompok pemain dalam masa peralihan. Ia menyatakan siap menjadi pemimpin sekaligus panutan ketika City membangun kembali kekuatannya.
Perubahan komposisi ini terjadi setelah berakhirnya era Pep Guardiola dan dimulainya fase baru di bawah Enzo Maresca. City kehilangan beberapa pemain yang sebelumnya menjadi fondasi penting di lini tengah.
| Pemain | Situasi di City | Keterangan |
|---|---|---|
| Kevin De Bruyne | Telah pergi | Meninggalkan klub pada musim lalu |
| Bernardo Silva | Kontrak berakhir | Dikabarkan akan bergabung dengan Madrid |
| Rodri | Menuju pintu keluar | City disebut sepakat menjualnya ke Barcelona seharga 73,5 juta euro |
Kepergian Kevin De Bruyne, situasi kontrak Bernardo Silva, serta kabar mengenai Rodri membuat beban pengalaman di tengah lapangan berubah. Kovacic menjadi salah satu pemain yang diharapkan mampu memberikan kestabilan saat pilihan baru mulai masuk ke skuad.
Menurut sport.detik.com, City disebut telah mendatangkan Elliot Anderson untuk menambah opsi di sektor tengah. Klub itu juga dikabarkan tengah mendekati Ayyoub Bouaddi dan Enzo Fernandez.
Kehadiran pemain baru membuka persaingan, tetapi juga menuntut adanya figur yang dapat membantu proses adaptasi. Kovacic memandang pemain senior yang tersisa perlu membimbing skuad muda melewati masa transisi tersebut.
“Saya adalah salah satu pemain tertua di skuad saat ini dan itu tentu sedikit berbeda. Tapi, tentu saja menyenangkan jadi salah satu pemimpin,” ujar Kovacic seperti dikutip Tribuna.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa ia melihat tanggung jawab baru tersebut sebagai bagian dari kebutuhan tim, bukan sekadar status pribadi. Kovacic juga menegaskan bahwa peran kepemimpinan di City tidak hanya berada di pundaknya.
“Saya coba menjadi pemimpin dan panutan di lapangan, lalu kami punya beberapa pemimpin hebat seperti Ruben, Erling, lalu beberapa pemain top,” lanjutnya. Ia menilai City tetap merupakan tim yang siap berjuang bersama dan perlu tampil lebih baik.
Pengalaman panjang Kovacic di klub-klub besar Eropa menjadi modal dalam situasi ini. Sebelum memperkuat Manchester City, ia pernah membela Inter Milan, Real Madrid, dan Chelsea.
Catatan karier tersebut memberi Kovacic pemahaman mengenai tuntutan di tim yang bersaing pada level tertinggi. Pengalamannya juga relevan ketika City harus menata ulang keseimbangan permainan setelah perubahan besar di lini tengah.
Selama membela City, Kovacic mencatatkan 98 penampilan dan 10 gol. Angka itu memperlihatkan bahwa perannya berpeluang berkembang, dari pengatur permainan menjadi salah satu penopang utama kepemimpinan tim.






