Aksara Nusantara Masuk Ruang Digital, Proyek Identitas Baru Indonesia Mulai Didorong

Pemerintah mulai mendorong sosialisasi Aksara Nusantara secara masif sebagai sistem tulisan nasional baru untuk memperkuat identitas visual dan budaya Indonesia. Instruksi itu disampaikan Menteri Kebudayaan RI pada 12 Agustus 2026, setelah pengembangan aksara berlangsung sekitar satu tahun.

Proyek ini tidak hanya dirancang untuk kebutuhan simbolik atau penggunaan pada media cetak. Aksara Nusantara telah dikembangkan agar dapat dipakai pada komputer dan laptop, meski penerapannya di ponsel pintar serta tablet masih disempurnakan.

Kesiapan di ruang digital menjadi salah satu penentu penting bagi masa depan sistem tulisan tersebut. Penggunaan pada perangkat sehari-hari diperlukan agar aksara baru tidak berhenti sebagai penanda budaya, melainkan dapat dipelajari dan digunakan masyarakat secara lebih luas.

Bahasa Indonesia selama ini berfungsi sebagai bahasa persatuan dengan alfabet Latin sebagai sistem penulisannya. Kehadiran Aksara Nusantara diarahkan untuk menambah fondasi kebudayaan nasional yang berakar pada kekayaan aksara lokal dari berbagai wilayah.

Dirancang dari Warisan Lokal dan Kebutuhan Modern

Perumusan aksara ini menggunakan tiga pijakan utama, yakni filologi, linguistik, dan sistem abugida. Ketiga pendekatan tersebut dipakai untuk menjaga hubungan dengan warisan sejarah sekaligus membuat sistem tulisannya relevan bagi penggunaan masa kini.

PilarFokusPenerapan
FilologiManuskrip dan aksara kunoMenggali karakteristik, estetika, serta nilai historis dari berbagai daerah Indonesia.
LinguistikBunyi dan kemudahan belajarMembentuk penulisan yang fonetik, logis, dan dapat digunakan dalam keseharian.
Sistem AbugidaKonsonan dengan vokal bawaanKarakter dasar berbunyi /a/ yang dapat diubah melalui diakritik khusus.

Pendekatan filologi dilakukan dengan menelaah manuskrip dan karakter aksara kuno dari sejumlah daerah. Langkah ini dimaksudkan agar unsur estetika serta nilai sejarah lokal tetap hadir dalam bentuk tulisan yang baru.

Di sisi lain, pendekatan linguistik dipakai untuk menjaga konsistensi hubungan antara bunyi dan bentuk tulisan. Rancangan tersebut diharapkan lebih mudah dipelajari tanpa mengabaikan logika bahasa Indonesia dalam pemakaian sehari-hari.

Ciri utama yang dipertahankan ialah sistem abugida, yakni sistem dengan karakter dasar berupa konsonan yang memiliki vokal bawaan /a/. Bunyi itu dapat diubah melalui tanda atau diakritik khusus sesuai kebutuhan pelafalan.

Melibatkan Kampus, Pegiat Aksara, dan Pemangku Adat

Gagasan pengembangan Aksara Nusantara berawal dari arahan Menteri Kebudayaan RI kepada Keraton Majapahit Jakarta pada 11 Januari 2025. Arahan itu menekankan pelestarian dan pengembangan seni, musik, serta sistem tulisan asli Indonesia.

Proyek tersebut juga berkaitan dengan pengangkatan Pangeran Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Warisan Budaya di Banjar, Kalimantan Selatan. Ia memperoleh gelar Sultan Yusuf Al-Banjari pada 6 Mei 2025.

Di bawah Sultan Yusuf Al-Banjari, dibentuk tim khusus untuk merumuskan sistem tulisan nasional baru itu. CNN Indonesia melaporkan, Keraton Majapahit Jakarta menggandeng ahli aksara dari perguruan tinggi, pegiat aksara, dan pemangku adat.

Jejaring akademik yang terlibat mencakup Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, dan UIN Alauddin. Kolaborasi tersebut diarahkan agar rancangan aksara memiliki dasar keilmuan sekaligus peluang untuk dipakai secara nyata.

Tim juga melakukan uji keterbacaan dan kemudahan menulis pada Juni 2025 dengan melibatkan 20 guru serta pegiat aksara. Pengujian itu menjadi tahap awal untuk menilai apakah bentuk dan mekanisme penulisan dapat dipelajari oleh pengguna.

Masifnya sosialisasi nantinya akan menentukan penerimaan Aksara Nusantara di tengah masyarakat yang telah terbiasa menggunakan alfabet Latin. Pengembangan perangkat digital dan penyempurnaan sistem ketik di ponsel menjadi pekerjaan penting agar proyek kebudayaan ini dapat menjangkau ruang penggunaan yang lebih luas.

Baca Juga