Gen Alpha Tak Mudah Percaya Tren Kecantikan, Ulasan dan AI Jadi Penimbang

Di tengah promosi kecantikan yang bergerak cepat di media sosial, konsumen muda tidak lagi semata-mata mengikuti produk yang ramai dibicarakan. Mereka mulai memeriksa keamanan, kandungan, ulasan pembeli, hingga rekomendasi berbasis AI sebelum mengambil keputusan.

Sikap tersebut semakin penting setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan lebih dari 2,1 juta kosmetik tidak memenuhi ketentuan dalam intensifikasi pengawasan 2026. Nilai keekonomian dari temuan itu mencapai sekitar Rp35,8 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa kemasan menarik dan promosi dari kreator tidak cukup menjadi dasar untuk memilih produk. Konsumen perlu menilai klaim dan keterangan produk secara lebih cermat, terutama ketika informasi beredar singkat dan cepat di linimasa.

AI Menjadi Alat Pembanding

Di China, survei terhadap 1.200 konsumen kecantikan generasi pasca-2000 menunjukkan lebih dari 76 persen responden pernah menggunakan AI untuk membantu keputusan terkait kecantikan atau perawatan kulit. Teknologi ini dipakai untuk menilai kecocokan kandungan, membandingkan merek, dan mempertimbangkan kelayakan pembelian.

Kegunaan AIPersentase Responden
Menilai kecocokan kandungan42,79 persen
Membandingkan produk atau merek39,88 persen
Menentukan kelayakan membeli produk37,23 persen

Namun, AI kecantikan belum menjadi rujukan tunggal bagi konsumen muda. Sebanyak 35,07 persen responden masih mempertanyakan akurasinya, sedangkan 29,44 persen menilai ulasan manusia terasa lebih autentik.

Ketika saran AI berbeda dengan pendapat kreator, konsumen cenderung menggabungkan beberapa sumber informasi. Dengan pola ini, AI berfungsi sebagai perangkat verifikasi tambahan, bukan pengganti pengalaman pengguna lain.

Pendiri Chozan, Ashley Dudarenok, menilai daya tarik AI muncul dari kesan objektif saat teknologi tersebut menganalisis kulit dan memberikan rekomendasi perawatan. Kesan itu membuat AI relevan bagi pengguna yang ingin memperoleh pembanding sebelum mengikuti tren.

Ulasan Pengguna Memiliki Bobot Lebih Besar

Pengalaman pembeli biasa kini dapat memengaruhi kepercayaan lebih kuat daripada promosi yang tampil terlalu sempurna. Pendiri firma konsultasi butik C Cultural, Lisa Zheng, menilai konten yang memperlihatkan produk tidak bekerja sesuai harapan juga dapat dianggap lebih kredibel.

Bagi Gen Alpha, komentar dan ulasan menjadi pemeriksaan awal atas klaim sebuah produk. Mereka tidak hanya memperhatikan tampilan produk, tetapi juga membandingkan pengalaman dari pengguna lain sebelum mempercayai rekomendasi.

Jing Daily mencatat konsumen muda di China memeriksa informasi dari berbagai arah, mulai dari ulasan, komentar, kandungan, hingga saran AI. Kebiasaan ini memperlihatkan bahwa paparan promosi tidak selalu langsung berujung pada pembelian.

Tren Datang saat Mereka Menggulir Layar

Proses mengenal produk kecantikan sering kali tidak diawali dengan pencarian khusus. Dudarenok menggambarkan pola tersebut dengan kalimat, “Mereka tidak mencari, mereka menggulir.”

Produk yang unik, baru, atau menarik secara visual dapat segera menjadi bahan perbincangan di media sosial. Setelah menemukannya, konsumen muda cenderung melanjutkan proses dengan membandingkan komentar serta pengalaman pembeli.

Direktur konsultasi pola pikir WGSN China, Cece Zhu, menyatakan paparan media sosial mempercepat pengenalan anak terhadap dunia kecantikan. Meski demikian, mereka tetap membutuhkan produk dan pengalaman yang sesuai dengan usia.

“Para Alpha adalah konsumen yang sangat reaktif dan berorientasi pada status yang ‘berburu tren’ terbaru,” kata Zhu. Karena itu, kemampuan membaca kandungan, memeriksa klaim, dan mempertimbangkan keamanan kosmetik menjadi perlindungan penting di tengah derasnya rekomendasi digital.

Baca Juga