M Deni Fikri, siswa UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, terpilih mewakili Sulawesi Barat dalam Paskibraka tingkat pusat 2026. Ia akan bertugas dalam upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta.
Pencapaian itu berawal dari persiapan bertahap, termasuk saat nilai latihan tes intelegensi umum yang dijalaninya masih berada pada angka 20. Dengan pendampingan kakak sepupunya, Deni terus memperbaiki hasil latihan hingga nilainya meningkat menjadi 30 pada hari ketiga.
Seleksi Paskibraka Pusat 2026 tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan fisik, psikologis, dan kesehatan peserta. Deni melewati pemeriksaan berkas sebelum mengikuti tahapan seleksi tingkat kabupaten hingga provinsi.
Pada proses tersebut, ia mencatat nilai 95 untuk tes wawasan kebangsaan atau TWK dan 90 untuk tes intelegensi umum atau TIU. Persiapan yang dilakukan mencakup latihan soal mandiri, kemudian hasilnya diperiksa untuk mengukur perkembangan.
| Tahap Tes | Nilai Deni | Fokus Persiapan |
|---|---|---|
| TWK | 95 | Sejarah dan makna Pancasila |
| TIU | 90 | Latihan soal secara bertahap |
Selain TWK dan TIU, seleksi turut mencakup tes kesamaptaan, psikotes, serta pemeriksaan kesehatan. Deni memandang kondisi kesehatan sebagai unsur penting karena tugas dan pelatihan Paskibraka menuntut ketahanan tubuh.
Untuk menjaga stamina, ia rutin menjalani latihan lari, push-up, sit-up, dan shuttle run. Latihan itu juga dipersiapkan untuk menghadapi perubahan cuaca selama menjalankan tugas.
Di tingkat provinsi, Deni masuk dalam tiga besar pasangan putra-putri terbaik bersama peserta dari Polewali Mandar, Pasangkayu, dan Mamuju. Dalam verifikasi tingkat pusat, ia dan Ismi Ulfaida akhirnya dipilih sebagai wakil Sulawesi Barat.
Bagi Deni, kesempatan tersebut berarti membawa nama daerah hingga ke tingkat nasional. “Mewakili daerah itu sangat bangga karena bisa mengharumkan daerah sendiri, terutama di desa saya sendiri,” ujar Deni.
Pelatihan nasional yang diikuti sejak Juli mempertemukan Deni dengan calon anggota Paskibraka dari 38 provinsi. Pertemuan itu memberinya pengalaman mengenal keragaman budaya dan bahasa dari berbagai wilayah Indonesia.
Deni menilai perbedaan latar belakang peserta tidak menghalangi terbentuknya kebersamaan selama masa pelatihan. “Kami tetap satu, tetap saling merangkul, agar angkatan 2026 ini lebih baik dari tahun sebelumnya,” katanya.
Jadwal latihan berlangsung intensif dari pagi hingga petang. Menurut laporan Detikcom, Deni menyebut pelatihan pada tingkat nasional sebagai tahapan yang berat karena menjadi jenjang tertinggi dalam pembinaan Paskibraka.
“Untuk saya, pelatihannya cukup berat, karena ini memang tingkatnya tingkat paling tertinggi, yaitu nasional. Tetapi, bagi saya, ini adalah suatu pencapaian,” ujar Deni.
Keinginan Deni Fikri menjadi anggota Paskibraka telah tumbuh sejak sekolah dasar. Ia mulai tertarik setelah melihat kakaknya bertugas sebagai Komandan Kelompok 17 dalam upacara HUT RI tingkat kecamatan.
Dari pengalaman itu, Deni mempelajari gerakan dasar pengibaran bendera ketika masih duduk di bangku SD. Meski tidak mengikuti ekstrakurikuler paskibra saat SMP, ia tetap melatih kedisiplinan melalui Pramuka dan pernah menjadi pimpinan regu.
Perjalanan menuju tingkat pusat juga dimaknai Deni sebagai kelanjutan perjuangan kakaknya yang pernah gagal pada seleksi Paskibraka nasional. Pengalaman tersebut kini menjadi bekal mental dan fisik bagi Deni untuk mengejar cita-cita berikutnya, yakni masuk Akademi Kepolisian serta memperdalam pemahaman tentang Pancasila.






