Debit Tiber Merosot Setengah Rata-rata, Sisa Jembatan Kuno Roma Kembali Terbuka

Penurunan tajam aliran Sungai Tiber di Roma membuka kembali sisa Jembatan Nero, struktur kuno yang selama bertahun-tahun tersembunyi di bawah permukaan air. Kemunculan bangunan tersebut memperlihatkan dampak nyata dari periode panjang tanpa hujan di ibu kota Italia.

Debit Sungai Tiber dilaporkan berada di bawah 80 meter kubik per detik, sekitar setengah dari rata-rata historis pada periode yang sama. Kondisi ini membuat bagian-bagian jembatan yang berada di dasar sungai kembali terlihat dari permukaan.

Struktur itu dahulu berfungsi sebagai penghubung antara pusat Kota Roma dan wilayah di sisi kanan sungai. Kini, sisa jembatan tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap kondisi air yang semakin menurun.

Debit Sungai Menurun Tajam

Koordinator Pusat Pengelolaan Air di Dinas Perlindungan Sipil Roma, Giovanni Giganti, menyebut situasi tersebut sebagai krisis air yang parah. Menurut dia, aliran Tiber terus menyusut setelah Roma melewati rentang waktu panjang tanpa hujan.

IndikatorKondisi Saat IniPerbandingan
Debit Sungai TiberDi bawah 80 meter kubik per detikSekitar setengah rata-rata historis
Curah hujanMinim selama beberapa pekanTidak mampu menjaga debit sungai

Giganti menjelaskan curah hujan pada musim dingin sebelumnya sebenarnya cukup tinggi. Namun, pasokan air tersebut tidak mampu menahan penurunan debit ketika periode tanpa hujan berlangsung lama.

Surutnya air bukan hanya menandai tekanan pada sistem air kota, tetapi juga mengubah lanskap sungai yang melintasi Roma. Bagian struktur batu kuno yang biasanya tertutup aliran kini dapat diamati kembali.

Nama Nero dan Jejak Masa Caligula

Nama Jembatan Nero digunakan karena letaknya dekat kawasan yang dahulu dikenal sebagai Sirkus Nero. Arena balap kereta kuda itu kini berada di kawasan Vatikan.

Arkeolog Badan Pengawas Warisan Budaya Roma, Antonella Bonini, menjelaskan bahwa Nero merupakan tokoh paling terkenal yang dikaitkan dengan wilayah tersebut. Keterkaitan itu juga berhubungan dengan Sirkus Nero, lokasi yang kini dikaitkan dengan wafatnya Santo Petrus sebagai martir.

“Nero adalah tokoh paling terkenal yang dikaitkan dengan wilayah ini, karena tepatnya di Sirkus Nero, tempat yang sekarang menjadi lokasi Vatikan, Santo Petrus meninggal sebagai martir,” ujar Bonini. Meski demikian, nama tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Nero membangun jembatan itu.

Para arkeolog memperkirakan struktur tersebut justru dibangun pada masa Kaisar Caligula, paman Nero. Perkiraan waktunya berada di sekitar tahun 39 Masehi, sehingga keberadaan jembatan itu diduga lebih tua daripada periode pemerintahan Nero.

Dengan demikian, sebutan Jembatan Nero lebih berkaitan dengan posisi geografisnya di dekat kawasan bersejarah itu. Penamaan tersebut tidak menjadi bukti pasti mengenai masa pembangunan struktur.

Warisan Kuno di Tengah Krisis Air Roma

Liputan6.com yang mengutip AP News melaporkan bahwa sisa jembatan itu kembali muncul akibat rendahnya permukaan Tiber. Struktur tersebut sebelumnya tertutup air selama bertahun-tahun dan tersimpan di dasar aliran sungai.

Bagi arkeolog, kemunculan kembali Jembatan Nero menegaskan bahwa jejak infrastruktur Romawi kuno masih berada di bawah sungai. Jembatan itu menjadi pengingat mengenai hubungan historis antara pusat kota dan kawasan di seberang Tiber.

Di sisi lain, pemandangan tersebut memperlihatkan kontras antara warisan bersejarah Roma dan persoalan ketersediaan air yang sedang dihadapi kota itu. Selama curah hujan belum kembali meningkatkan aliran sungai, bagian Jembatan Nero yang terbuka berpotensi tetap terlihat di tengah Tiber yang menyusut.

Baca Juga